Peran Perang Rasulullah dalam Memerangi Era “Perang”

 

Atas kehendak-NYA, TUHAN menciptakan masa dimana kehormatan suatu bangsa dinilai dari kemenangan “perang”. Tentu saja “perang” yang dimaksud adalah pertempuran fisik dimana disitu terhembus aroma permusuhan, dendam kesumat, dan penguasaan. Tentu saja aroma itu melahirkan penjarahan, perampasan, pembunuhan, kezaliman, kesewenang-wenangan. Tentu saja ada tindakan penuh emosional untuk menghancurkan bangunan, merusak kehormatan wanita, berlaku kasar kepada orang lemah dan anak-anak, serta perbuatan merusak muka bumi lainnya.

Namun atas kehendak-NYA pula, TUHAN menurunkan Rasulullah ke muka bumi untuk merubah wajah perang. Dari bentuk perang yang sangat fisik kepada perang yang minim fisik, namun penuh dengan unsur kecerdasan. Penggunaan unsur kecerdasan dalam berperang ini kemudian mendesak proses fisik dari perang tersebut menjadi semakin sedikit digunakan.

Dampaknya, sekarang perang yang kita saksikan sebagian besar sudah pada tataran adu strategi, pemenangan alam idealita, penguasaan dalam benak atau berupa pengakuan. Bukanlah lagi atas takluknya suatu bangsa karena bombardir agresi militer. hari ini kalau kita masih melihat adanya bentuk peperangan fisik, malah dinilai aneh dan bakal mendapat hujatan. Seperti agresi ke Iraq yang belakangan kebijakan itu ditiadakan oleh Obama. Penguasaan secara militer Israel kepada Palestina yang kenyataannya dibenci mayoritas manusia di muka bumi ini. Dan banyak lagi kasus dibeberapa tempat yang menunjukkan bahwa perang fisik sudah bukan zamannya lagi.

 

Mengapa tonggak perubahan itu dipegang oleh perang “ala” Rasulullah?

 

Rasulullah Sangat Menghindari Perang

Kelembutan hati Rasulullah sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah beliau terasa sangat bertolak belakang dengan perang-perang yang telah beliau lakukan. Tentu saja perang yang dimaksud adalah perang dalam tanda kutip, karena tujuannya untuk kehancuran yang masa itu memang trendnya, atau eranya.

Pada masa 13 tahun pertama melakukan proses perbaikan masyarakat beliau berada di posisi tertindas yang teramat sangat. Kalau saja Rasulullah itu seorang yang senang akan penguasaan, penghancuran dan penindasan yang menjadi watak perang saat itu. Mungkin karakter itu akan muncul ketika beliau berada dalam keterdesakan penyiksaan tersebut.

Keterdesakan yang luar biasa itu sangat mungkin meledakkan emosi bila Rasulullah adalah orang yang senang berperang hancur-hancuran. Bagaimana ketika Uqbah bin Abi Mu’ith melemparkan kotoran binatang ke atas punggung Rasulullah. Beliau hanya berdiam sampai akhirnya Fatimah datang membersihkanya.

Ketika Rasulullah tengah berjalan di lorong Makkah ada yang menaburkan tanah di kepalanya. Beliau tidak berontak dan kembali hanya diam sampai seorang putrinya membersihkan sambil menangis. Kemudian Rasulullah hanya berkata, “wahai anakku, jangan engkau menangis, sesungguhnya Allah melindungi bapakmu.”

Tidak hanya itu, penindasan itu berlangsung terus dengan eskalasi yang semakin tinggi. Dengan penekanan, godaan, percobaan pembunuhan, sampai kepada pemboikotan ekonomi. Pemboikotan yang zalim ini merupakan puncak penderitaan Rasulullah pada saat itu. Sekali lagi bila Rasulullah itu adalah seorang yang barbar, maka tidak akan ada kesabaran untuk melewati penderitaan seperti itu bertahun-tahun lamanya.

Dipuncak penderitaan itu dan demi melihat keganasan kaum kafir pada saat itu kemudian Rasulullah mencoba hijrah ke Tha’if. Ternyata di sana beliau ditolak mentah-mentah. Bahkan mereka mengerahkan para penjahat dan budak untuk mencerca dan melemparinya dengan batu. Mengakibatkan Rasulullah dan Zaid bin Haritsah mengalami cedera. Saat itu pun tidak terjadi sikap membalas dan dendam kesumat dari Rasulullah.

Bahkan kondisi yang lemah tersebut melahirkan empati dari dua anak lelaki Rabi’ah yang memiliki kebun dimana Rasulullah berteduh di bawah kebunnya pada saat itu. Yang kemudian memerintahkan Addas memberikan anggur. Sejarahnya kemudian menunjukkan Addas berlutut di hadapan Rasulullah, lalu mencium kepala dan kedua tangan serta kedua kaki beliau. Seorang yang begitu mudah mengundang simpati dari hati nurani yang hidup seperti itu, rasanya jauh dari cita rasa yang buruk tentang perang pada saat itu.

Dalam penderitaan yang semakin memuncak itu Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk mengkonsolidasi kekuatan untuk menyerang. Tapi beliau terus mengajarkan kesabaran kepada para sahabat. Kita bisa saksikan di atas bagaimana sepak terjang beliau dalam menghindari konflik fisik. Dan kelak setelah memiliki kemampuan Rasulullah tunjukkan dengan elegan bagaimana indahnya perang yang dimaksud oleh beliau.

 

Rasulullah Menjalankan Perang dengan Basis Kecerdasan

Risalah Rasulullah bagi ummat terakhir ini mengajarkan tentang suatu semangat dan cara meraih keberhasilan. Dimana bentangan sirah nabawiyah itu memberikan referensi yang teruji dan terbukti tentang meraih sukses.

1.       Dimulai dari proses penentuan visi dan missi

2.       dengan membentuk mentalitas sabar untuk melalui prosesnya,

3.       penggunaan ilmu yang begitu kental

4.       dengan pelaksanaan strateginya yang dinamis atas permasalahan yang berkembang,

5.       keberanian atas dasar tawakal

6.       dengan pengorbanannya dalam menghadapi musuh yang berlipat-lipat kapasitasnya,

7.       sampai kepada memiliki segenap kesiapan untuk menang

8.       dan sejarahpun mencatatkan kemenangannya dengan spektakuler.

 

Demikianlah Tuhan menciptakan Muhammad SAW untuk membuktikan bahwa keberhasilan yang Dia janjikan itu ada. Dan sepak terjang Rasulullah itulah caranya. Hanya saja kemudian Tuhan memberi jalan keberhasilan itu, ternyata harus melalui perang yang sekali lagi tidak Rasulullah sukai. Hanya karena, bahasa yang ada untuk meraih keberhasilan saat itu adalah perang.

Sehingga digunakanlah prosedur perang ini untuk menunjukkan pertempuran sebenarnya ada pada adu kecerdasan. Maka bisa kita lihat perang-perang yang beliau jalankan penuh dengan strategi atas pemikiran yang mendalam.

  1. Dengan proses mempelajari musuh untuk mengetahui kunci kelemahannya dan menentukan treatment-nya. Rasulullah memulai peperangan yang elegan itu dengan mengenal musuh secara detail. Mata-mata selalu beliau sebarkan ke seluruh jazirah. Sehingga dengan informasi yang mendalam merupakan sarana bagi Rasulullah untuk menentukan langkah-langkah yang efektif dan efisien. Tujuan penaklukan untuk kebaikan tercapai, namun sebisa mungkin tanpa perlu menelan korban.
  2. Dengan mengirim delegasi atau diplomat untuk melakukan negosisasi penaklukan yang memuliakan dan membawa jalan keselamatan dunia akhirat. Sesuai dengan penelaahan yang mendalam terhadap musuh, demi sebuah pertempuran yang berada di tataran hati nurani, alam sadar dan logika, maka dilakukan pertempuran dalam tataran ide dan gagasan.
  3. Dengan membuat taktik dan strategi intelegensi yang mengunci logika pengakuan atas kemenangan kalau perlu tanpa pertempuran. Rasulullah selalu mengajak para sahabat terkemuka untuk membicarakan strategi militer yang tepat. Keputusan musyawarah lebih dijunjung demi persatuan. Seperti pada perang Uhud dimana beliau menghendaki bertahan di dalam kota namun beliau tetap konsisten dengan keputusan syuro yang memutuskan menghadang pasukan musuh di luar kota.
  4. Dengan membuat rencana peperangan kalau tidak bisa dihindari dengan meminimalisir jumlah korban. Rasulullah selalu berpesan, peperangan yang membunuh adalah pilihan terakhir dan tetap jangan membunuh wanita dan anak-anak. Tidak merusak bangunan non-militer, menebang pohon dan merusak lahan pertanian musuh. Beliau sempat marah ketika pasukan Khalid bin Walid tidak bisa menahan diri yang mengakibatkan banyak jatuh korban dari pasukan musuh. Bahkan Rasulullah berdoa, ”Ya Allah, aku berlepas tangan kepada-Mu dari apa yang diperbuat oleh Khalid bi Walid”. Bahkan kemudian Rasulullah memberikan kompensasi berupa diyat (blood money) dan mengganti harta benda mereka yang dirusak.
  5. Dengan ditunjukkan dalam komando sederhananya, ”Berperanglah dengan nama Allah, di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah! Berperanglah dan janganlah kalian melampaui batas, jangan melanggar perjanjian, jangan mencincang korban, dan janganlah membunuh anak-anak…!” ”Berbuatlah kemudahan, jangan mempersulit; ciptakan ketenangan dan jangan membuat orang lari!”
  6. Dengan ditunjukkan dalam terkendalinya emosi Rasulullah walaupun pasukannya melanggar instruksinya. Ketika pasukan panah meninggalkan pos mereka di bukit Uhud sebenarnya Rasulullah berhak marah karena mengakibatkan kekalahan. Demikian juga ketika pasukan muslim kocar kacir di lembah Hunain. Dalam situasi sulit tersebut Rasulullah menunjukkan kematangan emosinya dengan tetap tenang dan berpengaruh bagi pasukannya untuk kembali bersatu dan mampu memukul mundur musuh.
  7. Dengan ditunjukkan dalam penugasan Usamah bin Zaid dari kalangan muda untuk menggantikan kepemipinan generasi sebelumnya. Artinya, peperangan ini menjadi sarana pendidikan yang melahirkan generasi penerus dengan kapabilitas yang memadai. Dan sangat tidak mungkin dilakukan ketika orientasi perang itu adalah penguasaan, kerakusan, dan sekedar doyan perang.
  8. Dengan ditunjukkan dalam sikapnya yang adil terhadap pasukannya. Pembagian harta rampasan perang merupakan persoalan yang muncul setelah kemenangan sebuah pertempuran. Kembali di sini diuji bagaimana sesungguhnya motif seorang pemimpin dalam melakukan peperangan itu. Ketika diawali dengan niat baik, maka akan berproses dengan baik dan akan diakhiri dengan kebaikan pula.

 

Bisa kita lihat bagaimana suasana perang yang awalnya bernuansa permusuhan, dendam kesumat, dan hanya semangat yang berapi-api, menjadi kepada suasana ilmiah, penuh ketenangan, berusaha memuliakan manusia, dan dengan membuat seting kemenangan yang elegan.

Dalam banyak ekspedisi dan peperangan, pasukan Rasulullah terbukti mampu menaklukan musuh dengan kemuliaan tanpa melalui pertempuran. Perang Khandaq, kemenangan diraih karena pasukan musuh akhirnya mundur tanpa peperangan yang besar hanya karena mereka berhasil diadu domba satu sama lain. Contoh yang lainnya adalah ekpsedisi yang dilakukan kepada kaum Yahudi di Fadak.

Tapi yang paling fenomenal dan juga tanpa harus melalui pertempuran sengit adalah pembebasan Makkah. Subhanallah, Allahuma shalli ’ala Muhammad. Ya nabi salam ’alaika, ya Rasul salam ’alaika, ya Habib salam ’alaika, shalawatullah ’alaika.

 

Nabi Musa as sebagai nabi yang mendapat amanah kekuasaan sampai zaman Nabi Daud memiliki sebuah prestasi gemilang. Dengan mengendalikan peradaban dengan kekuasaan yang mungkin lebih bersifat kekuasaan seorang raja, seperti diantaranya nabi Sulaeman. Tapi Rasulullah memimpin peradaban ini dengan memberikan visi yang jelas dan kokoh, dengan contoh praktik semangat bersabar akan proses, khazanah dan kemuliaan ilmu, dengan kehalusan dan kelembutan akhlak, dan tentu saja dengan bukti atas kemenangan yang tak terbantahkan.

Saatnya kita kembali menguasai peradaban dengan menguasai alam logika pengakuan dunia internasional. Dengan melanjutkan wajah perang yang sudah Rasulullah rubah sedemikian drastis. Maka hari ini perjuangan kita ada pada penguasaan bahasa perang modern saat ini. Dimana peran alam pikiran dan hati nurani lebih mendominasi.

Bagaimana kemudian perang ideologi antara sistem bank syari’ah dan sistem bank konvesional memberikan kemenangan pengakuan atas kuatnya sistem syari’ah. Bagaimana kemudian praktek pengelolaan manajemen manusia dengan basis syari’ah ternyata menunjukkan kebertahanan dalam pengelolaan SDM atas perusahaan, organisasi, partai politik atau institusi lainnya.

Bagaimana dengan Anda? Sudah berada di mana Anda sekarang ini? Mari kita mulai mengembalikan sumber kebaikan itu menjadi realitas peradaban kita saat ini.

 

~ by VIQEN on November 14, 2008.

5 Responses to “Peran Perang Rasulullah dalam Memerangi Era “Perang””

  1. 🙂 alhamdulillah

    sudah lama saya tak berkunjung ke kota anda.
    sepertinya byk yg tak seperti dulu kala…

  2. Boleh saya katakan kalau serangan bom bali dll itu tidak efektif dan efisien. Belum dapat dikatakan kalau pelakunya meneladani Rosul. gak ngerti aja kalau mereka sangat yakin yang mereka lakukan itu adalah “jihad”. Mau diputer2 kayak apa juga alsan pengeboman itu gak pernah bisa diterima…

  3. (*wondering*) : gimana ya, penjelasan para pelaku yang mengatasnamakan misinya sebagai jihad, kepada :
    1. para keluarga korban meninggal, yang ga tau apa-apa
    2. para korban yang masih hidup, yang ga tau apa-apa, yang
    karena kejadian itu mereka harus menghabiskan sisa umur mereka
    dalam keadaan cacat dan ga bisa lagi menafkahi keluarga nya…

    btw, salam kenal kang… (orang bandung kan…? sama dong…!)
    http://deedeeprasatya.wordpress.com

  4. Bagus artikelnya
    Rasulullah perang bukan untuk semata2 perang

  5. […] Hal ini dibahas pada tulisan berjudul Peran Perang Rasulullah dalam Memerangi Era Perang. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: