PIKIRAN BERSAHAJA UNTUK RITUAL BERHAJI

 

saya pernah bermimpi haji. lalu terbangun dalam keadaan menggigil. saya sampai takut tuk tidur kembali, takut ga bangun lagi. hehehe..

dan semua dalam mimpi itu, tanah suci itu kosong. jabal rahmah kosong, ka’bah kosong, tempat jumroh juga kosong, bahkan saya sadari saya sa’i sendirian. tidak ada manusia lain sebagaimana di tayangan tivi yang berjubel manusia. hmm, sejak itu saya berpikir keras.

 

bahkan selang lama dari itu, saya bermimpi sendirian menangis di samping tembok tugu jumroh. rasanya setan tak ada di situ, tak ada apa-apa di situ. bahkan tidak ada satu batupun di situ. rasanya malah saya yang minta di tumpuki oleh Allah. “ya Allah timpuki saya!” saya merasa setan tak ada dimana-mana selain di dalam diri saya sendiri dan mengalir dalam aliran darah ini. setan dalam diri saya yang bernama nafsu.

 

hehehe, maka boleh kah saya bilang, kalau Tuhan juga tidak ada di sana?

 

semua itu hanya simbol, maka tak perlu berlebihan. wajib? jelas wajib bagi yang mampu. baik secara materi dan jiwa.

 

saya bahkan pernah bermimpi sudah akan berangkat haji. sudah memakai baju ihram. lah, sama pembimbingnya saya malah di suruh bawa beras. loh? naik haji kok bawa beras?

tidakkah mimpi itu bisa berarti jika kau memberi makanan dengan makanan terbaik tuk orang miskin maka itu setara dengan naik haji???

saya ga bisa dan ga berminat tuk mentakwilkannya, selain saya lebih memilih tuk lebih memperhatikan sekitar saya. itulah haji -minimal- tuk jiwa saya, saat ini.

 

selebihnya biar tuhan memberikan yang terbaik buat saya dan keluarga terkait kewajiban rukun islam ttg haji

 

Demikian saya dapatkan komen dari seseorang tentang berhaji. Saya sih tidak bermaksud membuat ibadah haji ini menjadi sesuatu yang sia-sia. Tapi justru dengan berbagai upaya yang dikeluarkan dengan sangat berlebihan seperti sekarang ini, janganlah ibadah haji ini menjadi kurang bermakna.

 

Kita sudah mengerti bahwa rukun islam juga di mulai dari syahadat, shalat, zakat, puasa. nah baru naik haji. saya pikir urutan itu menunjukkan sesuatu. Dan memang kalau bicara secara ummat atau menjalankan rukun islam itu secara berjamaah, maka saya juga merasa miris dan malu hati kalau pergi haji.

Secara umat mungkin fungsi syahadat juga belum bisa membuat aqidah ummat ini tegak. Masih banyak PR yang harus diselesaikan. Bahkan soal baca AlQur’an saja masih banyak yang kedodoran dan malah banyak juga yang ngga bisa.

Bicara soal shalat, ibadah ini dipakai sebagai password untuk menghitung pahala yang lain, artinya strategis dong. Berarti shalat ini bukan soal mengerjakan ritual sedemikian. Tapi bagaimana membuat diri terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Artinya kurang lebih bermanfaat kan. Termasuk bermanfaat dalam berjamaah yang manfaatnya 27 kali lipat.

Kemudian puasa. Berkaitan dengan peningkatan kapasitas ilmu dan amal diri kita. Bagaimana kapabilitas kita sebagai suatu umat mampu melahirkan kegiatan ilmiah dan amaliah yang unggul dibandingkan umat lain.

Kemudian baru zakat. yang berarti pertumbuhan kesejahteraan, atau pertumbuhan ekonomi, dsb. sehingga kemakmuran dan kelimpahan terjadi. tentu saja sudah tidak lagi berpikir soal kebutuhan dasar. dan tentu saja secara umat, bukan perorangan.

Barulah kemudian kita merasa nyaman dalam konteks psikologi sosial untuk berangkat haji. Begitu mungkin yang dirasakan dan ditafakuri sebagai ibrah dari mimpi “yang aneh”.

Rasanya ada semangat yang mengalir untuk lebih berpikir keras, bekerja keras, menumpahkan segenap kemampuan untuk membawa umat ini pada kehidupan yang lebih baik. Dan kita bersama berdoa agar ummat ini bisa secara berjamaah menyempurnakan semua rukun islam.

Maka kemudian ada pertanyaan lebih baik mana, pergi haji atau menyantuni anak yatim. Masalah ini masuk dalam wilayah fiqih prioritas. Kajian ini mencoba menggugah perasaan dan pemikiran yang selama ini dianggap agak kurang seimbang dan kurang adil.

Ada yang mengusik rasa keadilan dan rasa solidaritas para ulama adalah ketimpangan sosial yang sangat mencolok. Salah satu fenomenanya demikian: pada saat berjuta orang mengejar pahala ibadah haji dengan biaya yang bermilyar, di belahan bumi lain kita menyaksikan dengan mata telanjang bagaimana sebagian umat Islam mati kelaparan, baik karena bencana atau pun korban perang.

Saat orang-orang kaya dengan ringannya bolak balik ke tanah suci untuk beri’tikaf Ramadhan, masih banyak anak-anak umat Islam yang tidak sekolah karena tidak ada biaya. Mereka akan segera menjadi sampah masyarakat bila dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan.

Perbandingan fenomena yang timpang ini tentu sangat mengusik rasa keadilan dan rasa sosial para ulama. Sehingga sebagian mereka menghimbau agar lebih memperhatikan masalah ini. Bukankah biaya haji tiap tahun itu sangat besar, padahal berdimensi sangat pribadi? Seandainya uang milyaran dari yang akan berangkat haji ini untuk sekali saja kita sepakat dikumpulkan untuk membangun sebuah proyek yang mengahsilkan lapangan kerja, sudah cukup membuat umat ini sejahtera.

Semua pemikiran kritis ini sama sekali tidak berniat untuk mengecilkan nilai ibadah haji. Sementara memberi makan berkelanjutan bagi orang miskin dan memberikan pendidikan hukumnya fardhu.

Maka sesuatu yang fardhu dan bersifat massal harus lebih dipriorotaskan dari ibadah yang hukumnya sunnah lagi berdimensi individual.

Mari kita dorong agar sesama umat ini bisa memilih sesuatu yang lebih esensi dari maksud sederhana Tuhan menciptakan alam semesta. Berupa keberlangsungan hidup.

~ by VIQEN on December 1, 2008.

8 Responses to “PIKIRAN BERSAHAJA UNTUK RITUAL BERHAJI”

  1. Baru baca paragraf pertama, aku merinding, sungguh….

    Jadi inget saudara2 kita yang kebetulan bertempat tinggal dikampung2… Buat mereka naik haji itu adalah yang paling utama, cuma utamanya blum jelas apakah utama karena dapat mempengaruhi status sosial orang yg bersangkutan atau semata krn niat bertamu di rumah Allah….. Banyak kejadian, ada yang harus berangkat haji hanya karena untuk menjawab pertanyaa2 seperti ini : “si A saja udah udah naik haji, masak saya belum?” atau “si B sudah naik haji masak kamu belum?”…. Selebihnya yaa seperti yang tertulis diatas….. Disudut kampung ada anak yang tidak kesekolah krena spp nunggak sementara dikampung lainnya ada sikaya yang udah bolak-balik haji..

  2. Saat orang-orang kaya dengan ringannya bolak balik ke tanah suci untuk beri’tikaf Ramadhan, masih banyak anak-anak umat Islam yang tidak sekolah karena tidak ada biaya. Mereka akan segera menjadi sampah masyarakat bila dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan.

    Pendekatan melihat pada esensi tampaknya masih merupakan perjalanan panjang dan menyangkut paradigma pendekatan dakwah yang dijalankan para ulama kita juga. Jika setiap kali khotbah kita hanya mendengar himbauan untuk menjalankan riual agama (sholat, puasa, zakat, haji dan sejenisnya) atau ajakan agar menjadi orang yang takwa, titik disitu aja, tentu kita sudah bisa duga mengapa pemahaman umat juga cenderung hanya kearah rilualitas. Bukankan taqwa misalnya diuraikan secara gamblang dalam Al Quran sebagai tindakan real untuk berbuat kebajikan dan bukan sekedar menjalankan riual saja? Jika esensi ber-haji juga tak pernah disentuh (dalam pengertian yang benar2 dimengerti umat)mengapa korupsi makin merajalela saat hampir seluruh pejabat tinggi negeri ini telah berhaji (bahkan berulang-ulang)? Mengapa keadilan demikian susah dicari saat aparat penegak hukum dan hakim banyak sekali yang sudah berhaji ?

    Tampaknya para ulama dan kita semua punya banyak PR ya..?

  3. wahhh…sunggu pemikiran yg sangat2 menyentuh…saya sangat sependapat dengan pendapat itu…..
    saya punya cerita sedikit, dikampung saya di salah satu kota bugis di belahan Sulawesi Selatan terdapat persepsi orang kaya adalah orang yg sudah menunaikan ibadah haji berulang dan ironisnya ada yang pernah beribadah haji sampai 10 kali, padahal sanak saudaranya membutuhkan bantuan…gak hanya itu anak2 diajak beribadah haji menghabiskan ratusan juta, memang sih sisi baiknya bisa mengenalkan secara dini tp efeknya ibadah haji itu hanya sebagai sarana untuk menunjukkan tingkat sosial…salah satu hal yg bikin saya males pulang kampung ya begitu itu…hehehehe…knp ya duit itu gak dipakai saja untuk fakir miskin atau saudara atau keluarga yg membutuhkan???

  4. Memang kadang ada orang yang berhaji karena ingin status sosialnya naik.
    Berhaji harus ikhlas cuma karena Allah semata, maka akan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat

  5. Benar, sering ritual dalam beribadah lebih menonjol ketimbang substansinya. Banyak orang yang jor-joran membangun masjid sampai baguuus banget, beribadah berkali-kali, tetapi masyarakat sekelilingnya kurang makan, tidak mampu bersekolah, dan terbelakang. Lhah, apakah demikian itu ibadah yang baik?

  6. aQ kok jd ngeri y baca ttg mimpinya?? Sumpah, aQ ttp g ngerti maksdnya, seklipun udah dijelsin bbrp hal terkait hal itu…mmm…tp semoga itu menjadi sebuah petunjuk yg positif…amin…amin..amin…

  7. Setuju, Mas..

    Ketika mengetahui apa yang paling esensi, di situlah baru kita bisa merasakan betapa nikmatnya beribadah…🙂

    Makasih buat pencerahannya, seperti biasa…

  8. […] PIKIRAN BERSAHAJA UNTUK RITUAL BERHAJI […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: