Realitas untuk Sebuah Idealitas

 

Selalulah keyakinan dan optimis itu tumbuh mekar berkembang. Agar segenap kenyataan dan kesulitan yang ada bisa kita lahap dengan nikmat.

 Mengimbangi ekpektasi positif yang coba dilesatkan disela waktu antar pergantian tanda waktu, berikut ini dikutipkan sebuah tulisan untuk memberikan keseimbangan dan dalam rangka memberikan efek gerakan dari sebuah motivasi atau menjadi pelipat gandaan motivasi untuk berbuat lebih efektif dan tepat sasaran.

 

SKETSA, Iwan Piliang

 

Meniup Terompet Baru Mengibarkan Kekuatan Bangsa

MATAHARI seakan melayu biru. Awan cerah bagaikan berganti kelir. Langit berselang-seling; putih, biru, abu. Di Jl. Sudirman, Jakarta, 31 Desember 2008, di kiri kanan jalan masih tampak para karyawan berkantor. Mereka keluar mencari makan siang, waktu menjelang pukul 12.30.

Tidak sebagaimana 31 Desember tahun lalu, pembuat terompet di gang kecil di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, di balik gedung perkantoran jangkung yang masih sibuk itu, tahun ini tidak berproduksi.

Di penghujung tahun ini, saya menanyakan ke Solihin, bapak paruh baya, yang tampak berselonjor di kios kecil rokoknya di gang di jalan bersemen yang dijuluki MHT (Mohammad Husni Thamrin, nama untuk program perbaikan kampung di DKI), tempat di mana saya pernah menyaksikan warga membuat terompet di tahun lalu.

Solihin bilang pembeli sepi. Ia lalu merebahkan badan di kursi panjang, berselonjor dalam kenikmatannya sendiri. Di antara rumah petak, yang pintunya terbuka, saya lihat anak-anak sebagai konsumen terompet menonton televisi. Tidak tampak, mereka memegang mainan tiup itu.

Sebelumnya, di pagi hari saya simak berita di Gatra.com. Situs internet majalah berita mingguan itu menuliskan:

Menjelang malam tahun baru para pedagang mainan terompet yang banyak ditemui di sekitar kawasan elit Menteng mengeluhkan dagangan mereka belum terjual satupun.

Salah satu pedagang terompet tersebut adalah Otong, 55 tahun, yang tinggal di daerah Tambun, Bekasi. Kakek lima cucu tersebut bersama dengan lima orang kawannya hingga kemarin belum berhasil menjual satu terompet pun.

Kondisi tersebut tidak hanya dikeluhkan oleh Otong, namun juga oleh pedagang lainnya. Mereka menuturkan tahun lalu barang dagangan sekira 1.000 terompet dapat terjual dengan harga yang mahal. Bahkan karena larisnya, sempat menggelar tenda.

“Kalau tahun lalu, sampai nginep di sini. Makan dan tidur di sini, karena ramenya. Kalau sekarang boro-boro, gigit jari,” ujar Otong, saat ditemui di Jl Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Desember 2008.

Suasana tahun baru kali ini berbeda dengan tahun kemarin, para pedagang baru memulai berjualan sesudah Natal dan hanya menjual sekitar 500 terompet dengan varian ukuran yang unik dan warna mencolok.

Namun itu pun tidak habis terjual. Bahkan mereka menilai kali ini merupakan tahun yang buruk dalam meraup rezeki, dan mengalami kerugian yang luar biasa. “Dari tadi pagi enggak ada yang laku, apalagi ditambah hujan. Mubazir semua, seperti kemarin malam saya terpaksa buang semua terompet saya, karena tidak laku,” lanjut Otong.

Alasan dibuangnya semua barang dagangan terompet milik Pak Otong, karena dirinya menilai bahwa barang dagangannya tersebut bukan rejekinya sehingga merelakan dibuang ke tempat sampah. “Prinsip saya, kalau nggak laku, nggak usah disimpan untuk dijual tahun depan lagi. Itu berarti bukan milik saya, lagian repot ngerawatnya, ” kata bapak tua yang pernah bekerja di Kelurahan Tambun tersebut.

Hal yang sama dilakukan Sobari, 35 tahun, yang terpaksa menjual barang dagangan terompetnya dengan membanting harga dari harga umum terompet seperti biasanya menjelang akhir penutup tahun dengan menjual seharga Rp5.000 per terompet dari harga akhir tahun yang seharusnya dijual seharga Rp15.000 per terompet.

SEAKAN tak percaya pada apa yang ditulis Gatra, saya pun mencoba melihat ke kawasan Menteng itu, sambil menuju ke arah pulang. Dalam setengah jam berhenti memperhatikan pedagang terompet di samping Hotel F-1, Menteng, memang belum satu pun ada pembeli. Entah hari masih siang atau memang animo membeli terompet sudah pudar.

“Ya, orang kini dari pada beli terompet lima ribu satu, lebih baik beli mie, dapat empat bungkus,” ujar Solihin, bapak yang saya dtemui di Jl. MHT, di Kuningan tadi.

Mie, lagi-lagi mie instan.

Mie instan, makanan rakyat, yang berkali-kali saya kritisi tidak cocok dikonsumsi berkala oleh balita. Namun, mie instan telah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat. Harganya terjangkau. Bumbu penyedapnya membuat anak Indonesia ketagihan.

Mereka seakan melupakan akan rasa pisang segar yang menyehatkan, nan gampang tumbuh di tanah Indonesia, bahkan gampang subur di halaman kecil mereka sendiri.

 

Modal Ventura

Saya mengulang ingatan kepada penghujung 1989. Ketika itu berkesempatan membuat desain iklan cetak sebuah bank baru, Agrobank. Saya menempatkan daun sawit di kiri dan kanan sebuah tag line berhuruf di-condent: Memahami Potensi Negeri Sendiri. Indonesia adalah pertanian, jika ada bank yang khusus ke pertanian, saya pahami sebagai sosok yang paham akan negeri ini.

Tetapi sayangnya, dalam implementasi dan regulasi perbankan, bank memang diperlakukan sama. Apapun arah kreditnya. Mereka tetap kudu mengikuti ketentuan Bank Indonesia, harus memenuhi legal lending limit, loan to deposit ratio, dan seterusnya.

Undang-Undang Bank Indonesia yang baru pun, telah menghapuskan yang namanya agent of development bagi bank BUMN.

Akibatnya, publik bingung, sayup-sayup saja mendengar seakan-akan ada kredit perbankan, tetapi realitas, kredit tambun hanya mengalir ke satu sektor besar, yakni pembanguan property di kota besar – – yang menjerat perbankan bagaikan ekonomi bak mengayuh sepeda di jalan datar, begitu dihentikan kreditnya, mengajak semuanya terpuruk, bank ikut buruk.

Apa yang disebut pembangunan basis pertanian di Indonesia, seakan tenggelam sebatas slogan.

Entah ada korelasi tau tidak, dua pekan lalu saya tertawa ketika seorang kawan menelepon. “Saya di depan Ibu Marie Pangestu, Menteri Perdagangan, tahun 2009 dijadikan tahun Indonesia Kreatif, mana kawan-kawan di industri kreatif dikumpulkan lagi,” ujar teman itu di telepon.

Saya tanya apakah akan ada venture capital riel yang operasional tahun depan?

Dia jawab tidak.

Saya mengatakan titik persoalan industri kreatif hanya di situ.

Satu tok!

Tidak muluk, tidak banyak: modal ventura.

 

Hot Spot

Percuma menyebut Tahun Ekonomi Kreatif, tanpa darah segar yang disuntik bagi sebuah pengalaman berproduksi, bagi pembuat animasi serial misalnya, pembuat batik tulis eksklusif guna menambah volume produksi, agar bisa merambah Milan, New York, Paris, macam upaya yang dilakukan Baron Manansang, contoh lainnya.

“Khusus animasi, Jepang, terang-terangan bilang, kalau mereka tak akan mau membiayai negara lain berproduksi,” ujar Agung Sanjaya,pula, “Itu sudah menjadi trade mark industri mereka.”

Agung sejak lama mengerjakan sebagian proses animasi serial Jepang, AS. Untuk job inbetween dan gambar latar. Akibatnya Indonesia sudah 20 tahun, hanya sebatas tukang, karena negara seakan hanya ada di awang-awang, tidak pernah mau membiayai produksi serial. padahal logika bisnisnya sederhana. Jika dijual serial animasi perepisode US $ 1.000 saja, maka untuk setahun US $ 52 ribu. Dan bisa merambah lebih 1.000 jaringan teve dunia. Ambil angka 1.000 teve, paling rendah, maka dapat devisi US $ 52 juta – – sekadar gambaran minim di luar pendapatan merchandising.

Pekan ini pula saya menyimak Erwin Wirawan, menulis di Superkoran.info –komunitas apakabar– seakan menjawab kegundahan saya itu. Berikut ini sebagian tulisannya:

Dalam manajemen ada yang disebut hot spot. Ini adalah titik yang mempunyai daya ungkit tinggi yang sangat mempengaruhi hasil pekerjaan. Semua sumberdaya seharusnya dikerahkan di lingkungan hot spot ini.

Di saat petani kita mengalami masalah harga komoditi, Indonesia mengalami deindustrialisasi, peghamburan potensi energi dan masalah pengangguran, maka hot spot nya adalah pembangunan industri pengolahan.

Dengan fokus ini petani akan sejahtera, industri akan berkembang, jasa terkait akan berkembang dan pengangguran akan berkurang.

Sedangkan Industri kreatif seperti musik dan film bukan hot spot pembangunan. Industri ini tanpa bantuan pemerintah pun sudah bisa berkembang dengan baik. (Catatan saya, jika sudah ada modal ventura)

Sifat kebijakan pemerintah sebaiknya fokus pada sedikit hal, namun diurus dengan serius. Jika terlalu banyak kebijakan, apalagi kebijakan itu berubah-ubah akan membingungkan dan hasilnya juga sulit dipantau.

 

Pertanian, Kayu dan Mineral

Dalam suatu wawancara, Putera Sampoerna – – seorang pegusaha sukses – – pernah mengatakan sebaiknya Indonesia fokus pada 3 hal saja, yaitu: pertanian, kayu dan mineral. Pilihan ini sangat beralasan, karena sesuai potensi yang ada dan sangat bisa menyejahterakan rakyat.

Kalau pemerintah sudah fokus dan melaksanakannya secara konsisten, maka relatif mudah mengembangkan hal lain yang berkait. Industri jasa pasti akan berkembang mengikuti industri. Dunia pendidikan akan menemukan fokus kurikulum untuk menyediakan tenaga kerja yang ahli dan terampil.

INDUSTRI kreatif juga mendatangkan US $ besar, tetapi kalimat Erwin plus mengutip pula Putera Sampoerna, menjadi sebuah penegasan, bahwa, terkadang langkah yang diambil pemerintah, bak laksana lain di pikir lain pula diimplementasikan, lari jauh antara fakta dan upayanya.

Jika industri kreatif, titik soal hanya di urusan venture capital. Di industri mineral juga urusan kredit dari perbankan. Entah ke mana larinya dana perbankan? Akibatnya sektor mineral macam batubara, lebih dari separuh investasi kini di Kalimantan, dimiliki oleh asing, dengan menggunakan tangan-tangan orang Indonesia sebagai proxy asing sebagai pemilik.

Jual beli izin tambang menjadi-jadi. Dalam keadaan demikian bagaimana sebuah industri akan tertata, karena urusan mereka satu saja: eksploitasi sebanyak-banyaknya. Urusan lingkungan rusak, dan masalah sosial lain menjadi-jadi.

Dalam ranah demikianlah ketika Rudi Rusdiah, sosok yang baru saja selesai mengikuti Pendidikan Lemhanas, sebagai wakil APWKOMITEL, Jaringan Warnet, mengirim email kepada saya meberikan link berita di Kompas: http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/12/28/ 00455830/ jangan.hanya. kagum.pada. obama

Di situ mengemuka sebuah doktrin Paul Wolfowitz, bekas Duta Besar AS di Indionesia, yang memimpin misi ke Irak, bahwa untuk menguasai sebuah negara, maka kuasailah sumber daya alamnya. Sehingga, seakan-akan adanya konspirasi invasi dengan pengusaan sumberdaya alam sebuah negara.

Dalam kerangka ini saya menjadi teringat bagaimana kepicikan IMF, dalam mebuat MoU dengan Indonesia ketika 1998. Negeri ini tidak boleh mem-peg mata uangnya ke emas – – dalam artian mineral. Boleh di peg ke mata uang lain selain US $. Produksi, impor, ekspor emas Indonesia harus dilaporkan ke IMF.

Tetapi sebaliknya berapa produksi riil emas PT Freeport setiap tahunnya, bangsa ini tidak pernah tahu kongkritnya. Di kemudian hari Undang-Undang Independensi BI, dia independen dari pemerintah RI, tetapi tridak dari IMF.

Inilah sebuah fenomena yang layak dipertanyakan dalam melihat Indonesia ke depan ?

SAYA menyebut keadaan kita, macam, “dibodohkan” oleh keadaan.

 

Potensi yang Selalu Mati Dini

Bertepatan pula siang ini di milis Jurnalisme di internet mendiskusikan soal PT Dirgantara Indonesia yang menang Tender US$ 94,5 Juta untuk Pesawat NC 235-110 menyisihkan pesaing dari Spanyol, Amerika, dan Israel, yang kontraknya baru saja ditandatangani di penghujung tahun ini.

Itu berita gembira di penghujung tahun ini. Namun ada saja komentar miring yang mengatakan kemungkinan cost of gold sold (COGS)-nya yang tinggi. Dan bila di atas 100%, COGS, tidak semestinya kita senang, begitu kira-kira nada yang ada.

Saya melihat sejak dulu, ada dua industri yang “diobok” terus yang akhirnya seakan tenggelam. Pertama ya, IPTN, kini PT DI, kedua industri otomotif Perkasa, milik Texmaco.

Yang pertama PT DI, sesunguhnya N2130, sekadar contoh jika diproduksi, kemampuannya sama dengan Boeing 900 ER, yang dibeli Lion Air kini. “Padahal jika PT DI terus berproduksi, maka devisa seharusnya tak lari ke luar negeri.” Kata Dadang Erawan, salah satu perancang N-2130. Pesawat kecil, dibutuhkan untuk menjangkau daerah Indonesia yang kepulauan.

Dadang hingga hari, ketika saya temui di studionya di Bandung, masih bisa mendapatkan job melalui tender internasional untuk membuat wind tunnel, rancang bangun pesawat kecil. Ia masih mendapatkan job melalui perusahaan di atas US $ 1 juta setahun.

Di kemudian hari terbukti lagi, IMF, yang kemudian melarang pemerintah menyuntikkan dana untuk industri dirgantara itu, sesuai dengan MoU yang ditandatangani pemerintah. Dengan kata lain tangan asing memang ikut memaksa mematikan IPTN.

Itu kalimat jernihnya.

Sedangkan industri kedua, PT Perkasa Engineering; memiliki lisensi mesin dari Steyr, Austria, bisa membuat mobil, truk, alat angkut militer termasuk panser. Kini Perkasa seakan harus dikurung diselimuti hutang induk usaha, yang sesungguhnya bisa dicarikan solusinya oleh pemerintah. Namun pola pikir dengan visi menenggelamkan negeri, PT Perkasa kini macam semak belukar pabriknya di Subang, Jawa Barat, seakan-akan menjadi aset tak benilai.

Hasil produksi Perkasa bagus, mutunya terjaga. Sebaliknya untuk mesin panser saja tahun ini kita membeli dari Perancis. Itu pun volume pengirimannya, negara penjual yang menentukan. Harganya pun enam kali lipat buatan lokal.

Akibatnya industri nasional mati, ketergantungan kepada asing menjadi-jadi. Itulah catatan signifikan saya di tanggal 31 Desember 2008 ini

 

Saatnya Kekuatan Riil Menentukan

Sebagai solusi, memang tiada lain, bahwa di 2009 mendatang, sebagai tahun penentuan.

Penentuan untuk tiba saat kita sebagai bangsa memiliki terompet baru, yang suaranya berbeda dengan terompet-terompet yang sudah-sudah. Apalagi secara lihiriah, terompet benaran yang dijual di Jakarta hari-hari sekarang memang sudah tidak laku lagi.

Jika mereka yang di pemerintahan, termasuk parlemen, masih juga membawa negeri ini memakai suara “terompet” usang, saya pikir di tahun 2009, saaatnya, kekuatan riil menentukan pilihan.

Toh, bangsa ini punya kesempatan; kaya alamnya, pintar-pintar SDM anak bangsanya, seharusnya makmur dan sejahtara rakyatnya. Bukan macam hari ini, lauksana hidup di negeri yang seakan “dibungkam” assetnya, tumpul daya beli masyarakatnya, kendatipun hanya untuk sebilah terumpet di malam tahun baru pun lebih mengutamakan sebungkus mie.

Saya berdoa, bahwa terompet kehidupan di 2009 dan seterusnya, memang benar-benar mengibarkan kekuatan bangsa. Mereka yang masih menjadi bagian melumpuhkan negeri ini, akan tergilas zaman. Selamat datang tahun 2009***

________

Iwan Piliang, presstalk.info

 

~ by VIQEN on January 2, 2009.

4 Responses to “Realitas untuk Sebuah Idealitas”

  1. mbokkk..

    panjang bgt, ampe ngantuk2 bacanya..
    mo bkn proposal pa blog om he3

    yg hotspot tuh stuju bgt,
    bnernyaSDM qt sih udah ok, tp kl fasilitas hotspot msh gt y gmn bs maju..

  2. Jika pemimpin tidak lagi mampu memberi kenyamaman artinya kiamat sudah dekat …

    *sok tahu*

  3. Semangat untuk perubahan !!!

  4. biar panjang namun kuat dalam segi memberi arti di postingan bangku ini
    blue suka banget
    salam hangat selalu
    besok blue kembali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: