Pelopor dan Inovator

Ada hubungan antara pelopor dan innovator. Kalau Anda pelopor, maka Anda juga inovator. Seorang pelopor selalu inovator. Disana berpadu antara kreativitas dan keberanian.

Menjadi warga kota harus hadir dengan sebuah peran yang menghasilkan manfaat. Dia harus dipacu untuk memiliki peran dalam pertumbuhan kota itu. Maka seorang pelopor dan inovator adalah inspirasi bagi tumbuhnya hal baru. Semakin banyak hal baru dan semakin besar hal baru yang bisa djadikan penghidupan, akan semkain sehat suatu kota.

 

Kreasi di Kolong Jembatan

http://detikBandung.com – Melongok kolong jembatan Pasupati tepatnya di kawasan Tamansari, tampak sebagian beton-beton penyangga tepi jembatan layang, berhiaskan mural yang artistik. Berwarna, menyemarakan suasana lengang di bawah kolong jembatan Pasupati.

Kreativitas memang bisa muncul kapan saja dengan berbagai inspirasinya yang datang tak terduga. Seperti inspirasi yang muncul kala pembangunan jembatan layang Pasupati yang menghubungkan Jalan Terusan Pasteur dan Surapati ini.

Warga yang hidup di kawasan kolong jembatan Pasupati di RW 04, kelurahan Tamansari Kecamatan Bandung Wetan pun memiliki keinginan untuk memanfaatkan ruang kosong di kolong jembatan. Bahkan ide itu sudah muncul sebelum jembatan layang Pasupati mulai dibangun tahun 1999.

Empat tahun lalu warga yang dimotori karang taruna berinisiatif mendirikan Kelompok Usaha Cahaya Karya. Kelompok ini untuk menaungi kepentingan warga dalam memanfaatkan ruang di kolong jembatan.

Nandang Hernadi(40) salah satu sesepuh kelompok mengatakan di kawasan ini banyak pemuda yang tidak memiliki pekerjaan. Maka dibentuklah Kelompok Usaha Cahaya Karya untuk sebagai wadah warga untuk berkreasi di kolong jembatan.

“Sebelum jadi dibangun (jembatan layang-red), sudah dibicarakan nanti mau dibuat apa. Kami manfaatkan yang ada saja,” tutur Nandang.

Warga berinisiatif mendirikan usaha-usaha mandiri dengan modal swadaya untuk jadi lahan mata pencaharian warga setempat khususnya pemuda. Para pemuda diberikan tempat untuk mencurahkan keinginannya disesuaikan dengan keterampilan yang dimiliki. Pilahan-pilahan bidang usaha dibuat untuk menyalurkan setiap keinginan itu.

“Kita ke arah kreasi anak muda yang tergantung dari skill masing-masing,” papar Nandang. Usaha-usaha yang sudah didirikan yaitu tempat las, kerajinan perkayuan, juga bengkel yang setiap harinya tak sedikit mobil-mobil berderet di bawah jembatan layang.

Kepedulian lingkungan kolong jembatan menjadi salah satu program yang direncanakan kelompok ini. Melakukan penghijauan untuk membuat lingkungan kolong jembatan lebih nyaman salah satunya dengan membuat apotek hidup untuk warga. Selain turut pula menjaga kebersihan kolong jembatan. Termasuk gelandangan yang biasanya menjadikan kolong jembatan sebagai ‘rumah’ mereka.

Untuk mural sendiri, adalah kreasi dari seniman, alumni ITB yang juga tinggal di kawasan tersebut. Kelak, ungkap Nandang, kolong jembatan Pasupati bisa dimanfaatkan sebagai tempat berkreasi seni budaya Sunda. Kegiatan yang direncanakan akan dilakukan satu minggu sekali ini sebagai bentuk kepedulian warga terhadap ruang seni yang sudah langka. Satu panggung pun kini sudah berdiri di bawah jembatan bertuliskan Kampung Seni Balubur di latar panggung. Menanti untuk segera diisi.

 

Kadedemes, Kulit Singkong Yang Disulap

http://detikBandung.com  – Pernah mendengar kadedemes? Meski tinggal di tanah Sunda sepertinya tak semua orang Sunda mengenal masakan tradisional ini. Tak selalu timbel atau karedok, kadedemes pun menjadi salah satu makanan tradisional yang memiliki rasa tak kalah sedap.

Saat berkunjung ke Bandung Kotaku Hijau yang berakhir Minggu (3/8/2008), salah satu kuliner berkonsep green culinary yang disajikan yaitu kadedemes dari Hotel Aston Braga.

Makanan yang terbuat dari kulit singkong ini bagi saya sudah tidak asing. Selain menjadi menu yang pernah disajikan di rumah, menu ini pun termasuk dalam daftar menu beberapa restoran Sunda.

Kadedemes berbahan dasar kulit singkong bagian dalam. Bukan main memang manfaatnya si cassava ini, selain dagingnya, daunnya, kulitnya pun masih bisa diolah menjadi makanan.

Karena tema Bandung Kotaku Hijau Green Culinary, maka Chef Aston meraciknya dengan tambahan kacang hijau untuk memberikan nuansa hijau. Kulit singkong ditumis dengan kacang hijau, tomat hijau, cabe merah, cabe hijau, dan bumbu putih. Bumbu putih yaitu campuran dari bawang putih, kemiri dan bawang merah yang dihaluskan.

Menurut Pihak Aston, Dani, kulit singkongnya direbus terlebih dahulu untuk menghilangkan racun-racungnnya karena semua jenis singkong kulitnya beracun.

Ketika disantap rasanya agak aneh memang, tapi cukup enak bahkan tanpa ditemani nasi. Warna kulit singkongnya mendekati pink dengan rasa sedikit tawar. Tapi karena dicampur dengan bumbu maka lebih berasa meski secara keseluruhan rasa bumbu tidak ada yang khusus ditonjolkan.

Menu lain yang juga ditawarkan bernama teremelek. Jangan coba-coba memakan makanan ini tanpa nasi, karena pastinya tidak akan nikmat malah mungkin membuat merem melek. Teremelek itu berbahan ampas kecap yang hitam, kedelai, bawang merah, cabe merah, bawang bombay, cabe merah, lemon, dan serai.

Kerajinan Unik dari Karung Goni

http://detikBandung.com  – Karung Goni, siapa sangka pembungkus beras ini bisa disulap jadi kerajinan yang sarat akan nilai seni. Lembaran-lembaran benangnya dengan apik dijalin membentuk objek-objek tertentu sehingga menghasilkan karya yang unik.

Tiga orang warga Jalan Bukit Jarian Ciumbuleuitlah yang mengembangkan kerajinan dari karung goni ini, yaitu Hadi Rahmat, Koko dan Yudha.

Rumah Hadi Rahmat (33) atau Rahmat digunakan sebagai galeri Goni Craft. Untuk sampai ke lokasi galeri ternyata tidak terlalu mudah. Berada di pemukiman penduduk kawasan Jalan Bukit Jarian 4 No 61/165 D.

Di salah satu sudut pemukiman, galeri Goni Craft bisa ditemukan. Beberapa kerajinan goni tampak terpajang di lemari rumah sekaligus galeri tersebut.

Menurut Rahmat, kerajinan ini sudah dimulai sejak empat tahun lalu. Pencetus idenya adalah rekannya Koko, yang juga menjadi seniman pembuatnya.

“Awalnya melihat karung goni yang biasa digunakan sebagai pembungkus beras. Bahan karung goni yang natural, membuat kami tertarik” ujarnya. Maka di bawah naungan Murti Tunggal Art of Living, mereka bertiga mulai menekuni kerajinan dari karung goni ini.

Berbahan baku karung goni, kawat, lem dan tentu saja sentuhan seni menjadi modal utama. Lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu objek bervariasi. Bahkan, ujar Rahmat, satu objek bisa saja dibuat dalam waktu lima belas menit.

Karung goni dibiarkan seperti seperti tampilan aslinya, dipadukan dengan karung goni yang diurai sehingga berbentuk lembaran-lembaran benang. Setelah itu baru dililitkan mengikuti bentuk objek yang akan dibuat.

Hasilnya membuat takjub. Karung goni ternyata bisa dirangkai menjadi bentuk mobil mercy, motor Harley Davidson, sepeda, boneka, kap lampu, atau patung yang juga berfungsi sebagai tempat ballpoint, dan lain-lain.

Dari sekian banyak objek yang dibuat, mereka lebih banyak memilih tema-tema sosial untuk dibuat kerajinan. Untuk memperlihatkan sebuah realitas yang sudah langka ditemui di kehidupan masyarakat modern.

Rahmat berharap, kerajinan ini bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak digunakan. Selain ramah lingkungan, bisa dinikmati sebagai seni yang sekaligus memiliki fungsi.

Harga satu objek pun berbeda-beda, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Berkisar antara Rp 50 ribu sampai harga jutaan rupiah.

 

 

 

~ by VIQEN on December 19, 2008.

2 Responses to “Pelopor dan Inovator”

  1. Semoga lebih banyak lagi warga Indonesia yang menjadi lebih kreatif dalam mensiasati kehidupan ini.

  2. […] Pelopor dan Inovator […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: