Tuluskan, Putuskan, Teruskan

refflek-si andri | Mesti ngambil paket yang dikirim adik saya dari Malang? Siap! Soalnya ini yang merintah ibu saya. Kalau sudah ibu yang minta jangan berani nolak deh. Karena pasti ada sesuatu disitu.

Waktu ke sana pagi-pagi sebelum kerja, ternyata kantornya belum buka. Padahal secara saya yang ingin mencoba disiplin masuk kerja, ini solusi agar bisa tetep menjaga kewajiban jam kantor. Mana tempatnya di Bandung bagian selatan. Sementara tempat kerja lebih ke Bandung sebelah utara. Dan harus melalui jalan Kiara Condong, yang konon dulunya males banget lewat situ, macetnya itu. Tapi memang bukan itu masalahnya.

Ya sudah akhirnya dijadwalkan hari ini pas jam istirahat. Itu pun tetep ikut dulu ritual shalat Dzuhur berjama’ah plus kultumnya. Setiap hari Senin pas lagi puasa sunnah memang dikantor Dzuhurnya dilengkapin kultum. Ini kan demi menegakkan disiplin yang memang selalu saya harapkan dari semua karyawan. Kalau sayanya sendiri seenaknya, gimana yang di bawahnya, ya ngga? Dan sekali lagi bukan itu masalahnya.

Akhirnya setelah saya ambil paketnya, pulangnya saya ambil jalan yang lewat kampus tempat saya kuliah dulu. Oiya, perjalanan juga cukup lancar. Ternyata setelah adanya fly over jalanan ini cukup mengasyikan juga. Dan lagi-lagi bukan ini masalahnya.

Tapi begini nih, mungkin karena niat kita pengen berbakti sama ibu dengan tulus, ternyata hasilnya saya menemukan sebuah perenungan yang luar biasa. Permintaanya memang urusan sederhana. Tapi ketika dijalanin cukup mengganggu aktifitas kerjaan.

Pas lewat didepan kampus, pikiran saya menerawang ke tahun 1992-an. Ketika itu saya bersikeras untuk masuk ke jurusan seni rupa yang menjadi cita-cita saya. Tapi kemudian ibu memilihkan saya sekolah di tempat itu. Sebuah pilihan sederhana tanpa visi dan missi yang hebat-hebat. Sebuah pilihan sederhana tanpa proyeksi bakal kerja seperti apa. Sebuah pilihan sederhana tanda sebuah kasih sayang yang tulus.

Saya jalani tahun pertama dengan hasil IPK dibawah satu koma. Karena saya tetap mengambil kursus seni rupa, demi sebuah cita-cita saya yang membayangkan sesuatu yang di atas segalanya. Dan akhirnya terbukti, untuk kedua kalinya saya tetep gagal dalam tes masuk ke seni rupa. Maka saya harus meneruskan pilihan sederhana ibu saya. OK, saya akan berjuang disini.

Penderitaan mulai dirasakan sebagai mahasiswa yang alirannya NASAKOM (nilai satu koma). Tapi saya terus berjuang dan mencoba menemukan apa pesan disebalik ini. Saya dalemin inti ilmunya. Sampai kemudian saya memasang patok harus menjadi asisten dosen.

Mahasiswa satu koma pengen jadi asisten dosen?

Ya! Harus jadi asisten dosen dan harus di Laboratorium Sistem Produksi. Sebagai bidang praktikum –yang saya pikir– intinya jurusan yang saya ambil. Apa syaratnya? IPK harus minimal 2,5.

Baik, saya harus berpacu dengan waktu, maklum saya seperti turun angkatan, karena lebih sering kuliah sama angkatan di bawah saya. Saya susun strategi agar bisa mencapai IPK 2,5. Dan bisa! Jadilah mahasiswa nasakom ini asisten dosen. Bahkan mahasiswa nasakom ini nekat merubah kurikulum praktikum karena merasa ngga terlalu sesuai dengan kenyataan.

Sebelum lulus kemudian saya magang di sebuah industri garment sampai kemudian lulus. Di sana kembali saya berjuang untuk menemukan sesuatu. Dan ternyata memang semakin menemukan apa-apa yang membuat saya tambah  expert dengan bidang itu. Bidang yang sudah ibu saya ”putuskan” saat itu. Yang saya pikir sebuah keputusan yang sederhana saat itu.

Dari tahun 1998 sampai saat ini kemudian ini menjadi bidang kerja keahlian saya. Menjadi modal yang membuat saya bisa membukukan keberhasilan dan keberhasilan. Dari 1992 sampai sekarang tahun 2008 saya tetap menggeluti bidang yang ibu saya pilihkan.

Sampai kemudian –atas izin Allah dan kerja sama dengan berbagai pihak yang mendukung– saya bisa mengangkat sebuah perusahaan ke dalam pertumbuhan yang spektakuler. Akhirnya, saya memang termasuk golongan yang mengambil sangat besar manfaat, dari semua materi kuliah yang saya lalui. Tidak kaya kebanyakan orang yang kuliahnya dimana kerjanya kemana. Hehehe… Walaupun mereka pun banyak yang jauh lebih berhasil dari saya.

 

Tetapkan Keputusan dan Tetaplah Berjuang

Sebuah keputusan sederhana dan perjuangan yang mengikutinya adalah sistematika hidup yang bisa menjawab segala pertanyaan. Jawaban untuk sebuah masa depan yang sama-sama kita ketahui, gelap.

Kita sering berlama-lama untuk menetapkan diri mengambil keputusan. Yang kemudian akhirnya menyisakan waktu yang sedikit untuk berjuang. Bahkan seringkali kita ambil lagi kesempatan untuk merubah keputusan, hanya karena ada masalah atas pilihan yang sudah kita ambil. Akhirnya kita tidak pernah memiliki kejelasan arah perjuangan. Ya arahnya saja tidak jelas. Apalagi perjuangannya. Apalagi hasilnya.

Begitupun untuk permasalahan kota ini. Yang sejak awal selalu saya sampaikan, memang bukan itu masalahnya… Kali ini, kita jadikan sebagai masalah deh. Demi tema utama blog ini.

Diperlukan keputusan sederhana yang tulus untuk penyelesaian kota ini. Keputusan sederhana itu harus datang dari seorang pemimpin yang kasih sayangnya seperti ibu kita. Hadir dengan sebuah ketulusan. Dia tidak punya niat mengambil keuntungan pribadi. Dia tidak kepikiran sedikitpun untuk menjerumuskan kita. Dia hanya berkeinginan untuk menyalurkan kasih sayangnya kepada kita.

Dan secara sederhana pula kita dukung bersama-sama dengan sebuah perjuangan untuk menyempurnakan keputusannya itu. Seberat apapun kita menerima keputusannya. Sesulit apapun kita harus memperjuangkannya. Untuk sebuah keberhasilan yang luar biasa, semua itu menjadi tidak ada artinya.

~ by VIQEN on November 24, 2008.

4 Responses to “Tuluskan, Putuskan, Teruskan”

  1. ::kalau secara saya, inna a’malu binniat…entah apa maksudnya..pokoknya itu…🙂

  2. YUP..TULUS…SEMUA AKAN JD LANCAR…

  3. rasana indah jika se9ala sesuatu dilakukan d9 tulus ikhlas..:)

  4. […] Tuluskan, Putuskan, Teruskan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: