MENINGGALKAN RAMADHAN YANG KAU KEJAR

 

Di malam menjelang idul fitri, suasana Gasibu sangat ramai dan begitu hiruk pikuk orang hilir mudik. Kalau diperhatikan mirip kayak malam tahun baru gitu deh. Bedanya, ada beberapa mobil bak terbuka bawa beduk.

Kesannya, betapa bergembiranya suasana umat ini menyambut berakhirnya bulan Ramadhan. Dan rasanya perlu ada dua pertanyaan. Pertama, betulkah kita merindukan Ramadhan? Kedua, betulkah kita mendapatkan segala kebaikan Ramadhan?

Jadi ingat sebuah pertanyaan lucu; apa yang ditungguin banget, tapi begitu ada, malah ditinggalin rame-rame? Jawabannya, lampu hijau. Kalau di perempatan, pas lampu merah, apa yang paling ditungguin? Lampu hijau kan. Coba sekarang kalau lampunya sudah hijau, semua yang nungguin, malah ninggalin rame-rame. Sedih ga tuh si lampu hijau…

 

Kalau Dirindukan mengapa Kau Senang Ditinggalkan?

Jujur saja, senang apa sedih berpisah dengan Ramadhan? Seorang anak kecil yang baru belajar berpuasa dan masih berat menahan lapar dan haus, begitu senang ketika penderitaannya berakhir. Masih seperti itukah puasa kita? Masih dipandang sebagai tercabutnya beberapa kesenangan kita.

Ketika kita merindu sesuatu, maka kerinduan itu menuntut kehadiran yang dirindukan bersama dengan kita. Kita nikmati kebersamaannya dan merasa berat untuk berpisah dengannya. Ramadhan dengan menahan beberapa hal yang halal, tuntutan pekerjaan yang tetap tinggi, porsi ibadah yang ditambah, dan beban-beban lainnya, apakah bisa membuat kita senang bersamanya?

Sebaiknya jujur saja menilai diri kita, seberapa rindu kita pada Ramadhan. Atau seberapa pentingkah Ramadhan untuk diri kita. Kalau kerinduan itu belum terasa kuat dihati, artinya Ramadhan belum berada pada posisi yang benar dalam diri kita. Ramadhan tidak kita rindukan seperti kita ingin bertemu dengan orang tua kita, misalnya.

 

Betulkah Kau Dapatkan Kebaikan Itu?

Mungkin secara individu ada yang dengan benar sudah merindu Ramadhan, menikmati kebersamaannya, mendapatkan kebaikannya, dan keluar dari Ramdhan dengan puas. Rasulullah sendiri pernah keluar dari Ramadhan dengan prestasi memenangkan Perang Badar.

Tapi secara umat Islam, hari ini kita bisa saksikan melalui budaya yang melingkupinya, belum menampakkan hal itu. Mengakhiri Ramadhan lebih meriah dari pada mengawalinya atau bahkan mempersiapkannya. Melalui Ramadhan dengan budaya ngabuburit yang tujuannya melupakan ”penderitaan” Ramadhan. Dan sedikit sekali umat ini membukukan prestasi seperti Rasulullah dengan kemenangan Badarnya atau para pendiri Republik ini dengan proklamasi kemerdekaannya.

Merindu Ramadhan adalah kita merasa perlu dengan upgrading yang diberikan Ramadhan atas kapasitas dan posisi kita. Mana Badar kita? Mana proklamasi kemerdekaan kita?

 

Meneruskan karena Kau Tak Mau Ditinggalkan

Sudahlah, akui saja, kalau kerinduan itu memang belum ada atau masih kecil dalam benak kita pada Ramadhan ini. Kesadaran dan pengakuan lebih baik adanya supaya menjadi pelajaran dan kita bisa persiapkan Ramadhan yang akan datang.

Sekarang, teruskan semangat Ramadhan kedalam aksi. Sebagai bukti kita tidak mau ditinggalkan dahsyatnya Ramadhan. Apa yang sudah kita kerjakan dan dapatkan pada Ramadhan ini, gunakan itu untuk menyongsong momentum qurban sebagai inspirasi fase aksi. Dan menyambut momentum hijrah sebagai inspirasi atas fase menapakkan eksistensi. Sehingga keluarlah dari Ramadhan dengan pribadi yang berani dan siap berkorban. Ini adalah militansi.

 Sebuah militansi lahir dari sikap optimis dan sabar, dilengkapi dengan kapasitas ilmu dan pengalaman. Optimis dan sabar kita peroleh dari momentum isra mi’raj. Sedangkan momentum Ramadhan memberi kita kapasitas ilmu dan pengalaman.

Kemudian melahirkan keberanian dan siap berkorban. Kita yang sudah diberikan tantangan tunaikan keberanian itu menjadi aksi, dan rengkuhlah berkah dari pengorbanan-pengorbanan yang kita lakukan. Pengorbanan waktu, pikiran, perasaan, harta, dsb. Semakin besar pengorbanan atas resiko yang kita jawab, maka semakin besar rezeki yang akan menemui kita.

Kerinduan akan Ramadhan sesungguhnya muncul dari kebutuhan tentang eksistensi kita di dunia ini, sebagai tanda eksistensi kita di akhirat kelak. Eksistensi kita setiap tahun harus lebih baik. Dua, tiga, sepuluh, atau bahkan seribu kali lipat. Energi yang berlipat inilah yang dibutuhkan untuk kita mendamba surga Allah sebagai puncaknya eksistensi.

Sebagai pekerja, terutama pekerja muslim, setiap Ramadhan haruslah membawa peningkatan kapasitas dan karier. Meningkat dengan lompatan yang luar biasa. Dan lompatan-lompatan itu, nanti akan kita kenang sebagai salah satu lompatan yang kita buat untuk mencapai surga.

~ by VIQEN on October 13, 2008.

6 Responses to “MENINGGALKAN RAMADHAN YANG KAU KEJAR”

  1. diterima atau tidaknya puasa ramadhan seorang umat bukan d lihat dr amalan yang dia lakukan selama ramadhan,
    tp bagaimana dia mempertahankan utk tetap melakukan amalan2 trsebut walaupun ramadhan telah usai..😆

  2. hehhe jadi sulit ya cari pahala klo gak pas bulan puasa

  3. saat takbir berkumandang
    ada tangisan menjelang
    tangis kegembiraan akan datangnya Lebaran
    tangis kesedihan akan perpisahan dengan Ramadhan

  4. ramadan udah lewat ..
    tapi kita tetep semangat beribadah ok??? 🙂

  5. semoga kita bertemu ramadhan lagi, tahun depan, amin

  6. […] SUMBER DISINI […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: