BALI: Banyak Libur

[ Mencicipi Istirahat di Akhirat Melalui Shalat ]

Mencari pijakan tentang liburan ternyata tidak ada yang kokoh dan strategis. Kalau sedikit memaksa, suatu tema tentang liburan adalah kebutuhan istirahat. Maksudnya, supaya tidak terlalu tegang dengan aktivitas sehari-hari yang ketat, ya istirahatlah dulu.

Maka, istirahat adalah buat mereka yang telah bekerja sangat keras. Mereka yang telah menorehkan karya nyata sedemikian hebat. Wajar bila mereka beristirahat. Karena betul-betul ia membutuhkan istirahat. Dan karena dengan istirahatnya itu ia akan masuk lagi ke medan pertempuran dengan kapasitas yang berlipat-lipat. Istirahatnya tetap memberikan kontribusi dalam grafik peningkatan prestasinya yang terus menanjak.

Bahkan cenderung, mereka sangat memperhitungkan dampak libur itu sendiri bagi perkembangan dirinya. Apakah dampak dari liburan itu signifikan atau tidak. Bila tidak ada pengaruh, buat apa berlibur. Akhirnya liburan betul-betul dipersiapkan supaya memberi hasil yang optimal. Misalnya liburan itu dimanfaatkan untuk melakukan perjalanan. Tidak jarang perjalanan ini juga menghasilkan temuan-temuan baru bagi peningkatan kapasitasnya. Diperjalanan akan ditemukan pengalaman-pengalaman dan ilmu bahkan peluang bisnis.

Memang Allah bertanya beberapa kali, apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka. Kira-kira demikian pertanyaan Allah, berulang-ulang. Coba perhatikan ayat-ayat berikut ini QS. 30:9, 30:42, 40:21, 40:82, 47:10. Ketika mendasarkan liburan untuk melakukan perjalanan, maka harus (sangat) diperhatikan pengalaman dan ilmu apa yang diraih dari liburan itu.

Perjalanan liburan ke Bandung misalnya, sebagai tempat yang semakin jelas posisinya sebagai kota jasa layanan liburan, banyak menawarkan pengalaman-pengalaman wisata yang baru dan menyegarkan. Tinggal kemudian kita bertanya lebih jauh apakah pengalaman perjalanan liburan itu mampu memberi sentuhan pengalaman ruhani. Suatu pengalaman yang menjawab pertanyaan Allah, ”ya saya telah memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kami, sehingga kami mengerti dan menancapkan komitmen; harus menjadi pribadi yang lebih baik ketika kami pulang dari perjalanan ini.”

Maka, dari sekian banyak pilihan (dan godaan) menghabiskan waktu di perjalanan liburan, tentukan pilihan yang senantiasa menjaga orbit keimanan kita. Masuklah ke wilayah-wilayah yang tidak blank-spot dari coverage perlindungan Allah SWT. Pilih perjalanan liburan yang justru memperkuat sinyal iman kita.

Bahkan bila perlu rasakan pengalaman-pengalaman baru yang mampu merubah arah hidup kita menjadi jauh lebih baik. Misalnya, liburan tahun lalu adalah pengalaman saya menggunakan kerudung pertama diluar rumah setelah sekian lama berpikir untuk mulai serius berkerudung. Ya, walaupun berat, tapi namanya juga diperjalanan liburan, di kota orang. Rasanya orang-orang sekeliling memandang biasa-biasa saja.

Kebayang kalau mulai pakai kerudung pas lagi sekolah. Bisa-bisa jadi isu satu sekolah, apalagi kalau kita termasuk yang terkenal dan beredar luas di berbagai komunitas. Maka disamping harus membiasakan diri dan meneguhkan mental, juga harus sering menjawab ucapan selamat dan pertanyaan-pertanyaan. Pengalaman berkerudung di kota orang selama perjalanan liburan menjadi awal saya menjadi muslimah yang lebih baik, jauh lebih baik.

Jadi tidak mentang-mentang perkara liburan, perjalanan yang kita rencanakan pokoknya bebas-bebas saja. Apalagi mengarah kepada hal yang sia-sia atau bahkan menjurus kepada kemaksiatan dan melalaikan. Tidak seperti itu. Istirahat dalam Al-Qur’an tidak ditunjukkan kepada suatu waktu yang namanya saat liburan. Tapi diarahkan kepada malam sebagai waktu beristirahat. Silakan perhatikan ayat-ayat berikut ini QS. 6:96, 10:67, 25:47, 27:86, 28:72-73, 40:61, 78:9.

Bila tidak, maka istirahat sebagai suatu alokasi waktu yang khusus ditunjukkan kepada surga atau neraka sebagai tempat istirahat. Silakan perhatikan ayat-ayat berikut QS. 18:29, 18:31. Memang itulah istirahat yang sesungguhnya. Karena dunia ini memang tempat perjuangan. Sehingga peribahasa yang tepat adalah bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit kemudian, teruslah bersakit-sakit agar bisa beristiahat di akhirat dengan penuh kepuasan. Bolehlah kita cicipi istirahat di akhirat kita itu nanti melalui shalat-shalat kita hari ini, demikian Rasulullah memberikan tips.

 

~ by VIQEN on October 10, 2008.

One Response to “BALI: Banyak Libur”

  1. […] BALI: Banyak Libur […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: