Tiang-tiang Penyangga Pemerintahan

Pemerintahan sejatinya tegak di atas kaidah-kaidah yang sudah populer dan baku. Kaidah-kaidah itu merupakan kerangka pokok bagi sistem pemerintahan yang dijalankan. la tegak di atas tiga pilar yakni: rasa tanggung jawab pemerintah, kesatuan masyarakat, dan sikap menghargai aspirasi rakyat.

 

Tanggung Jawab Pemerintah

Pemerintah dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab kepada Tuhan dan rakyatnya. Pemerintah adalah pelayan dan pekerja, sedangkan rakyat adalah tuannya.

“Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggung jawab atas yang digembalakan.” (Muhammad SAW)

Pemerintah sesungguhnya harus hadir bagaikan orang tua bagi anak-anaknya. Dia memberikan perlindungan dari hal-hal buruk lingkungan yang akan merusaknya. Dia memberikan pembinaan dan pelatihan untuk menghadapi kejamnya hidup dan beratnya persaingan agar bisa memiliki kemampuan dan kemajuan.

Tapi sebagai orang tua, yang terpenting adalah dia akan memiliki keikhlasan untuk menyayangi dan melindungi anak-anaknya. Bukti keikhlasan para orang tua rasanya tidak perlu panjang lebar diceritakan di sini. Dia sudah begitu nyata terasa dalam kehidupan kita. Tinggal bagaimana itu menjadi garis hidup seorang pemimpin.

 

Kesatuan Masyarakat

Pemerintahan tegak diatas masyarakat yang bersatu. Mereka telah mempersatukan hati mereka untuk membentuk suatu komunitas. Tidak ada pemerintahan kecuali dengan kesatuan, dan tidak akan terealisir pemerintahan kecuali dengan menegakkannya di atas persatuan dan kesatuan.

Namun hal itu tidak berarti menghalangi kebebasan menyatakan pendapat dan menyampaikan nasehat dari yang kecil kepada yang besar, atau dari yang besar kepada yang kecil. Hal inilah yang merupakan tradisi baik dalam kesatuan itu sendiri, yakni memberi nasehat, amar ma’ruf, dan nahi munkar.

Kebersamaan itu akan terjaga ketika semuanya berada dalam kebaikan. Secara individu terus berada dalam kebaikan dan kemajuan. Dan secara masyarakat pun terus berada dalam kebaikan dan kemajuan. Sehingga individu dan masyarakat terus memberikan kebaikan dan kemajuan dan mereka pada saat yang bersamaan terus menikmati buahnya.

Kesatuan masyarakat membentuk pola hubungan yang membuat tidak terdapat perbedaan dalam persoalan-persoalan prinsip antara satu dengan yang lain, karena sistem sosial yang mereka yakini adalah kesatuan itu sendiri. Sementara itu, perbedaan dalam hal-hal cabang tidaklah membahayakan; tidak akan mengakibatkan kebencian, permusuhan, dan fanatisme golongan. Tapi hanya memperkaya khasanah pengetahuan dan melengkapi strategi dan langkah menuju kesatuan dan kebaikan yang ingin diraih.

Meskipun demikian, diperlukan adanya penelitian dan kajian, musyawarah, dan saling menasehati. Apa yang sudah ada aturan kuat bagi suatu permasalahan tidak perlu dilakukan lagi pemikiran ulang terhadapnya. Sedangkan yang tidak ada, maka kepala negaralah yang memutuskan agar umat tetap bersatu dengannya. Dan tidak ada lagi yang lain sesudah itu.

 

Menghargai Aspirasi Rakyat

Di antara hak atas masyarakat adalah melakukan kontrol terhadap pemerintah dengan secermat-cermatnya dan menasehatinya jika dirasa hal itu membawa kebaikan. Sedangkan pemerintah hendaknya bermusyawarah dengan rakyat, menghargai aspirasinya, dan mengambil yang baik dari masukan-masukannya.

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)

Bahkan, Allah memuji kebaikan kaum muslimin atas prinsip tersebut.

“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (Asy-Syura:38)

“Jika datang kepada mereka suatu masalah, mereka mengumpulkan para ahli dari kaum muslimin. Kemudian mereka saling bermusyawarah dan mengambil yang benar dari rangkaian pendapat mereka. Bahkan, para ahli tadi mengajak dan menganjurkan kaum muslimin untuk (berpegang) kepada pendapat yang benar tadi.” (Muhammad SAW)

berkata,

“Jika kalian melihat aku di atas kebenaran maka dukunglah (untuk melaksanakannya), dan jika kalian melihatku dalam kebatilan, maka betulkan dan luruskanlah.” (Abu Bakar Ash-Shiddiq, ra)

“Barangsiapa melihat dalam diriku sesuatu yang bengkok, maka luruskanlah.” (Umar bin Khathab, ra)

 

Selama kaidah-kaidah pokok di atas bisa diwujudkan dan diterapkan secara tepat hingga dapat menjaga keseimbangan dalam berbagai situasinya, maka suatu masyarakat akan tumbuh semakin baik. Keseimbangan ini tidak mungkin bisa terpelihara tanpa adanya nurani yang selalu terjaga dan perasaan yang tulus. Dengan memelihara dan menjaganya akan tergapailah kebaikan di dunia.

Inilah yang dalam istilah politik modern kita kenal sebagai kesadaran politik, atau kematangan politik, atau pendidikan politik, atau istilah-istilah sejenis yang semua itu bermuara pada satu hakekat: keyakinan akan kelayakan sistem dan rasa kepedulian untuk menjaganya. Teks-teks ajaran saja tidaklah cukup untuk membangkitkan kesadaran. Demikian juga, sebuah undang-undang tak akan berguna jika tidak ada seorang hakim —yang adil dan bersih— yang memelopori penerapannya.

 

~ by VIQEN on December 9, 2008.

One Response to “Tiang-tiang Penyangga Pemerintahan”

  1. […] Tiang-tiang Penyangga Pemerintahan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: