GELOMBANG KEMENANGAN PKS

Karakter PKS mengkristal dan mencapai kulminasi dalam Pemilu 2004. Sejak itu perkembangan nasyid bergulir cepat, sehingga muncul genre alternatif. Ada nasyid parodi (Gondes Semarang) yang mengadopsi teknik Project P.Nasyid “klangenan” seperti Justice Voice (Yogyakarta) dan nasyid rap berbahasa Sunda (Ebiet Beat A dari Bandung).

Banyak pengamat mencermati kebangkitan Partai Keadilan Sejahtera sebagai bukti kemampuan partai politik (parpol) Islam untuk mengemas isu-isu publik, semisal antikorupsi dan pelayanan sosial.

Padahal, selama ini parpol Islam dan partai berbasis agama pada umumnya, terpenjara isu-isu religius dan ideologis. Kemenangan PKS bersama mitra koalisinya dalam pemilihan kepala daerah terkini di Jawa Barat (PAN) dan di Sumatera Utara (PPP dan PBB) menunjukkan partai Islam bisa menandingi partai nasionalis dan menangkal pragmatisme dalam derajat tertentu.

Analisis pengamat lebih terfokus pada efektivitas mesin politik atau popularitas kandidat. Belum ada yang secara serius menelaah faktor sosial-budaya.Kebangkitan PKS didukung lahirnya generasi baru di era transisi (1998-2008). Generasi ini telah mematahkan ambisi para elite status quo.

Kita bisa menyebutnya generasi AAC (Ayat-ayat Cinta)—meminjam fenomena budaya terkini, sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazi yang terjual 450.000 kopi dan filmnya ditonton hampir 4 juta orang. Generasi ini dicirikan sifat kosmopolitan,semisal Fahri, yang kuliah di Universitas Al-Azhar (Mesir) dan bergaul dengan kawan berbeda latar: Kristen Koptik (Maria), modern Turki (Aisha), tradisional Arab (Naora), selain akrab dengan gadis Indonesia (Nurul).

Terlepas dari alur cerita AAC yang melankolis, hingga Presiden SBY menitikkan air mata ketika menontonnya, kisah Fahri adalah sublimasi dari pengalaman nyata ribuan kaum muda Indonesia yang kuliah/bekerja di mancanegara.Apa hubungannya dengan PKS? Pertama,pendiri PKS adalah kaum muda yang menikmati berkah pendidikan di era Orde Baru, sebagian di antara mereka alumni mancanegara.

Berbeda dengan tesis Sadanand Dhume (Yale Global Online, 1 Desember 2005) yang menyebut PKS sebagai ancaman nasional, lebih berbahaya lewat suara (ballot) ketimbang senjata (bullet).Dhume yang mantan wartawan Far Eastern Economic Review itu berkesimpulan PKS adalah partai radikal karena kadernya kebanyakan alumni Timur Tengah. Itu konklusi menggelikan karena sebagian besar pimpinan PKS bukan alumni Timur Tengah. Ada yang lulusan perguruan tinggi di Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Presiden pertama PK, Nur Mahmudi Ismail adalah alumni Universitas Texas. Presiden kedua,Hidayat Nur Wahid,memang alumni Universitas Madinah. Presiden pertama PKS yang jarang disebut orang, Muzammil Yusuf, produk asli Universitas Indonesia, walau sempat kursus bahasa Inggris di Australia dan kursus bahasa Arab di Mesir.

Presiden ketiga PKS, Tifatul Sembiring, yang menggantikan Hidayat, tercatat sebagai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Trisakti. Dengan formasi seperti itu,terbantahkan pandangan yang menyebut PKS “partai fundamentalis”lantaran pimpinannya lulusan Timur Tengah, seperti simpulan Walter Lohman (The Heritage Foundation, 28 April 2008 ) yang mengikuti logika dangkal Dhume.

Simpulan lebih masuk akal adalah kecenderungan kosmopolitanisme PKS amat kuat karena tergolong generasi yang terpapar informasi global. Saat ini, sebagian kader PKS menyebar di berbagai negara Eropa, selain ada yang kuliah di Australia, Singapura,dan Taiwan. Fakta kedua, penulis novel AAC Habiburrahman El -Shirazy termasuk lingkungan dekat PKS.

Kang Abik yang menjadi guru di pesantren di Jawa Tengah itu mengakui kedekatannya dengan komunitas tarbiyah amat berperan dalam proses kreatifnya. Habib tercatat sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP), asosiasi penulis muda yang beranggotakan 2.000 penulis tersebar di 125 kota. Menurut Taufik Ismail, “FLP adalah laboratorium penulis muda terbesar dalam sejarah sastra Indonesia.”Tentu saja FLP tak berhubungan secara organisasional dengan PKS karena sifatnya nonpartisan.

Namun,publik mengetahui kader dan simpatisan PKS sangat aktif membentuk lembaga sosial dan asosiasi profesional di berbagai bidang. Perluasan pengaruh lembaga itu pada gilirannya menentukan pembesaran politik PKS. Perlu dicermati secara khusus kreativitas budaya yang dipelopori PKS seperti terwakili dalam acara milad yang diikuti 150.000 simpatisannya.

Dalam atraksi panggung tampil grup nasyid Izzatul Islam, Ruhul Jadid, Shoutul Harakah, dan Ebiet Beat A Nasyid adalah grup acapella yang direvitalisasi komunitas PKS sejak 1980-an. Berbeda dengan kekuatan politik lain yang tak peduli perkembangan seni-budaya, apalagi gerakan politik Islam modernis yang disalahpahami suka menentang tradisi,maka PKS mengemas substansi budaya Islam dengan unik. Kreativitas mereka lebih dahsyat dibandingkan capaian politik yang diraih dalam pemilu.

Pada 1980, awal kemunculan “nasyidpergerakan” denganteks Arab yang diadopsi dari Mesir dan Palestina. Nasyid seperti “Ghuraba” (Kelompok Asing) disenandungkan mahasiswa LIPIA, kampus bahasa Arab yang disponsori Kedubes Arab Saudi.Anis Matta (Sekjen PKS) dan Ulil Abshar Abdalla (pendiri Jaringan Islam Liberal) termasuk alumni perguruan yang dituding pengamat asing sebagai penyebar ideologi Wahabisme.

Sepuluh tahun kemudian, nasyid marak berwarna “populer” seperti kelompok Snada (Jakarta) dan Suara Persaudaraan (Malang). Begitu ngetopnya Snada hingga diundang DPP PDIP saat meresmikan Baitul Muslimin. Di samping kelompok domestik tumbuh subur, grup nasyid Raihan asal Malaysia juga berebut pasar Indonesia.

Penggemar nasyid semakin luas kemudian membuka pasar baru bagi kemunculan lagu rohani.

Sulis dan Haddad Alwi dengan salawat Nabi serta Opick dengan pop religius. Pascareformasi, tampil “nasyid cadas” dipelopori Izzatul Islam (Depok). Tema lagunya seputar perjuangan warga di daerah konflik Maluku,Poso, dan Aceh. Gelombang nasyid cadas yang mengentak-entak dengan suara perkusi dilengkapi Ruhul Jadid (Depok) dan Shoutul Harakah (Bandung).

Karakter PKS mengkristal dan mencapai kulminasi dalam Pemilu 2004. Sejak itu perkembangan nasyid bergulir cepat, sehingga muncul genre alternatif. Ada nasyid parodi (Gondes Semarang) yang mengadopsi teknik Project P.Nasyid “klangenan” seperti Justice Voice (Yogyakarta) dan nasyid rap berbahasa Sunda (Ebiet Beat A dari Bandung).

Nasyid rap-Sunda ini dari sudut pandang sosial-budaya turut mengangkat popularitas pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih Jawa Barat, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Komunitas PKS telah menembus sekat budaya yang selama ini mengerangkeng partai Islam atau partai berbasis agama. PKS menjadi contoh, betapa partai politik dapat membangun basis sosial baru dan menawarkan wawasan budaya alternatif. (*)

Sapto Waluyo Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform

 

~ by VIQEN on July 19, 2008.

6 Responses to “GELOMBANG KEMENANGAN PKS”

  1. subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar, astaghfirullahal azim
    semoga prestasi2 besar ini tidak membuat kita ghurur, sombong dan lupa diri
    kita harus senantiasa melakukan muhasabah dan evaluasi diri baik itu tataran pribadi maupun kolektif
    perjuangan kita masih panjang.
    pendakian ini terasa semakin terjal, onak duri dan krikil2 tajam semakin bermunculan dari seluruh penjuru mata angin
    mari kita kumpulkan segenap kekuatan kita
    dengan senantiasa menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan
    selamat terus berjuang
    Allahu Akbar

  2. Semoga kita tetap Istiqomah, walo di dunia nyata dan dunia maya, makar2 blak camphaingn sangat luar biasa hingga hampir membuat kita kehabisan kreatifitas. bayangkan saja jika setiap langkah ditiru atau “dilelewe”. cukup menguras kesabaran dan melatih kelegawaan. Ya Alloh mudahkan semua langkah kami……wanshurna ‘alaihim ,

  3. saya juga mengucapkan syukur alhamdulillah atas semua berkah nikmat ini. PKS insya Allah akan semakin maju dan mengakar. Sekedar informasi menurut rekan saya di kota Bogor yang akan melaksanakan pilwakot pada 25 oktober 2008, alhamdulillah PKS dengan anggota DPRD sebanyak 10 orang telah berhasil memasangkan incumbent dengan kang Ru’yat (wakil ketua DPRD jabar dari PKS) sebagai wakilnya. Padahal incumbent diusung juga oleh golkar dan PDIP yang kursinya di DPRD saat ini adalah golkar 11 orang & PDIP 10 orang. Sehingga pengusung incumbent bisa dikatakan sebagai koalisi besar. Tentunya ini sudah menjadi kemenangan politis bagi kita terhadap golkar & PDIP. Apalagi katanya ada acara launching besar2an di mall termegah di Bogor & penyebaran spanduk pasangan yang baru dilakukan oleh kita. Tentunya ini membuktikan bahwa mesin politik PKS memang sudah teruji jika dibandingkan dengan golkar atau PDIP. Bahkan ketua DPD PKS kota bogor (maaf saya lupa namanya) berniat akan memecahkan rekor muri untuk perolehan suara pilwakot sampai 75%. Proyeksi yang dahsyat yang mdh2an tercapai sehingga tak ada lagi yang meragukan mesin politik PKS. Amin ya robbal alamin..

  4. tong ujub..tong takabur…jalan menuju kemenangan islam masih panjang…jangan puas sesaat, sementara kemaksiatan masih merajalela…

  5. […] GELOMBANG KEMENANGAN PKS […]

  6. bangkit negriku harapan itu masih ada. kep istiqomah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: