Biasa dan Sakral

 

The Gods Must Be Crazy?

Masih ingat? Film yang menceritakan seorang afrika terbelakang yang menemukan botol Coca Cola. Si terbelakang ini tentu bingung melihat benda seperti itu. Dia tidak bisa membayangkan bahwa di belahan bumi yang lain orang terbiasa minum dari benda yang dia anggap sakral ini.

Ada yang menganggap biasa. Dan ada yang menganggap sakral.

Apa yang membuat kondisi itu tercipta begitu berbeda?

Pendidikan! Ya, pendidikan, sekolah, belajar…

Terbayang, generasi apa yang akan dihadirkan bangsa ini ketika pendidikan tidak bisa dilakukan dengan leluasa hanya karena kendala ekonomi. Beban sejarah apa yang akan kita tanggung demi melahirkan masa depan negeri ini yang terbelakang.

Apakah kita rela menikmati usia renta dengan keadaan yang semakin terpuruk dan bertambah terus derita serta nestapa? Saat itu kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara disekeliling kita para generasi penerus lemah tidak berdaya tidak mampu berbuat apa-apa.

Sampai kapan bangsa ini hanya sebagai penikmat teknologi, hanya pemakai kecanggihan, sekedar pengguna alat yang kadang untuk urusan yang ga penting-penting amat.

Apakah kita sudah tidak berbeda dengan si terbelakang? Ketika orang lain semakin cerdas dengan penemuan teknologi terbaru, atau dengan cara pemasaran tercanggih, atau dengan sistem distribusi terkuat. Kita masih cukup senang having fun dengan i-pod, dengan henpun pemutar lagu, bergaya dengan camera untuk urusan ga karu-karuan.

Terlalu banyak energi terbuang untuk sekedar menjadi bangsa penikmat. Bukan bangsa pekerja berat dan hebat untuk memproduksi manfaat.

Pendidikan harus menghentikan semua itu. Pendidikan harus mencerahkan. Ia membawa cahaya dan membangun harapan. Ia membawa energi yang merasuk ke segenap otot dan urat untuk berbuat dan memberi manfaat.

Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik…

 

Tahun 2009, Sekolah SD dan SMP di Jabar Gratis

http://detikBandung.com  Pemprov Jabar memastikan akan menggratiskan sekolah SD dan SMP pada 2009 mendatang. Alokasi anggaran pendidikan pada APBD 2009 sebesar Rp 1,6 triliun ditambah dana bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah pusat, dinilai bisa mencukupi anggaran pendidikan.

“Pemerintah bisa tutupi semua biaya pendidikan,” ujar Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jabar Pery Soeparman dalam seminar Peningkatan kualitas wajar Dikdas di Kampus UPI, Jalan Setiabudi, Jumat (19/12/2008).

Ketika disinggung saat ini masih ada pengakuan orang tua yang diminta uang dari sekolah, Pery mengatakan pada 2009, Gubernur serius membebaskan SPP SD dan SMP di Jawa Barat. “Kan sesuai janji gubernur semasa kampanye,” akunya.

Menurut Pery selain bantuan dana, Pemprov memberi bantuan buku berupa buku-buku yang dipakai dalam ujian nasional. Pemrov pun akan meminta pemerintah kota dan kabupaten menyediakan bantuan buku non ujian nasional.

Sementara itu, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mencanangkan Jabar Tuntas Buta Aksara Tahun 2009 dalam acara peringatan hari aksara internasional ke 43 di Lapangan Tegar Beriman Komplek Pemkab Bogor, Rabu (26/11/2008).

Menurut Heryawan dalam rilis yang dikutip oleh detikbandung, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar, pada tahun 2008 terdapat 512.475 penduduk usia 15 tahun ke atas yang buta aksara.

“Angka seperti ini merupakan jumlah yang tidak sedikit, apalagi di era ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini, dimana kemampuan baca tulis menjadi kompetensi dasar yang tidak bisa ditawar lagi. Oleh karena itu, sampai akhir tahun 2008 akan diupayakan Pemberantasan Buta Aksara sebanyak 185.482 orang, sehingga pada tahun 2009 tersisa penduduk buta aksara sebanyak 326.993 orang, yang harus segera kita tuntaskan bersama,” kata Heryawan.

Secara kongkret, tambah Heryawan, sejak tahun 2004 lalu presiden telah mendeklarasikan Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara (GNPPBA), yang kemudian dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, sebagai salah satu prioritas program pembangunan di bidang pendidikan. Untuk mewujudkan pencapaian target RPJMN, pada tahun 2006 telah diterbitkan Inpres No 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.

Dalam Inpres No 5 Tahun 2006, program percepatan pemberantasan buta aksara terintegrasi dengan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

“Hal ini strategis mengingat salah satu pemicu bertambahnya penduduk buta aksara, adalah siswa putus sekolah pada kelas 1, 2, dan 3 SD atau MI, yang kemudian tidak memanfaatkan kemampuan keaksaraannya, sehingga kembali menjadi buta aksara,” ujar Heryawan.

 

~ by VIQEN on December 19, 2008.

2 Responses to “Biasa dan Sakral”

  1. halo bandung🙂

  2. […] Biasa dan Sakral […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: