Lebih Baik Tetap Bekerja agar Masa Depan Tetap Lebih Baik

Memang bukan berarti boleh pesimis, ketika kita membicarakan masalah yang ada di sekitar kita. Apalagi masalah dunia kerja di tanah air ini. Masalahnya rumit banget. Kalau kita terlalu berlebihan membahasnya, bisa-bisa ga balik optimis lagi. Tadinya punya niat mulia ingin memperbaiki keadaan, malah jadi orang yang tidak produktif dan terjebak ngomongin dan rebutan pepesan kosong doang. Artinya, tidak pemah sampai kepada pembahasan permasalahan inti. Dari tahun ke tahun hanya ngomongin itu ke itu aza…

Dalam kondisi buruk seperti sekarang ini, kita melihat banyak hal yang bisa menjebak kita kepada hal-hal yang merugikan. Alih-alih kita ingin sesuatu yang lebih baik, malah kita lupa meningkatkan kemampuan. Akhirnya daya saing kita semakin kedodoran. Justru inilah yang kemudian menjadi masalah yang sebenarnya berkaitan masalah besar dunia kerja Indonesia, daya saing.

Maka, Saya mengajak untuk sadar bahwa apapun bisa membuat kita salah menentukan sikap. Betul-betul, Saya mewanti-wanti, keadaan saat ini membuat kita harus berhati-hati sekali dalam menentukan sikap dan bertindak. Salah saja kita bersikap, bisa membuat penyesalan yang luar biasa di belakang hari. Supaya kita bisa tepat dalam bersikap, maka kita harus memahami permasalahan selengkap mungkin.

 

Masalah Pengangguran

Permasalahan dunia kerja akan lebih bijaksana bila dimulai dan masalah pengangguran. Tidak dari kesejahteraan para pekerja. Artinya, hal tersebut bermuara pada ketersediaan lapangan kerja. Setelah itu berkaitan dengan mempertahankan lapangan kerja yang sudah ada. Baru kemudian membuat lapangan kerja yang bisa dipertahankan tersebut mampu terus tumbuh, menjadi unggul dan mensejahterakan.

Seorang pakar bisnis dan ekonomi menilai Indonesia tengah menghadapi masalah pengangguran yang serius. Dalam 5-10 tahun terakhir penciptaan apangan kerja terus memburuk namun jumlah penduduk terus bertambah. Sementara jumlah pengangguran di negara lain konstan atau turun, Indonesia justru meningkat.

Dengan tingkat pengangguran menginjak angka di atas 10%, bisa dikatakan negara sudah dalam keadaan bahaya. Apalagi mengingat angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya berkisar 4-5%. Pertumbuhan yang memberikan lapangan kerja di negara Cina saja membutuhkan angka 7%. Menurut pengalaman setiap pertumbuhan ekonomi 1%, biasanya menampung 400 ribu tenaga kerja baru. Sedangkan jumlah pengangguran kita sudah mencapai 2 juta jiwa. Berarti diperlukan pertumbuhan sampai 5 kali lipat, atau 10%???

Angka pertumbuhan itu pun belum bisa menjamin terjadinya penyerapan tenaga kerja. Bila pemerintah salah mengelola, maka bisa jadi pertumbuhan ekonomi tinggi, namun tidak menyerap tenaga kerja. Akibat salah menentukan kebijakan industri. Antara industri padat modal yang kecil daya serapnya namun unggul. Dibandingkan dengan industri padat karya yang besar daya serapnya namun menyimpan resiko gagal untuk bersaing ketika produknya dijual.

Pengangguran yang menumpuk dapat melahirkan dampak sosiologis krusial yang mengancam stabilitas nasional. Apalagi bila banyak petualang politik yang memainkan berbagai masalah sosial sebagai kendaraan politiknya. Keberpihakannya kepada kesulitan dunia kerja hanya untuk kepentingan politiknya saja. Bukan murni, sejati, ikhlas untuk memperbaiki permasalahan pada titik intinya permasalahan. Dukungannya kepada kaum lemah hanya untuk pelipur lara dan mengajak bersama-sama dalam kelemahan. Bukan untuk menyadari permasalahan mendasar dan bangkit melakukan agenda-agenda perbaikan yang konstruktif.

Perlu penyebaran bentuk lapangan kerja. Pekerja Indonesia masih terkonsentrasi pada tenaga kerja produksi. Sementara profesi lain yang memiliki produktifitas tinggi dan tanggung jawab lebih berat masih sedikit. Seperti profesional, teknisi ahli, manajerial, dsb.

Perlu dibuat struktur industri strategis yang mampu membuat daya serap yang kuat dan lama. Sebuah industri yang terkonsentrasi dari hulu ke hilir dengan keunggulan produk yang tumbuh semakin kokoh. Lapangan kerja kita masih berkisar industri pendukung, temporer, dan tidak berkarakter.

Perlu pelatihan SDM untuk meningkatkan daya saing. Tingkat produktifitas pekerja di negara miskin masih 50 berbanding 1. Bila dibandingkan dengan negara maju maka 94 berbanding 1.

Perlu prioritas dalam penyelesaian masalah. Perselisihan industri yang berlarut-larut akan semakin menjauhkan dari kondisi aman dan stabil yang diperlukan untuk adanya perbaikan dan pertumbuhan.

 

Mari kita mulai dari diri kita. Anda, yang saat ini masih bekerja, tetaplah bekerja. Pertahankan terus lapangan kerja yang masih ada. Sesulit apapun dan seberat apapun. Dengan itu, kita lebih punya harapan untuk memperbaiki keadaan. Dukung setiap perusahaan yang masih bisa menyediakan lapangan kerja. Bersamanya kita buat industri-industri yang unggul.

Ingat kita punya beban moral untuk mengurangi angka pengangguran. Kita tidak bisa berpikir sendiri asal untuk kepentingan kita saja. Tapi bagaimana dengan mereka yang masih menganggur, mereka yang baru dan akan lulus dan sekolah. Mereka akan meminta pertanggungjawaban kita, bila kita tidak mampu membentuk iklim dunia kerja yang sehat dan tumbuh.

Ketika perusahaan yang ada bisa bertahan, maka ia akan membaik dan berpeluang mensejahterakan. Ketika industrinya membaik maka akan membuka peluang bisnis dan investasi. Sedikit-demi sedikit lapangan kerja tumbuh. Dan setahap demi setahap permasalahan selesai.

 

 

~ by VIQEN on October 6, 2008.

12 Responses to “Lebih Baik Tetap Bekerja agar Masa Depan Tetap Lebih Baik”

  1. Aku bekerja 18 jam sehari.. jarang libur..!!

  2. Taqoballahu Minna Waminkum Ya kariiiim….
    Maaf lahir bathiiiiinn…
    Ayo semangat buat lapangan pekerjaan buat sodara² qt yang lainnya🙂

  3. indonesia butuh banyak wiraswastawan agar tercipta lapangan kerja..

  4. betul mas, cari kerja itu payahnya bukan main
    kl sudah bekerja…..
    ya mari bekerja dengan sungguh sungguh

  5. Ayo kerjaa… semangatt setelah liburan lebaran…

  6. setelah S2 saya kelar nanti … saya akan memilik berkarier sebagai ibu dan istri saja, saya tidak ingin bekerja diperusahaan, bekerja juga kan namanya?

  7. wah, makin membuat saya harus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja beberapa tahun ke depan, meskipun masih lama, tapi tetep aja, apa yang kita lakukan saaat ini, mementukan apa yang akan kita peroleh kemudian….

    makasih nih kunjungannya….

  8. —Perlu pelatihan SDM untuk meningkatkan daya saing.
    setuju pak.. memang perlu pelatihan untuk SDM di Indonesia, setidaknya mereka jadi memiliki keahlian.
    Karna banyak juga lowongan pekerjaan, tetapi ternyata SDM yang dibutuhkan tidak ada.

  9. makasih pak.. atas kunjungannya..
    maaf kelupaan.

  10. ayooo SEMANGAT 45 buat WORKING” … .hohohooh ….

    .tengkyu uda mampir ke bLog sayah… ke Bandung ? kLo ada kesempatan , sayah ke bandung…hahha..

  11. iyapz..indonesia betul betul butuh wiraswasta..setuju ma yang diatas..

  12. Fitrah itu BERSIH.
    Berbagi itu PEDULI.
    Berma’afan itu PROFESIONAL.
    Minal aidin walfaidzin.
    Mohon ma’af lahir dan batin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: