Menjelang 4 Desember

 

Seperti biasa, pagi-pagi itu saya buka sebuah blog yang menurut saya inspiring banget. Sehingga saya merutinkan beberapa kali berkunjung ke sana dan berkomentar untuk mencoba mengikuti jalan pemikiran sang penulis.

Saya pikir beliau mempunyai pengalaman hidup yang luar biasa sehingga memiliki sudut pandang dan cara berpikir yang jernih dan mencerahkan. Latar belakangnya sebagai mualaf dengan pengalaman batin dan pencarian Tuhan yang luar biasa membuatnya mampu menemukan hal-hal yang esensi tentang kehidupan manusia dalam ber-Tuhan.

Saya baca postingannya yang terakhir. Tentang kemerdekaan yang seperti biasa dibahas secara beda. Lama saya tertegun dengan tulisan itu. Seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa yang rasakan dalam alam pikiran saya. Sesuatu yang benar-benar baru dan selama ini terus saya cari.

Kemudian saya coba membuat komen. Begitu mengalir saya menuliskan kalimat demi kalimat. Tidak terasa cukup panjang saya menulis komen di sana. Tapi memang bukan sekali ini saja. Seringkali saya tidak bisa menghentikan aliran argumen dari benak ini demi ditemukannya hal-hal baru yang menyegarkan.

Begitu di submit ternyata gagal. Saya baru ingat bahwa listrik di kantor lagi mati. Sementara diganti genset tapi tidak bisa menggantikan semuanya. Sehingga hot-spot dan speedy mati. Ya sudah gagal saya kirim komen dan hilang semuanya karena ngga di back-up.

Tapi yang membuat saya kaget, setelah itu saya dengan sangat mendadak terserang sakit kepala yang berat sekali. Kepala terasa pusing dan badan terasa demam. Semula saya akan ngasih pelatihan, saya minta cancel. Meeting-meeting saya batalkan dan terus pulang.

Sampai di rumah panas semakin tinggi, terasa menggigil kedinginan. Kepala semakin terasa pusing dan sudah ngga terlalu kuat untuk berdiri. Akhirnya seharian itu hanya bisa tiduran dan berselimut tebal di kamar sendirian. Dan malamnya ke dokter yang menyuruh saya istirahat 2 hari. Tepat dengan 2 hari itu saya mencapai usia 35 tahun.

Setelah minta izin ga masuk kerja sama bos lewat sms, beliau jawab sms saya. Tentu saja sebagai seorang motivator, dia selalu memberi jawaban yang melahirkan semangat. Tapi kali ini terasa lebih dari sekedar memberi semangat. Lebih jauh dari itu. Seperti memberikan sebuah gambaran tentang sebuah statement atas hal baru yang saya temukan akhir-akhir ini.

“… syafakallah, mudah-mudahan Allah memberi kesembuhan dan energi kekuatan baru, sehingga Allah menolong kita menuju cita-cita membangun peradaban untuk kita persembahkan keharibaan-Nya kelak, insya Allah. Amiin”

Dengan pergulatan pemikiran, munculnya tantangan dan godaan, hadirnya berbagai masalah yang terus mendera, dan kejadian-kejadian yang luar biasa, ternyata semakin terasa anugerah Tuhan. Ia hadir dengan kekagetan-kekagetan yang luar biasa. Seakan-akan Tuhan terus menjawab sikap syukur yang mencoba terus saya perjuangkan dalam sikap dan tindakan.

Itu semua ternyata menghantarkan kepada sebuah kesimpulan tentang sesuatu yang luar biasa. Sangat luar biasa. Namun deskripsinya telah hilang bersama komen yang gagal di submit waktu itu. Biarlah itu semua menjadi gambaran dalam benak saya dulu. Sambil terus menjadi suatu sudut pandang yang akan diuji kebenarannya.

Ya Allah, Engkau selalu menjawab keinginan kuatku untuk mengenal-Mu. Engkau selalu tunjukkan sesuatu yang baru dan baru lagi menuju sebuah pemahaman yang lebih memuaskan dan sangat lapang.

Ya Allah, lindungi hamba-Mu dari pemahaman yang sesat dan keliru. Lindungi hamba-Mu dari lambatnya menangkap hal-hal baik yang ingin Kau tunjukkan. Senantiasa tunjukkan jalan hidayah itu kepada hamba. Senantiasa dekatkan hamba dengan apa yang esensinya Kau tunjukkan dalam perjalanan hidup Muhammad SAW. Buatlah ia tersenyum melihat apa yang hamba lakukan. Amiin.

~ by VIQEN on December 6, 2008.

3 Responses to “Menjelang 4 Desember”

  1. Amin..
    Perkenankanlah doa sahabatku ya Allah..

  2. Ya ALLAH jadikan pemilik blog ini manusia manusia pilihanMU yang berkeyakinan bahwa bumiMU yang terhampar luas adalah masjid baginya, kantornya adalah musholahnya, meja kerjanya adalah sajadah,

    Kemudian fungsikan setiap tatapan matanya penuh rahmat dan kasih sayang sebagai refleksi dari penglihatanMU, jadikan pikirannya husnuzhan, tarikan napasnya tasbih, gerak hatinya sebagai doa, bicaranya bernilai dakwah, diamnya full zikir, gerak tangannya berbuat sedekah, langkah kakinya jihad fi sabillillah.

    Selamat hari raya IDUL ADHA …

    RINDU a.k.a ADE

  3. Amiin…
    Semoga Allah SWT selalu melindungi, memberikan rahmatNya.
    Tetap istiqomah Bro:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: