MASIHKAH MUHAMMAD SAW MENANGIS?

Tangisan Muhammad SAW sesaat menjelang wafat tetap sebuah misteri. Mungkin beliau membayangkan dan menangisi betapa bodohnya kita hari ini mengintrepretasikan apa yang beliau maksud dari sepak terjang perjuangannya. Tapi dibalik kebodohan itu, malah kita muncul kepermukaan dan mengaku-ngaku kitalah yang paling membela beliau. Seolah-olah kitalah yang paling sesuai dengan perjuangan beliau. Seolah-olah kitalah yang paling ngerti maunya beliau.

 

Tapi ternyata kita tidak pernah menjadi apa-apa dan tidak pernah merubah apa-apa. Ternyata kita cuma mempermainkan hal remeh dan ribut besar disitu. Ternyata pikiran kita masih terlalu cetek untuk merengkuh betapa semestanya alam pikiran Muhammad SAW. Sebuah alam pikiran yang tidak memberi sekat. Tapi memberi padang yang luas untuk semua keinginan hidup, sejauh itu berawal dari niat baik.

 

Muhammad SAW bisa mendamaikan dan mempersatukan suku yang semula bertikai dengan tajam di Yatsrib. Bahkan kemudian bersama-sama dengan suku-suku yang berbeda dan bertikai tersebut dipersaudarakan dengan suku pendatang. Dan bukan kepalang pusingnya, mereka yang pendatang ini datang dengan kondisi lemah secara ekonomi. Karena sumber penghidupan mereka ditinggal di Makkah.

 

Tidak sampai disitu, setelah fathu Makkah bahkan beliau bisa mempersatukan jazirah Arab ke dalam suatu pengaturan yang sangat moderat. Dimana bangsa Arab yang ”doyan” perang, mudah bertikai dan gampang konflik, bisa dipersatukan. Walaupun tetap dalam kekhasan suku-suku itu sendiri atau tetap dalam perbedaan. Artinya, Muhammad bisa merangkul mereka yang berbeda-beda, bahkan mereka yang berbeda ideologi. Sampai kemudian kesatuan itu meluas keberbagai wilayah bumi.

 

Bagaimana mungkin hal itu terjadi ketika beliau tidak jeli menyelami perbedaan yang ada dan sumber utama konflik yang terjadi. Keberhasilan itu telah menunjukkan bahwa beliau TELAH TEPAT menempatkan posisinya diantara semua perbedaan. Dan itulah yang diinginkan Tuhan. Menyampaikan ajaran yang mempertemukan perbedaan ideologi yang ada. Dengan kubu ekstreem-nya masing-masing kemudian ada jaring ditengah yang mempersatukan dan merangkum itu semua.

 

Mari kita renungkan apakah tangisan Muhammad SAW diujung hidupnya itu berlangsung terus sampai sekarang? Demi melihat betapa bodohnya kita menangkap hal-hal substantif dari yang beliau perjuangkan. Sekali lagi, sangat mungkin kita menjadi orang yang sama kecewanya atas pilihan Muhammad SAW dengan perjanjian Hudaibiyah. Bedanya, sekarang kekecewaan itu terekspresikan dan menguat menjadi kegiatan, lembaga atau bentuk2 lain yang lebih masiv. Dan jangan-jangan itu yang mengkebiri sebuah ajaran yang semula memiliki kemampuan dahsyat untuk mensejahterakan hidup ini.

 

Adakah suatu kalimat yang esensinya sama seperti yang disampaikan Muhammad SAW ketika berbicara soal piagam madinah. Sudut pandang ini menarik dan harus ditelusuri untuk mendudukkan posisi Islam dengan tepat (diatas dan tidak bisa diatasi). Dimana pemahaman itu membawa kondisi:

1. bersatunya perbedaan dari suku2 yang bertikai di yatsrib

2. bersatunya perbedaan di jazirah Arab

3. bersatunya perbedaan di sebagian wilayah bumi

 

Sehingga dengan kalimat itulah kita bisa keluar dari pemahaman Islam yang sempit sebagai agama. Yang kemudian “nasibnya” harus dipersaingkan dengan agama lain. Menjadi pemahaman Islam yang benar dimana ia selalu memuaskan ideology apapun.

 

Sehingga mempelajari Islam adalah menemukan folder untuk file2 yang masing2 berbeda dan tidak bisa disatu file-kan.

Mempelajari Islam adalah menjadi arranger dari semua alat musik yang memang telah tercipta beragam dengan jenis suara yang dihasilkan extremely berbeda.

Mempelajari Islam adalah menjadi moderator atas pergolakan idealisme pemikiran dan berjuta jalan kebaikan yang mungkin ada.

Mempelajari Islam menjadi kesimpulan atau bahkan “executive summary “ atas pemikiran detail dari setiap bab yang kepentingannya berbeda-beda.

 

Sehingga kita mesti berpikir ulang, mungkin kita masih hadir dengan pemahaman Islam seperti mereka yang merasa kecewa dengan perjanijan Hudaibiyah. Yang merasa perjanjian itu merugikan umat Islam. Karena umat Islam memandang kita harus membela Islam.

 

Padahal Muhammad SAW memandang hakikat Islam itu kuat dan tidak perlu pembelaan manusia. Kebenaran Islam ketika dibuktikan secara A-Z, atau Z-A, atau Q-S, atau B-W, semuanya akan tetap menunjukkan kebenaran. Karena Islam tercipta sebagai formula untuk mengatasi perbedaan yang ada. Perbedaan dibuat oleh Tuhan dan Tuhan pula yang berkenan memberikan cara menemukan sinergi atas perbedaan itu.

 

Tantangan untuk menjadi makhluk pengemban posisi “di atas” yang dianugerahkan Tuhan melalui Islam ini yang berat dan sampai sekarang belum ada orang atau pihak yang mampu merepresentasikannya. Dimana ia adalah wujud persatuan dari sejuta perbedaan.

~ by VIQEN on November 19, 2008.

7 Responses to “MASIHKAH MUHAMMAD SAW MENANGIS?”

  1. Kanjeng Nabi Muhammad menangis, karena benar2 prihatin akan nasib umatnya, yang tercerai berai, berjumlah banyak tapi seperti buih lautan…

  2. mungkin beliau ga tega meninggalkan umatnya karena udah mendapat gambaran akan begini ini sang umat setelah kepergian beliau

  3. ah tak tertandingi segala yang dimiliki Rasul … ya ALLAH hamba ingin seorang imam yang berkiblat pada Rasul MU🙂

    *ngarep*

  4. tangis Baginda, rindu hamba.
    salam kenal juga, kumaha damang?

  5. tiada ada yg bisa menggambarkan
    @rindu
    semoga doanya terkabul..
    amin

  6. Saat dunia makin terbuka, informasi mudah di dapat dan ilmu pengetahuan semakin canggih… mengapa saya khawatir, jika hal itu mungkin, tangis Rasulullah justru akan terdengar lebih dalam..?

    Entahlah, semoga kekhawatiran saya tidak beralasan..

  7. Dua puluh tiga tahun Nabi Muhammad Saw menjadi Rasul.
    Di Madinah 10tahun setara dengan Dua kali masa jabatan Presiden sekarang,Beliau menjadi pemimpin bangsa.

    Nabi Muhammad pun Wafat dengan meninggalkan “Keteladanan yang sempurna”
    Untuk menjalani kehidupan, selebihnya Beliau menyerahkan pada setiap muslim yang telah di bekali Allah dengan nurani dan akal untuk mengadaptasi ketauladanan itu sesuai dengan masa dan situasi yang berbeda-beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: