MENGANCAM ALLAH

 Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat , syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. Al Anfal:48)

 

Asbabun nuzul ayat ini menceritakan kepada kita tentang adanya pendukung, baik terhadap pasukan Abu Jahal atau pasukan Rasulullah. Sebagai sejarah kejadian ini bisa berulang. Ayat ini menggunakan kata ingatlah. Menunujukkan fase waktu setelah kejadian.

Pada awal pertempuran Badar sudah kita fahami bahwa posisi Rasulullah dalam perhitungan militer berada dalam kondisi tidak berimbang. Kemudian Rasulullahpun mendengar do’a yang disampaikan dengan sangat percaya diri oleh Abu Jahal. Yakni, “Ya Allah siapa diantara kami yang paling benar maka menangkanlah”.

Apa yang membuat Abu Jahal yakin, berani dan bersemangat berdo’a seperti demikian. Pertama karena mereka berada dalam kondisi yang solid. Mereka sebelumnya berada dalam kegoncangan. Karena mereka telah membunuh kaumnya Suroqoh. Kemudian mereka khawatir Suroqoh menyerang mereka, sebagaimana kebiasaan yang ada pada saat itu.

Kedua, karena adanya dukungan dari setan yang datang menyerupai Suroqoh bersama bala tentaranya yang datang dengan menyatakan bahwa kali ini mereka berada di pihak Abu Jahal. Disamping itu dukungan dari Iblis yang menyerupai Bani Nudraz.

Dan Ketiga dukungan datang juga dari kaum munafiq dan dari muslim yang keimanannya lemah yang ketika melihat kaum muslimin sedikit mereka merasa kaum muslimin telah tertipu oleh agamanya.

Setelah mendengar do’a Abu Jahal itu maka Rasulullah membaca do’a pamungkas yang mengancam Allah bahwa kalau pasukan kaum muslimin ini kalah maka tidak ada lagi yang menyembah Allah. Saat itulah Allah pun menurunkan pasukan pendukung.

Kemudian kedua pendukung pasukan yang bertentangan ini bertemu. Ketika setan melihat dan memandang Jibril, serta merta ia lari ketakutan. Setan lari karena ia takut akan siksa Allah turun pada saat itu. Dan disebutkan dalam ayat ini “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”.

Di mata pasukan Abu Jahal maka ini merupakan pukulan berat. Suroqoh yang tadinya mendukung dan memberi semangat bahwa pasukan Abu Jahal akan menang karena jumlah mereka banyak, ternyata lari dan meninggalkan mereka.

Sehingga setelah perang selesai muncullah statemen bahwa kekalahan Abu Jahal di perang Badar ini adalah karena larinya Suroqoh. Namun ketika pasukan Abu Jahal ini pulang dan bertemu dengan Suroqoh yang asli baru mereka sadar bahwa Suroqoh yang bersama mereka di perang Badar adalah setan.

Jadi momentum ini merupakan episode yang menjelaskan tentang adanya dukungan terhadap pasukan yang bertempur antara pasukan kebenaran dan pasukan kebathilan. Dan kejadian ini bisa terjadi berulang, asal terpenuhi syarat-syaratnya. Bahwa setan bisa muncul menjadi seorang tokoh dan mendukung pasukan musuh. Sementara kaum muslimin mendapat pertolongan dari Allah dan dimenangkan karena rahmat Allah.

Sampai hari ini setan atau iblis masih bisa berperan sebagai apa saja, sebagai tokoh siapa saja dan datang kepada manusia untuk menggoda dan menyesatkan. Setan itu adalah lambang bagi mereka yang keluar dari rahmat Allah, dan mereka bisa ada disekitar kita dan melancarkan serangan kepada kita untuk mengajak kita kepada kesesatan dan salah langkah.

Sementara pertolongan hanya datang dari Allah. Bukan karena kalimat dan kata-kata dalam do’a kita. Tapi karena suasana hati seorang muslim yang berhubungan dengan sangat intim berkomunikasi dengan Allah. Sangat dekat dengan Allah, seperti saat Rasulullah mengancam Allah.

Sikap kita dengan akan adanya setan disekeliling kita yang siap menyerang kita, bukan berarti kita sibuk memilah-milah mana orang atau pihak yang berperan sebagai setan atau bukan. Tapi kita sibuk dengan perbaikan diri kita sendiri. Terus memacu suasana ruhiyah yang semakin kental dan semakin akrab dengan Allah SWT, sampai kita bisa ”ngancam” sama Allah seperti Rasulullah waktu itu. Di Ramadhan ini kita belajar, disaat setan tidak memiliki suasana yang kondusif untuk menggoda kita.

~ by VIQEN on September 12, 2008.

9 Responses to “MENGANCAM ALLAH”

  1. maaf Kang, tapi saya belum dapat mengambil makna positif dari kata “Mengancam Allah” ini, mohon agar dijelaskan dengan tidak menggunakan makna kiasan untuk kata mengancam,,

    saya riskan dengan orang awam seperti saya jika membaca kata tersebut, makna yang dihasilkan adalah,

    ‘Berani benar Rasulullah sehingga mengancam Allah?’
    ‘Sedemikian lemahkah Allah sehingga takut akan ancaman Rasulullah?’

    Sekali lagi maafkan saya, orang awam ini..
    hanya tidak ingin orang awam lain menilai salah tentang nilai yang terkandung dalam cerita ini..

    -tolong dihapus jika terdapat kata2 yang tidak pantas

  2. @Rully Patria
    Tulisan ini saya sarikan dari ceramah seorang ustadz yang ilmu dan kapasitasnya tidak diragukan. Dan kalimat itu juga yang beliau pakai, dan kemudian saya gunakan untuk judul tulisan ini.
    Dan saya berpikir, kita dengan ALLAH harus mempunyai suasana kedekatan yang terus meningkat, jauh melampaui kedekatan kita dengan seorang teman, sahabat, ibu, ayah, istri, anak, dan siapapun mereka. Tentu saja di sana tetap ada rasa penghormatan dan pemuliaan yang luar biasa dari kita, karena kita mengenal betul posisi ALLAH atas kita.
    Maka karena kedekatan itu kita bisa mengadu, menangis, mengeluh, bercanda, ancam-mengancam (untuk kebaikan dan dengan kebaikan), rindu, cinta, dan segala rasa yang fitrah manusiawi lainnya. Sehingga kita pun merasa dipeluk, dituntun, dipelototin, ditegur, dijaga, dibantuin, dan sebagainya.

  3. See a bias power of the big boss siting up there [yes indeed for i’m lack on comperhendg], kinda intersection of who the maker of the rule dealing with fools really is.

    heuheu, mksud gw wlwpn beliau tidak mengancam tuhan siapakh yg tetap menang perang?:P

  4. Cool.. =),
    temennya suhe yah? salam kenal.. ^_^

    -keujanandaripagi

    @ su : “heuheu, mksud gw wlwpn beliau tidak mengancam tuhan siapakh yg tetap menang perang?:P”

    yah, jawaban guah c “siapakah yang pada akhirnya tetap mengancam tuhan :P?” heheh..😛

    (kalam rese nih bikin loop.. ^^!)

  5. yup setuju,

    terkadang secara tidak sengaja dan tanpa sadar, kita sering ‘mengancam’ Allah dalam doa…

    contohnya : Ya Allah, tolong jadikanlah dia jodohku, jika jauh dekatkanlah, jika dekat maka semakin dekatkanlah padaku, jika dia bukan jodohku maka jadikanlah dia jodohku, bila dia memang untuk orang lain maka putuskanlah mereka, supaya dia bisa bersamaku…
    *selain ‘mengancam’ doa ini juga maksa.com bgt*

    no offense lho ^_^

  6. aduh nice post🙂
    mayan elmu baru..nuhun pisan kang, sakantenan minal aidin wal faidin nyak🙂

  7. Kalau ada yang mengancam Allah pasti ada yang membelanya, yang jelas yang membela bukan sejenis FPI cs🙂

  8. jadi supaya ga terkesan mengancam atau maksa (komen olvy), mending ga usah berdoa aja… atau doanya dalam hati aja kali yahhh🙂

  9. […] MENGANCAM ALLAH […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: