Mempelajari Piagam Madinah (2)

 

Suasana yang Melingkupi Kelahiran Piagam Madinah

Piagam Madinah lahir dari kondisi yang ada sebelum Rasulullah hijrah. Dimana di Yatsrib pada saat itu dicekam oleh konflik berkepanjangan antar suku. Dua suku terbesar, ‘Auz dan Khazraj terlibat perseteruan yang berdarah-darah.

Suku yang lebih kecil memperkeruh keadaan dengan terbelah menjadi pendukung kedua suku besar yang berkonflik. Sementara kondisi permusuhan dan perpecahan sedemikian kuat, bangsa Yahudi sebagai pendatang terus menghembuskan suasana permusuhan. Mereka memang mengatur untuk mendapat keuntungan materil dari konflik yang terus dihangatkan itu.

Penduduk Yatsrib kemudian meminta Rasulullah untuk menciptakan perdamaian dan ketentraman. Dimulai dari kesadaran masyarakat Yatsrib untuk keluar dari suasana mencekam konflik yang tiada berujung, semakin rumit dan melelahkan.

Kesadaran ini pula yang menjadi pondasi lahirnya ruh kedamaian dalam piagam Madinah. Sebuah konsep yang sempurna dan kesiapan merealisasikan dari masyarakatnya. Islam sejatinya telah siap dengan konsep yang pertengahan dan mendamaikan bila difahami secara benar dan menyeluruh.

Sementara itu psikologis masyarakat Yatsrib yang berada diujung kekecewaan memang selalu dipastikan akan memunculkan harapan. Bagaikan di ujung musim gugur yang mendatangkan musim semi. Anis Matta menyebutkan itu semua sebagai pertanda sejarah akan lewat di sini.

Rasulullah kemudian didatangkan ke Yatsrib dan mempresentasikan konsep sempurna untuk menciptakan dunia sebagai tempat yang lebih baik. Sementara itu masyarakat sudah berada tingkat kebutuhan akan solusi yang memuncak. Kohesi itupun terbentuk melahirkan tata kehidupan baru yang egaliter, terbuka, produktif dan kokoh untuk menghadapi tantangan zamannya.

 

Kohesi antara Sistem Sempurna dengan Kesadaran Masyarakat

Di Madinah 14 abad silam, telah terumuskan sebuah dokumen politik yang memberikan kehidupan berbangsa yang menentramkan ditengah keragaman. Dengan sebuah bukti besar adanya perdamaian untuk sebuah konflik antar suku yang berkepanjangan.

Dokumen tersebut secara elegan menetapkan prinsip-prinsip konstitusi negara modern. Berkaitan tentang kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat, tentang perlindungan terhadap harta dan jiwa anggota masyarakat, dan larangan orang melakukan kejahatan.

Yang terpenting, sistem yang sempurna itu menemukan momentumnya diujung penderitaan masyarakat Makkah yang tercerahkan yang kemudian hijrah dan diujung segala kerumitan konflik berdarah yang berkepanjangan masyarakat Yatsrib.

Keadaan setelah momentum itu benar-benar merupakan kondisi yang bertolak belakang. Seluruh Madinah telah menjadi sebuah komunitas terhormat, berperadaban dan siap dengan berbagai kemajuan dalam berbagai bidang. Yang tentu saja akan menjadi ancaman bagi bangsa yang pada saat itu masih memiliki dominasi. Mereka adalah bangsa Quraiys secara lokal dan Romawi dan Persia dalam skala global.

 

Kohesi itu Melahirkan Energi Bagi Peradaban

Maka, Madinah sebagai suatu wilayah dengan tata aturan yang maju tersebut rentan untuk dirusak oleh kekuatan lain yang masih kental dengan fanatisme kesukuan. Untuk itu dokumen itu pun mengatur pengamanan terhadap sistem yang sempurna ini untuk terus bergulir.

Sehingga sistem ini akan berjalan dan menghasilkan manfaat untuk membentuk peradaban mulia. Mereka kemudian bekerja sama antara sesama mereka untuk saling menghormati segala hak dan kebebasan yang sudah disepakati bersama dalam koridor niat baik dan saling memuliakan.

Segenap hasil eksplorasi kemuliaan pada masa itulah yang memberikan energi bagi kehidupan kita saat ini. Ketika hari ini kita menemukan kembali permasalahan yang sedemikian pelik dan seolah-oleh buntu. Dengan sebagian tandanya berupa krisis Amerika.

Maka kita bisa bertanya, bahwa energi dari sumber kemuliaan itu sekarang sudah habis. Untuk itu, semua kaum muslimin mesti kembali ke pertambangan kemuliaan untuk mengeksplorasi lagi kemuliaan itu.

Gerakan ini jangan dipandang sebagai kebutuhan eksistensi sebuah agama. Tapi sebagai bentuk manifestasi memberikan jalan bagi munculnya sistem yang sempurna bagi masyarakat dunia yang berada di ujung kebingungannya.

Demikianlah piagam Madinah. Ia adalah representasi dari kebutuhan masyarakat global yang menghendaki perbaikan pada tarap hakikat. Bukan tambal sulam yang sekedar kamuflase dan memikat.

Mari kita ambil piagam Madinah secara substansi bagi perbaikan peradaban ini. Dibutuhkan kecerdasan, keluasan wawasan, pemahaman integral, kebijakan hati dan sudut pandang, serta kedewasaan mental yang terbimbing kebenaran Illahiyah. Untuk mengambil ruh piagam Madinah, dan menyajikannya untuk penyelamatan peradaban ini.

 

Hanya akal-akal raksasa yang tercerahkan wahyu yang siap menjadi pimpinan proyek peradaban kehendak Allah. Di mana mereka sekarang?

~ by VIQEN on October 22, 2008.

5 Responses to “Mempelajari Piagam Madinah (2)”

  1. demikianlah piagam madinah, sesungguhnya monumen untuk sebuah awal kehidupan modern yang beradab. semuanya dibangun atas kehidupan bersama yang teratur diatas perbedaan namun hidup dengan harmonis, maju dan mensejahterakan.

  2. Kang..bisa di postin nggak pasal-pasal PIAGAM MADINAH itu….biar nambah ilmu lagi gitu……:)

  3. […] https://trendibandung.wordpress.com/2008/10/22/mempelajari-piagam-madinah-2/ […]

  4. mulia sekali piagam madinh,good luck my friend

  5. i think it’s so provent for us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: