Tim Time

 

Sungguh kekhawatiran yang luar biasa, ketika harus membandingkan daya serap tenaga kerja di Negara China dengan semakin sempitnya lapangan kerja di negeri ini. Ada 1,5 milyar orang berdiam di China. Mereka dari setiap jenjangnya bergerak merangkak menuju kehidupan yang terus lebih baik. Migrasi besar-besaran dari pedalaman masuk ke lubang-lubang produktif. Memutar mesin-mesin penghasil barang murah dan mudah laku.

Luar biasa. Sangat luar biasa, apalagi bila kita pun menghitung orang China sisanya yang tersebar di negara-negara di luar negeri China. Jimlah mereka bila dikumpulkan akan menjadi satu Negara sendiri. Bahkan terhitung sebagai Negara besar kelima. Biasanya mereka telah mapan, terpelajar dan diandalkan. Melihat negeri China-nya sedemikian menjanjikan, merekapun berbondong-bondong kembali kesana.

Bukan itu saja, penyerapan itupun terjadi bagi tenaga-tenaga kerja asing. Berkaitan sebagai strategi alih teknologi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melipat gandakan daya serap. Belum lagi pertumbuhan dari negara-negara penyokongnya, seperti Jerman dan Jepang yang menikmati penjualan surplus dari mesin-mesin industrinya.

Para pejabat China sendiri berjuang keras membuat pertumbuhan di atas tujuh persen untuk mengeluarkan warga negaranya dari kawasan beban negara ke dalam kawasan produktif. Sponge super serap telah tercipta membawa China diambang kedigdayaan menjadi negara adidaya.

Pertumbuhan yang mengejutkan itu tengah berlangsung oleh orang-orang China yang dulu sulit diberi makan dan diberi pekerjaan. Sementara itu di sini penganggurannya meningkat terus mencapai 11,1 juta (Maret 2006) ditengah pertumbuhan 5,5%, yang sebenarnya tidak terlalu buruk. Namun hampir bisa dipastikan, semuanya lahir dari rencana pertumbuhan yang tidak melibatkan warganegaranya secara luas.

Pertumbuhan yang diraih tidak menghasilkan keunggulan atau bahkan tidak memberikan nilai tambah sama sekali. Karena pertumbuhan tersebut tidak dihasilkan oleh tumbuhnya industri-industri strategis yang diisi oleh pekerja­-pekerja produktif.

Solusi mendasar yang coba ingin disampaikan berkaitan dengan fenomena negara China ini adalah memperbaiki hubungan industrial antara pekerja, pengusaha dan pernerintah.

 

Berpikir Sebagai Satu Tim

Selalu ada luka ketika kita membicarakan membangun industri di negeri ini. Komunikasi antar berbagai pihak, apakah dia pengusaha, pekerja, ataupun pemerintah selalu berujung pada adu argumen tanpa titik temu. Pengusaha takut bisnisnya gagal. Pekerja takut tidak dibayar sesuai harapan. Sehingga nampak terlihat keduanya seperti bertolak belakang dan saling rebutan. Padahal bila kita fahami lebih mendalam tidak demikian adanya.

Memang kemudian mata kita melihat pekerja mendemo perusahaan atau pemerintah. Memang kemudian pengusahapun bersikukuh dengan hitung-­hitungannya. Memang kemudian media menjual itu sebagai berita menarik suatu konflik yang panjang dan berefek endemik. Tapi pikiran yang jernih dan hati yang bersih bisa melihat itu sebagai kesamaan yang nyata, yakni keduanya sama-­sama takut. Takut gagal bisnis dan takut dibayar sedikit. Masalahnya ketakutan itu tidak dikemas kedalam langkah-langkah positif untuk saling mengerti dan memahami. Tapi lebih dihayati sebagai drama kepedihan.

Mari kita tingkatkan lagi kejernihan pikiran dan kebersihan hati kita tadi. Maka akan kita rasakan, bahwa semua ketakutan itu sebetulnya sama-sama bermuara kepada satu kesepakatan bahwa bisnis yang dibangun tidak boleh merugi, mundur dan bangkrut. Karena itulah sumber masalah untuk semua pihak. Bisnis yang merugi, mundur dan bangkrutlah yang ditakuti pengusaha karena mengakibatkan gagal bisnisnya dan amblas investasinya. Juga ditakuti pekerja karena akan mendapat penghasilan yang mengecewakan bahkan kehilangan pekerjaan.

Ketakutan pihak-pihak tersebut sebetulnya bermakna keinginan kuat untuk bersama-sama memilki perusahaan yang sehat, maju dan unggul. Kesamaan­-kesamaan tersebut menuntut kita, pengusaha dan pekerja, untuk mulai berpikir sebagai satu tim. Keduanya hadir sebagai dua pihak yang bersepakat dalam agenda-agenda produktif menciptakan kemajuan dan keunggulan. Keduanya bersepakat menjaga lumbung-lumbung produktif yang tumbuh dan menyerap tenaga kerja serta membuahkan produk-produk unggul berdaya saing tinggi. Sehingga menjauhkan kedua belah pihak dari ketakutan yang tidak perlu.

Untuk memulainya diperlukan pekerja-pekerja yang cerdas, berdaya dan handal. Sehingga berputarlah mata rantai solusi ini. Dengan kecerdasannya mereka memiliki sudut pandang menyeluruh terhadap permasalahan dan memiliki visi kedepan yang maju sehingga memiliki kesadaran berjuang dan bekerja sama. Dengan keberdayaannya mereka memiliki ilmu dan kemampuan yang tepat untuk berkarya. Dengan kehandalannya mereka mampu menjadi tonggak-tonggak penentu keunggulan bisnis perusahaannya. Merekalah yang akan siap mendukung perusahaan dan bertarung menciptakan keunggulan.

Secara alamiah pekerja andalan ini akan bertemu dengan pengusaha-­pengusaha yang jujur dan memiliki bisnis yang bagus. Mereka akan berkumpul dan berkomitmen merencanakan bisnis dalam jangka panjang dan maju. Dan mereka siap bahu-membahu membentuk bangunan bisnisnya secara konstruktif. Maka terciptalah kerja sama atas dasar saling percaya yang menumbuhkan semangat saling mendukung untuk bertarung menciptakan keunggulan demi keunggulan. Pekerja dan pengusaha, berpikirlah sebagai satu tim.

 

~ by VIQEN on October 31, 2008.

One Response to “Tim Time”

  1. […] Tim Time […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: