JUST DO UP

Dalam suatu kesempatan saya mengikuti beberapa kali tayangan reality show tentang pencarian orang yang siap menolong. Seperti biasa relawan yang butuh pertolongan kelalang­-keliling ke sana kemana mencari seorang pahlawan. Dia minta tolong untuk dibelikan obat untuk ibunya yang sakit. Harganya lumayan. Jadi orang juga bakal mikir kalau tiba-tiba ada yang tidak dikenal ujug-ujug minta bantuan.

Ceritanya si relawan ini terus menawar-nawarkan pahala beramal kepada setiap orang. Dia terus mencari sang penolong. Seorang penolong yang siap bertindak merogoh kocek. Seorang infaqer sejati yang keberaniannya meluaskan segenap kesempitan dompetnya. Seorang pemberani yang siap menanggung resiko bila ia harus memberikan pertolongan. Seorang yang hatinya sedemikian halus sehingga mudah tersentuh dengan kesulitan orang lain.

Banyak orang sudah ia tawarkan. Berbagai karakter manusia lewat dihadapan dengan sangat vulgar dan membuat mengelus dada. Gambaran kekeringan hubungan antar manusia semakin nyata di hadapan.

Singkat cerita, dalam tayangan itu sampailah ia kepada seorang ibu pedagang kue surabi yang sederhana di depan sebuah sekolah. Dari kondisi jualannya tentu kita tidak bisa berharap banyak. Mungkin untuk hidup sehari-hari ia menaruh harapan kepada jualan surabinya. Rasanya masa depannya tidak dijamin oleh riset pasar yang bisa menentukan prospek jualannya. Atau dijamin oleh penghasilan rutin di awal bulan.

Namun, kejadian berikutnya sungguh membuat hati lebih menjerit dan bertasbih atas tawakal yang Allah hujamkan kepada hati sang ibu penjual surabi itu. Dengan sangat ringan kemudian ia mengambil dompet dan meninggalkan dagangannya. Kemudian pergi mengantar relawan untuk membelikan obat disebuah apotek.

Ternyata sang hero tidak berjubah merah atau memakai topeng hitam. Tapi hanya seorang ibu penjual surabi yang sederhana. Sesederhana keinginannya. Yakni hanya ingin selalu menolong orang lain. Sesederhana harapannya yakni berharap Allah selalu menolongnya. la sangat mengerti rasanya sebuah kesulitan. Ia sangat faham posisinya di hadapan Allah.

 

Hidup Mudah Rusak dan Hancur

Siapa yang berani jamin kehidupan kita di masa depan. Siapa saja akan merasakan kekhawatiran atas ketidak jelasan masa depan. Kesehatan dan keamanan yang dirasakan saat ini belum tentu bersama kita terus

Kecelakaan yang terjadi di jalan raya akhir-akhir ini, misalnya. Bukan bermaksud menakut­-nakuti, tapi siapa. yang merasa yakin bahwa diri kita bisa dijamin bebas dari marabahaya. Seorang yang biasanya bikin kita terbahak-bahak kemudian bisa menjadi orang yang membuat kita merasakan kengerian luar biasa. Kota yang aman bisa dalam hitungan detik menjadi porak poranda. Sahabat yang biasanya bareng sehari-hari kemudian menjadi tergolek di ruang ICU.

Kita mungkin sering lalai, bahwa unsur penopang hidup kita serba lemah. Semua organ tubuh kita tidak selamanya kuat dan handal untuk dipakai. Silakan perhatikan bentuk dan kondisinya seperti apa. Jantung tidak boleh bocor. Paru-paru tidak boleh rusak. Lambung ginjal harus berfungsi.

Sementara itu lingkungan luar atau tindakan kita seringkali tidak menjamin organ tubuh kita senantiasa berfungsi baik. Organ-organ tubuh kita sangat mungkin untuk rusak dan mengakibatkan kesehatan menjadi bermasalah. Lingkungan atau alam semesta pun bisa saja membuat jasad kita hancur terkoyak tak berbentuk lagi. Secara jasadiyah kita mudah mengalami kerusakan dan kehancuran.

Kalau kita menopangkan hidup kita kepada tali. Tali bisa putus. Kalau kita menggantungkan hidup kita kepada tertancapnya paku. Paku bisa patah. Kalau kita mengantungkan hidup kita kepada batu dan karang yang kokoh. Batu itu juga bisa hancur. Hidup kita mudah rusak dan mudah hancur. Maka harus di jaga. Kali ini mereka yang mengalami kerusakan dan kehancuran. Di kali yang lain bisa saja kita yang berkubang sulit dan bermandikan masalah.

Selain secara jasadiyah kerusakan dan kehancuran juga bisa secara ruhiyah. Betapa banyak orang yang tersesat dalam keburukan akhlak, kesesatan tindakan dan sikap. Semua itu bisa terjadi pada diri kita atau tidak. Kita tidak mengerti kenapa kemudian kita berada di jalan yang lurus atau kenapa kita menjadi orang yang sesat dan sulit berubah menjadi baik

Masa depan sungguh gelap. Kita hanya bisa menebak. Menebak bisa sebagian benar sebagiannya lagi salah. Untuk masa depan yang tidak semuanya terang, maka harus kita jaga dengan infaq-infaq kita yang juga saat ini belum jelas manfaatnya buat kita. Namun kita harus yakin, infaq itu akan menjadi manfaat buat kita seiring dengan terbukanya kegelapan masa depan itu. Siapa yang tahu kalau keamanan, kenyamanan dan keselamatan kita saat ini akibat dari infaq-infaq yang kita tidak mengerti manfaatnya di masa lalu.

 

Berinfaq memberi Dampak Keberanian

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. (QS:2-274)

Ibnu Katsir bercerita bahwa suatu malam Ibnu Baqiyyah bermimpi ingin menampar pembantunya. Namun ketika akan dipukul mukanya berubah menjadi roti. Ketika ditanya pembantu yang sholih itu kemudian menjawab bahwa atas pesan ibunya ia selalu bersedekah roti setiap hari. Sebab Allah akan menolak bahaya karena sedekah rotinya itu. Ini menegaskan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya sedekah dapat memelihara manusia dari kejahatan.”

Heran bercampur kaget, kalau kita perhatikan keberanian mereka yang selalu ikhlas berinfaq. Tidak pernah merasa ragu akan adanya perlindungan Allah. Tidak pernah khawatir dengan gelapnya masa depan. Tidak pernah berburuk sangka dengan kesulitan yang dihadapi. Tidak perlu jauh untuk mengambil pengalaman berinfaq. Seorang pekerja muslim di kota Bandung pernah mengalami suatu hal yang luar biasa. Sebagai infaqer sejati ia pernah berhadapan dengan masalah yang berat. Anaknya yang tengah sakit menuntutnya untuk menebus resep. Sementara uang yang ia miliki tidak mencukupinya.

Ditengah kebingungan yang sangat, ia mencoba semakin mendekat kepada Allah. Walaupun infaq-infaqnya sejauh ini sederhana, tapi itulah yang bisa ia persembahkan kepada Allah SWT. Kemudian ia masuk ke masjid dan melakukan shalat. Kembali kebingungan yang ia dapatkan. Walaupun bagaimana uang yang ia pegang tidak cukup untuk membeli obat.

Dipuncak kebingungannya ia kemudian menyerahkan segenap urusannya kepada Allah. Ya Allah saya tidak tahu harus berbuat apa dengan uang saya yang tidak cukup ini. Maka saya serahkan semua yang saya miliki ini kepada engkau. Dengan ringan sambil meninggalkan masjid ia masukkan semua uang yang dimilikinya ke dalam kencleng masjid. Seiring dengan menyerahkan semua kegundahan kepada Sang Maha Pengatur segala urusan.

Sedemikian besar keberanian yang kemudian ia miliki. Itu bisa diraih setelah ia menyerahkan segenap apa yang ia miliki kepada Allah. Seiring dengan menyerahkan apa yang akan terjadi dihadapannya kepada Allah semata.

Subhanallah, ditengah keyakinan dan harapan yang besar akan hadirnya pertolongan Allah, ketika ia sampai ke rumah ada seseorang yang datang yang siap membelikan obat yang dibutuhkan.

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik­-baiknya. (QS:34:39)

Teman kita juga, seorang pekerja muslim di kota Bandung. Sama, ia, juga seorang infaqer sejati. Tidak pernah ia lepas dari berinfaq di setiap kesempatan untuk berinfaq.

Sekali waktu ia berhitung-hitung bahwa penghasilannya ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Demi memenuhi kebutuhannya itu kemudian ia merasa pas untuk mengurangi infaqnya beberapa bulan ini.

Namun apa yang terjadi, ternyata selama beberapa bulan ia mengurangi infaqnya itu, selalu ia mengalami kehilangan uang. Belum lagi ia merasa kebutuhannya selalu tidak cukup.

Selalu ada dan ada lagi, kebutuhan yang harus ia penuhi. Infaq ternyata menjaga masa  depan kita. Dan itu tinggal dijalankan dengan tindakan (do). Baru kemudian kita mengerti dan yakin karena berada di atas (up), bebas dan tidak terjepit lagi. Jadi just doup!

~ by VIQEN on September 13, 2008.

15 Responses to “JUST DO UP”

  1. seyuju banget kang..just do up!!!

    tulisannya keren bangettttt

  2. nice post!!!
    tul banget…yang paling penting selain terus berbuat baik, bersdekah, kita juga kudu yakin…Allah tidak pernah tidur…Allah Maha Kaya, hanya pada Allah kita meminta….

  3. mba/teteh, terima kasih sudah datang dan berkomentar. semoga kita tetap dalam hidayah ALLAH, dibimbing pada jalan yang lurus, dan menemukan Surga ALLAH. amiin

  4. bagus tuh artikelnya… kita emang gak tau apa yang bakalan terjadi di depan kita… jadi setiap hari harus berbuat baik.

  5. nice post kang.. keep writing yaaakkk..🙂

  6. ada paradigma yang saya rasa salah telah diturunkan dari orang tua ke anaknya saat ini Kang,

    ‘Jangan nyumbang ke pengemis, ga mendidik!’
    ‘Hmm.. ga usah ngasihlah, ntar dipake beli minuman keras ma judi lagi’

    prasangka seperti itu seharusnya tidak perlu ada..
    karena berbuat baik itu ga perlu banyak nanya, seperti halnya dalam adegan di atas.

    intinya, terserah pemberian dari kita ingin digunakan untuk apa yang penting kita sudah melaksanakan kewajiban kita untuk saling memberi dan mengasihi..

    -Tolong koreksi jika salah

  7. Sungguh mengharukan kisah ibu penjual serabi itu. Saya pernah beberapa kali menonton acara teve serupa, dan seringkali penolongnya memang orang-orang yang secara ‘nalar’ tidak ‘pantas’ menolong (karena ia sendiri orang miskin).
    Berinfak tidak akan membuat kita menjadi miskin, benar sekali. Jika kita yakin itu, Allah akan melimpahkan rizkinya tanpa kita duga-duga.
    Subhanallah.

  8. seperti kalo mau menikah, orang bilang “bismillah” dan do it (lho kok jadi menikah yah🙄 )

    tren di bandung:
    eh tapi emang bener bgt koq…

  9. salam kenal mas trendibandung ^^

  10. bagus…bagus..jadi ter inspirasi

  11. salam kenal bos…

  12. […] JUST DO UP […]

  13. hati bersih ga tergantung dari jenis pakaian atau make up…

    infaqer…??? a nice word!

  14. JUST DO UP, ini bermakna pula, lakukan saja kebaikan sebanyak-banyaknya, nanti kita akan semakin naik ke atas. yakini itu.

    orang yang selalu ingin berbuat yang terbaik dan terbanyak, maka ia akan terus melesat ke atas menemui rezeki-rezekinya.

  15. […] Sahabat. Tugas kita hanyalah mengupayakan setiap keinginan yang ada dalam pikiran dan hati yang baik. Apapun hasil dari setiap usaha kita, yakinlah bahwa hasil itu adalah yang terbaik untuk kita saat ini. Jika mimpi itu ada di depan kita sejauh seribu usaha, janganlah sahabat berhenti di usaha yang ke 999. Ingatlah selalu bahwa pertolongan Alloh itu sangat dekat. Don’t Think, and Just do It. JUST DO UP […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: