Ruhiyah dan Rupiah di Ramadhan Penuh Berkah

 

Meraih kemenangan? Itu yang kembali kita tanyakan pada Ramadhan ini. Karena skor sesungguhnya kita kalah 0-3. Dan terjadi setiap tahun.

Ketika menjelang Ramadhan, seolah-olah menjadi kebiasaan atau budaya, maka harga-harga kebutuhan melambung tinggi. Sebenarnya ketika hal itu menggerakkan ekonomi umat, maka itu semua tidak menjadi masalah. Artinya, setiap tahun dengan hadirnya Ramadhan semakin memperkuat posisi ekonomi umat. Dari tahun ke tahun masalah perekonomian umat Islam menjadi semakin membaik.

Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Kebanyakan umat Islam masih bergelimang himpitan kebutuhan ekonomi yang mendasar, produktifitas yang keteteran, dan penyakit mentalitas yang kronis. Dari tahun ke tahun perputaran ekonomi tidak menggiring umat secara keseluruhan mendudukannya kepada pondasi ekonomi yang kokoh. Harus kita akui, berkah Ramadhan dari sisi peningkatan rupiah lepas dari kita. Padahal Ramadhan itu original milik umat Islam. Bukankah itu menunjukkan kita kebobolan 0-1.

Yang lebih mencengangkan adalah, ketika perputaran ekonomi yang sistematis itu tidak melibatkan umat Islam secara signifikan, malah konsumsinya meningkat berlipat-lipat. Hakikat puasa sebagai metode menahan hawa nafsu seolah-olah terbantahkan dengan arus konsumsi yang gila-gilaan. Sekali lagi, ini tidak menjadi masalah ketika input yang spesial untuk menyambut bulan spesial ini melahirkan output yang spesial juga. Karena kita ingin ibadah habis-habisan maka kita siapkan asupan nutrisi yang lebih berkualitas. Sehingga diharapkan keimanan kita meningkat. Dan hasil akhirnya adalah semakin banyak orang Islam yang berIslam dengan baik, keshalehan umat ini semakin kental, penolakan kepada kemaksiatan semakin berbondong-bondong dan solid, dsb.

Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Sebagai suatu komunitas, kaum muslim ternyata didukung atas individu yang masih lemah keberagamaannya. Ketika dilakukan tes baca Al-Qur’an pada suatu sampel ternyata di atas 50% bermasalah. Jadi jangankan membentuk ruhiyah yang kental. Modal untuk memulai interaksi ke alam ruhiyahnya saja masih belum dimiliki. Sangat disayangkan, ditengah konsumsi untuk pemuasan duniawi digelontorkan sebagai berkah dari Ramadhan, kembali umat ini tidak bisa mengambil manfaat untuk meningkatkan ruhiyahnya. Padahal Ramadhan itu original milik umat Islam. Bukankah itu menunjukkan kita kebobolan 0-2.

Yang lebih menyedihkan lagi, ketika kita sudah kebobolan 0-2, ternyata kita sambut Ramadhan ini dengan penurunan kerja-kerja kita. Rasanya seperti argumen yang benar ketika masuk bulan Ramadhan kita menghormatinya dengan mengurangi jam kerja. Masuk boleh agak siang dan pulang boleh agak lebih cepat. Namanya juga bulan Ramadhan.

Kembali itu tidak menjadi masalah ketika kita menjadi lebih sibuk mencari ilmu dan menambah ’amal kebaikan. Tapi kenyataannya hanya menambah jam tidur, waktu istirahat, kesempatan berleha-leha, mencari cara untuk mengisi waktu biar tidak terasa puasanya, dsb. Maka yang muncul adalah budaya ngabuburit. Yang tema utamanya melakukan kegiatan yang bisa melupakan kalau kita lagi mengalami hal berat, yakni berpuasa. Logikanya dimana, ketika kita harus menyambut kedatangan bulan mulia, tapi kemudian harus kita lupakan.

Rasulullah sendiri menandai Ramadhan ini dengan kemenangan Badar. Sebuah kemenangan perang yang fenomenal. Artinya puncak aktifitas ada di sana. Badar sendiri dimulai dari motivasi penguasaan ekonomi yang diperluas menjadi penguasaan kebenaran atas kebathilan. Tentu saja kegemilangan seperti itu tidak bisa kita raih dengan mental kerja yang biasa atau bahkan diturunkan kadarnya.

Kebanyakan umat Islam masuk Ramadhan bagaikan tuan besar yang siap berleha-leha. Sementara pihak lain memasuki Ramadhan ini dengan kerja keras berlipat-lipat, dengan perhitungan bisnis yang ketat, dan dilakukan dengan penuh semangat. Kira-kira siapa yang akan lebih mendapatkan berkah Ramadhan, setidaknya bagi penguasaan alam semesta ini, bagi kepemilikan sumber daya alam dari Allah ini. Yang sebenarnya kaum musliminlah pewarisnya. Apakah kita sudah siap menjadi ahli waris? Padahal Ramadhan itu original milik umat Islam. Bukankah itu menunjukkan kita kebobolan 0-3.

Tidak ada yang sia-sia dari segenap penciptaan Allah. Semua hadir ketengah-tengah kita sebagai bentuk pembelajaran. Tinggal kita bertanya, apakah iman kita sanggup menerima ini sebagai pembinaan-Nya. Kita mulai dari tahun ini dengan menjadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terbaik. Dimana dari tahun ke tahun kita bisa muncul menjadi pribadi yang semakin mandiri dan semakin merdeka.

Caranya kita harus kerja keras. Hanya itu yang saat ini kita miliki. Waktu kita habiskan untuk meningkatkan ibadah langsung kepada Allah. Dan kita habiskan lagi untuk meningkatkan muamalah kita dalam pekerjaan atau perniagaan. Kalau perlu jangan terpikirkan untuk istirahat atau bahkan tidur. Biarkan kelelahan yang luar biasa saja yang menghantarkan kita menutup mata untuk tertidur. Sehingga tidur kita dinilai juga sebagai ibadah.

Dan itulah sejarahnya tidur yang dinilai ibadah. Tidur atas kerja keras yang luar biasa. Kerja keras yang meningkatkan penguasaan ekonomi untuk kebaikan umat (berinfaq, shadaqah, dll). Kerja keras yang meningkatkan penghambaan kepada Allah dengan ibadah langsung ataupun ibadah muamalah di alam semesta ini. Kerja keras yang membentuk pribadi penuh energi vitalitas, kedahsyatan inovasi, ledakan potensi, efektifitas dan efisiensi yang tinggi, ilmu-ilmu yang mulia, dsb. Tidak ada yang hilang dari segenap perjuangan dan pengorbanan kita. Tidak ada yang terpisah dari ruhiyah dan rupiah untuk Ramadhan yang penuh berkah.

Apa yang bisa kita kerjakan sebagai suatu komunitas untuk keluar dari permasalahan ini?

 

 

 

~ by VIQEN on September 6, 2008.

11 Responses to “Ruhiyah dan Rupiah di Ramadhan Penuh Berkah”

  1. assalamualaikum
    emmm Rasanya persoalan umat islam tidak hanya tugas PKS, PKS hanyalah sebuah tungku api semangat untuk menyebarkan dakwah. Tugas setiap muslim adalah membuat kelompok-kelompok kajian yang mengkaji keislaman secara komprehensif, dunia akhirat, menjadi bagian dari pemecah solusi problem masyarakat.🙂

  2. assalamualaikum

  3. Muslim dengan segala hawa nafsunya mendapat perlawanan sengit di bulan Ramadhan ini. Sampai-sampai kedudukan selalu sama tiap tahunnya. 0-3 untuk Muslim. Tiap tahun ada pertandingan ulang, hasilnya selalu sama.
    Latihan yang giat selama 11 bulan adalah kunci jawabannya. Kita hanya berlatih selama sehari-dua hari sebelum penyelenggaraan Copa Romadhona. Paling banter setengah bulan atau paling pol 2 bulan sebelumnya. Lalu, yang 9 bulan kita berleha-leha dengan kenikmatan duniawi.
    Jazakumullahu sudah berkunjung. Semoga silaturrahmi tetap terjaga.

  4. Tulisan yang mengena sekali, mas Andri..🙂 Bagus untuk mengingatkan kita kaum muslim ini, yang masih saja sering salah memaknai bulan puasa Ramadhan.

    Harapan saya, dan tentunya kita semuanya, bahwa Ramadhan bisa semakin memberikan keberkahan dan keberlimpahan hidup.

    Salam Ramadhan,
    Wuryanano

  5. dengan usaha bersama, bisalah itu kita susun serangan balik dengan tanpa meremehkan pertahanan, di babak kedua nanti bisa kita cetak 3 gol balasan untuk kemudian menang di saat yang tepat

  6. Yup.Yup… setuju.
    Trimakasih Linknya. ^kunjungan balik. Kapan2 mampir lagi.
    ^_^

  7. Sekarang kita racik strategi jitu. Kita bls kebobolan gawang di sisa 15hari ini. Perjalanan blm berakhir kawan. Coz, pertahanan terbaik adalah menyerang (loh!? kok malah jd bal-balan ki piye…😆 ).

    Bulatkan tekad, Ramadhan 2008 hrs jaaauhh lebih baik dari Ramadhan sebelumnya.
    Ma’an najah!!!

  8. Dengan di tingkatkannya keimanan & ketaqwaan kita, saya yakin kita mampu melalui semua hal yg menghambat Ibadah kita…InsyaAlloh kita menang telak heuheu..😆
    Salam kenal, trimakasih tlah sudi b’kunjung k blog sederhanaku…😎😉

  9. […] https://trendibandung.wordpress.com/2008/09/06/ruhiyah-dan-rupiah-di-ramadhan-penuh-berkah-2/ […]

  10. He.. he… tulisan yang bagus, Mas.
    Memang kalau pertandingannya beregu, kita bisa saja kalah 0-3.
    Tapi kalau perorangan, pasti ada juga yang menang.
    Siang jadi saudagar, malam jadi ‘abid.

    Salam,
    Choirul Asyhar

  11. Assalamu’alaikum

    afwan ya, baru sempat mampir

    keep husnudzon =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: