MEMBELI MASA DEPAN

Seorang leader suatu line produksi pernah berbicara dengan saya seputar keberhasilan line-nya. Line produksi yang dia pimpin memang sering berprestasi. Mulai dari targetnya, ketepatan jadwalnya, dsb.

Menurut pengakuannya, ia memberikan waktu iebih banyak dan memikirkan lebih keras dalam mempersiapkan dan menyelesaikan permasalahan di line-nya. Misalnya, ketika mendapat proses baru, maka ia pelajari betul sampel produknya. Sampai diluar jam kerja atau di bawa ke rumah.

Bukankah itu menganggu? Pulang kerja, sudah cape, masih mikirin kerjaan juga?

“Iya sih, kalau mau mikirin capenya aza mah”. Jawabnya. ” Tapi, besok-besok ketika saya mulai kerja ngurusin line, saya sudah faham betul dengan apa yang mesti saya kerjakan”. Panjang lebar ia cerita, bagaimana ia jadi tahu urutan prosesnya yang aman dan tidak mengakibatkan masalah. la juga jadi tahu berapa waktu yang diperlukan untuk masing­masing proses. Dengan itu ia juga jadi tahu bagaimana caranya mengejar target produksi yang diberikan. la juga bisa pikirkan waktu membagi proses dan mengatur lay-out produksinya. “Pokoknya ketika dipikirin terus, jadi banyak hal yang tadinya ga tau jadi tau. yang tadinya ga ngerti jadi ngerti, yang tadinya sebodo amat jadi ati-ati,” begitu kira-kira keuntungan yang ia sampaikan.

Disamping mempelajari produk baru, ia juga selalu memikirkan setiap permasalahan yang muncul pada saat berjalannya produksi hingga tuntas. Mengapa target yang diberikan tidak bisa dipenuhi? Itu pertanyaan yang selalu di bawa dalam pikirannya. Bila dijam kerja tidak selesai, maka ia sempatkan untuk dipikitkan terus di luar jam kerja, dimana saja. Ketika istirahat, diperjalanan ataupun di rumah. Bahkan, menurutnya, bisa sampai kebawa-bawa mimpi.

Hasilnya, ketika kembali bekerja, ia selalu memiliki cara untuk menyelesaikan masalah, ia selalu hadir dengan kesiapan mengatur line, ia senantiasa bisa membawa anggota line-nya menghasilkan produk sesuai target.

Jadi ga berasa lagi ngelakuin ini dan itu sampai ngeganggu waktu-waktu selain jam kerja? Rasa-rasanya engga Iha ya. Coba bayangin hasil yang bakal diraih buat peningkatan kemampuannya, kemajuan prestasinya, bertambahnya tanggung jawab yang diberikan, dsb.

 

Masa Depan yang Gelap Membutuhkan Pengorbanan

Kita semua yakin dan sepakat, bahwa masa depan itu gelap. Artinya, kita ga tau apa yang bakal kejadian nanti. Kalau sekarang kita masih bisa menghasilkan uang dengan cara menjahit misalnya, apakah besok-besok pekerjaan menjahit masih bisa diharapkan?

Ya, sekali lagi, diawal kita harus sepakat kalau masa depan itu gelap, tidak kelihatan dan tidak terbayangkan. Bisa kejadian tanaman yang ban ini sudah tinggal memanen, besok sudah tersabit seperti yang belum pernah tumbuh tanaman di situ.

Mari kita bayangkan ketika kita masih bayi. Ketika itu, bila kita ingin makan, maka yang dilakukan cukup menangis. Kalau tidak datang juga tuh makanannya, tinggat menangis lebih keras, Gedean dikit, ketika kita sudah bisa makan dah ngambil sendiri, maka ketika kita ingin makan, tinggal pergi ke meja makan.

Ketika beranjak agak dewasa, ketika kita ingin makan, maka yang kita lakukan adalah pergi bekerja dan bekerja dengan tenaga dan kemampuan kita. Kalau kemampuan kita menjahit, maka kita pergi ke garment/konfeksi untuk menggunakan tenaga kita menghasilkan jahitan.

Apa yang kita dapat kita lakukan saat ini merupakan buah pengorbanan di masa lalu. Kalau di masa kecil kita tidak mau bersusah-susah belajar berdiri, memegang, serjalan berbicara, makan, pergi sekolah, belajar ini dan itu mungkin sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Tapi, saat ini kita bisa berbuat sesuatu untuk menghidupi kita karena kita dulu pernah berkorban untuk memiliki kemampuan itu. Kalau saat ini kita sudah jago menjahit, mungkin itu karena dulu kita pernah bersusah-susah belajar menjahit. Artinya kita pernah berkorban untuk bisa menjahit. Bila yang kita rasakan saat ini belum terlalu memuaskan, boleh jadi dulu kita juga berkorbannya ga hebat-hebat amat. Untuk itu, masa depan yang gelap kita persiapkan dengan pengorbanan yang sebaik-baiknya saat ini.

 

Setiap Kesulitan Ada Kemudahan

Begitulah janji Tuhan. Tapi kenyataannya, mungkin anda merasa, saat ini jarang sekali bertemu dengan kemudahan. Rasanya setiap detik yang berlalu hanya berganti dari kesulitan yang satu ke kesulitan yang lainnya.

Sebetulnya anda tinggal bertanya kepada diri anda sendiri, apakah ketika menghadapi kesulitan disekitar kita. kita sudah betul-betul menghadapinya dengan sigap, penuh antusias dan berusaha menyelesaikannya dengan, baik dan tuntas? Atau malah lari dan mencari cara supaya tidak terlibat atau pura-pura tidak terlibat? Atau bila kesulitan itu diseputar kita (di tempat kerja, misalnya), apakah kita peduli dengan kesulitan itu dengan membantu memikirkan dan turut terlibat dalam penyelesaian?

Ya, mungkin itulah penyebabnya. Kita sering takut duluan ketika disekitar kita ada kesulitan atau kita berhadapan dengan kesulitan. Apakah kesulitan itu berkaitan dengan kita, apalagi kesulitan orang lain, Sehingga, sejauh kita tidak berani menghadapi kesulitan dan menyelesaikannya dengan bertanggung jawab, maka menurut rumusannya, kita akan tetap berputar­-putar di dalam lingkaran kesulitan.

Di suatu pabrik, kepala pabriknya memberikan suatu produk baru untuk dikerjakah oleh dua line. Produk ini targetnya seribu pieces per hari. Kemudian kedua leader line-nya mempelajari sample tersebut. Setelah mempelaiari, leader yang satu menyatakan bahwa target seribu pieces per hari itu berat dan tidak mungkin. Lihat saja prosesnya banyak. Ininya sulit. ininya berat. Ininya tidak ada alat bantunya, itunya tidak ada operatornya. Segala macam masalah keluar lancar memancar. Pada intinya dia tidak sepakat dengan target tersebut.

Tapi leader yang satu justru berfikir keras memikirkan masalah-masalah tersebut. Siang malam ia fikirkan, buka lagi, lihat lagi, dikutak-katik lagi, tanya sana, tanya sini, bandingkan dengan produk yang lain, pelajari dengan sebenar-benarnya di titik apa sebetulnya yang membuat sulit, mencoba-coba berbagai teknik, mencoba memodifkasi model atau alat bantu, diskusi sama anak buahnya, dan banyak lagi yang ia lakukan. sampai-sampai ia terlambat pulang. Diperjalanan bahkan di rumah ia sempatkan terus untuk menemukan cara mencapai target tersebut.

Hasilnya, dia mampu memahami produk tersebut dengan rapih baik. Dia mengajukan beberapa alternatif cara yang diperkirakan mampu mencapai  target yang diminta dengan kualitas prodak yang sama. Dia coba terapkan dengan teknik yang dia pilih lebih baik. Dia jalankan dengan kemampuan kontrol yang lebih jeli. Akhirnya, dia bisa mencapai target yang diharapkan. dikemudian hari ketika dua leader ini kembali mendapat produk baru untuk dikerjakan, maka leader yang satu kegiatannya adalah mencoba mengumpulkan lagi daftar kesulitan-kesulitan yang membuat target tidak perlu dicapai. Sementara yang satu dia sudah mempuryai pola cara penyelesaian masalah dan punya pengalaman berhasil menyelesaikan masalah.

Yang satu berputar-putar dalam kesulitan. Dan biasanya orang ini merasa tenang kalau sudah punya alasan yang kuat untuk gagal. Sedangkan yang satu ia akan keluar dari kesulitan dan mulai menemukan kemudahan sebagai buah dari pengorbanannya. Buat dia, hal ini harus berhasil. Tidak Boleh gagal. Jadi kalau memang dia tahu akan ada masalah atau kesulitan yang akan mengganggu keberhasilannya, segera pikirkan solusinya dari sekarang.

Kalau kesulitan itu tidak datang, rugi dong kita udah cape-cape mikirin…

Tidak ada yang sia-sia dari setiap pengorbanan yang telah kita tunaikan. Karena hakikatnya kemampuan kita yang semakin meningkat dengah pengorbanan itu. Masa depan yang lebih mudah kita beli dengan pengorbanan bersulit-bersulit saat ini.

Biarkan kemudahan itu senantiasa datang karena kita selalu bergerak menyelesaikan satu kesulitan demi kesulitan. Kesulitan diri kita, saudara kita, keluarga kita, tetangga kita, bahkan kesulitan bangsa ini, kesulitan ummat Islam. dan semua kesulitan alam semesta ini.

Wah… beuuurat kalau begitu…

 

Pengorbanan adalah Kebutuhan Kita

Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama lbrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu” la menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang dipertintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (OS, Ash-Shaaffaat:102)

Begitulah hendaknya kesigapan kita ketika melihat kesempatan berkorban. itu perlu kita lakukan sekarang ini untuk menghadapi masa depan. Seperti halnya sejarah mencatat para Nabi, Rasul dan salafushalih. Mereka melakukan pengorbanan yang luar biasa hingga kehidupan dan akhir kehidupan mereka menjadi gemilang. Kemenangan dan kejayaan umat islam bahkan kemerdekaan tanah air kita tegak dari pengorbanan.

Pengorbanan bertemu dengan rasa tanggung jawab terhadap perbaikan peradaban, keberanian dan kesabaran. Dorongannya adalah semangat berbuat untuk membawa manusia dan kehidupan menjadi lebih baik. Hakikat dan tabiat perilaku geraknya adalah pengorbanan. Perisainya adalah keberanian jiwa menghadapi berbagai rintangan. Dan nafas panjangnya adalah kesabaran.

Inilah yang melahirkan manusia-manusia yang memiliki masa depan. Karena padanya berjuta manfaat dari selangit solusi. Apapun masalahnya buat dia selesai. Seperti yang Rasul sampaikan sebagai sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.

Masa depan hanya dimiliki oleh mereka yang telah membelinya dengan pengorbanan Kita membutuhkan pengorbahan itu untuk masa depan kita, kita sendiri bukan orang lain.

Saat ini kehidupan manusia telah dihanyut ombak nafsu yang menghancurkan fitrahnya. Semua telah rusak oleh kerakusan manusia. Sehingga dihadapan terbentang kesempatan berkorban. Inilah saatnya kita memulai bersama. Dan iringilah semua pengorbanan dengan do’a, harapan yang bermakna; tempatkan ya Tuhanku di singgasana terindah di syurga dengan para syuhada.

~ by VIQEN on September 22, 2008.

6 Responses to “MEMBELI MASA DEPAN”

  1. Jadi teringat suatu cerita:
    Seorang pengusaha sedang berjalan-jalan di pantai setelah mengikuti pertemuan bisnis di dekat situ. Di pantai dia melihat seorang nelayan yang sedang berleha-leha di atas kapalnya. Terjadilah percakapan seperti berikut:
    “Hai kenapa kamu berleha-leha tidak bekerja keras mencari rejeki?”
    “Hasil tangkap hari ini sudah cukup, jadi aku beristirahat saja”
    “Wah padahal kalau kamu kerja lebih keras, tangkapan kamu bisa lebih banyak”
    “Memangnya kenapa kalau tangkapannya lebih banyak?”
    “Kamu bisa punya banyak uang”
    “Kalau sudah punya banyak uang, apa untungnya buat aku?”
    “Kalau kamu punya banyak uang, kamu bisa istirahat ngga perlu kerja keras lagi”
    “Aku sekarang sedang istirahat, lalu untuk apa kerja keras?”
    Pengusaha itu akhirnya ngeloyor pergi. Ah dasar, seribu alasan memang bisa dicari.
    Ayo kita bekerja cerdas.

    tren di bandung:
    spakat! kang iwan. saya banyak belajar dari tulisan kang iwan yang positif dan maju.

  2. barangkali karena itu…Allah SWT selalu memberikan satu masalah sepaket dengan solusinya..

  3. Pak, postingan Anda hebat

    Oh ya, kampung saya gak jauh dari tempat yg Bapak sebutkan

    Hidup Ciamis🙂

  4. salam kenal,

    postingannya benar2 menggugah dan ‘menyentil’ saya yang terkadang masih suka setengah2 dalam melakukan segala sesuatu…jadi hasilnya ga maksimal *sediihh..tapi harus bangkit ceile*

    mungkin ada resep untuk saya pak???

  5. Berkorban untuk atasan biasanya “cari muka”, berkorban untuk bawahan biasanya “cari dukungan”,dapatkah kita berkorban dengan ikhlas tanpa mengharapkan pamrih? atau kita mengharapkan orang lain untuk ikhlas sedang kita sendri penuh pamrih?

  6. saya setuju apa yang dilakukan leader line produksi itu…
    soalnya banyak pekerja berpikir kalau memikirkan kerjaan di luar jam kerja maka kantor harus membayar. padahal kita bisa menganggap kerjaan adalah bagian hidup kita seperti halnya kita memikirkan keluarga (bahkan sering memikirkan atau bahkan melayani keluarga saat jam kantor kan?).

    …Tidak ada yang sia-sia dari setiap pengorbanan yang telah kita tunaikan…
    nah saya setuju banget, pak!
    kadang kelihatannya sia2 tapi ternyata ada hikmah lebih besar di kemudian hari kenapa pengorbanan itu ‘kelihatan’ sia2 saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: