Kontrak Kepemimpinan (Aqad Imamah)

 

Aqad imamah (kontrak kepemimpinan) adalah aqad wukalah /niyabah (perwakilan) dari umat. Mengapa harus demikian?

 

Karena seorang pemimpin adalah mewakili kepentingan bersama. Dia harus merepresentasikan kepentingan semua warga yang dipimpinnya sampai semua warganya itu memang merasa terwakili.

 

Namun tentu saja untuk memuaskan semua kepentingan setiap warganya itu merupakan suatu hal yang tidak mungkin. Sehingga dibutuhkan kecerdasan dari seorang pemimpin untuk mengambil simpul kepentingan semua warga itu dan dirumuskan menjadi kepentingan bersama. Kepentingan bersama inilah yang diatas kepentingan pribadi atau golongan. Atau dengan kata lain setiap warga harus mengorbankan atau menyerahkan kepentingan pribadinya untuk memenuhi kepentingan bersama.

 

Dan kepentingan bersama inilah yang dipegang oleh seorang pemimpin. Kepentingan bersama yang disusun oleh hak-hak masing-masing warga yang telah diserahkan. Berkaitan dengan menyerahkan sebagian haknya, maka seorang warga atau setiap individu yang akan menunjuk pemimpinnya harus menyerahkan kepada pihak yang dipercaya.

 

Jadi setiap warga yang akan menunjuk pemimpin harus mendapatkan kontrak kepemimpinan. Sebagai pegangan atas dilepaskannya hak-hak pribadi individu warga tersebut. Dan kita patut curiga ketika seorang calon pemimpin tidak mau dan tidak berani melakukan kontrak kepemimpinan ini.

 

Artinya, hak warga yang akan dipimpinnya pasti diambil tapi dia tidak berkomitmen mengelola hak yang diambilnya itu untuk dikembalikan menjadi layanan atau sesuatu yang akan diperjuangkan.

 

Logikanya sebenarnya sederhana, mereka yang melakukan kontrak untuk berkomitmen saja belum tentu bisa mewujudkan, apalagi yang tidak berkomitmen. Setidak-tidaknya mereka yang berkomitmen mereka akan terus dikejar-kejar komitmennya. Sampai kemudian nampak ditengah-tengah warga yang dipimpinnya sang pemimpin ini merasa berat. Kemudian bersama-samalah semua warga bersama pemimpinnya dalam satu irama mewujudkan kepentingan bersama yang dijamin bisa mengembalikan kepentingan pribadi yang dilepas tadi di awal. Bahkan dengan pengembalian yang lebih baik.

 

Tentu saja dengan demikian tugas seorang pemimpin itu menjadi berat. Dan memang begitulah tugas seorang pemimpin. Seorang imam posisinya sama dengan orang umum kecuali ia lebih berat tanggung jawabnya. Makanya dalam khazanah pengetahuan Islam tentang kepemimpinan ini adalah penugasan yang berat dimana akhirnya tidak mungkin orang berebut untuk itu.

 

~ by VIQEN on July 22, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: