Menjadi Warga Negara Pejuang

 

Sebenarnya saya selalu ragu, siapapun pemimpin negeri ini, kondisinya tidak akan lebih baik. Perbaikan negeri ini bukan sekedar perombakan pemerintahan. Bukan cuma memilih pemimpin yang tepat. Siapapun pemimpin itu akan selalu nampak tidak tepat dan tidak bisa selesaikan masalah.

Karena hal yang utama dalam membuat wajah negeri ini adalah warga negaranya. Seperti apa muka para penghuni negeri ini, maka seperti itulah wajah negeri ini. Kita sebagai rakyat dari negara ini tidak semestinya hanya mengeluh dan komplen tentang pemimpin kita, tentang pemerintahan kita.

Mereka ada yang salah. Tapi kita sebagai rakyat juga umumnya ngga bagus-bagus amat. Tapi kita tidak perlu terjebak dalam debat kusir saling tunjukm siapa yang salah. Yang terbaik adalah bagaimana diantara kita saling mengakui kesalahan dan sesegera mungkin kita memperbaikinya.

Anda bisa bayangkan negara Cina yang jumlah penduduknya lebih banyak. Ternyata sekarang kondisinya beranjak lebih baik. Masih ada masalah memang. Tapi terbukti pada saat krisis ternyata mereka lebih strugle.

Saya pikir kuncinya ada pada kehebatan para warga negaranya. Pantaslah negara cina bisa bertahan dan tumbuh seperti sekarang ini. Ternyata negara ini didukung oleh warga negara yang berjuang dengan luar biasa.

Ketika mereka memiliki memiliki kelemahan, ia tidak mendramatisir kelemahan itu. Dan ia tidak bangga dengan kelemahannya hanya untuk memproklamirkan dirinya yang paling menderita dan sangat pantas dikasihani. Ia tetap berjuang, untuk tetap berada di putaran produktif dan memberi manfaat, tidak menjadi beban.

Berikut ini saya kutipkan sebuah artikel dari blog temanku. Dari postingan ini saya mendapatkan pelajaran, kenapa bangsa indonesia senantiasa berada dalam keterbelakangan.

Hal itu karena ada paradigma berpikir yang salah. Yang pertama adalah kelemahan bagi bangsa ini hanyalah, sekali lagi hanya sekedar takdir yang harus diterima. ya  hanya menerima, untuk kemudian menjadi status untuk didramatisir, menjadi konsumsi berita dan politik. Menjadi status yang dikejar untuk mendapatkan santunan. Akibatnya kemudian ada yang menjadikan penderitaan ini sebagai mata pencaharian.

Dengan kelemahan yang dibanggakan dan diakui sebagai status ini kemudian mereka hanya menaruh harapan kepada pemerintah dan dengan lantang mencaci maki pemerintah dan lingkungan luar. Sehingga dengan maraknya para petualang politik dadakan, semakin terasa politisasi situasi ini.

Masyarakat semakin terlekatkan dengan citra pihak tertindas, korban keadaan, kondisi yang semakin terlemahkan, tidak mendapat kesempatan, kehilangan hak, dsb. Sehingga harus berontak, harus melawan, harus merebut hak.

Padahal solusi perbaikan itu sebagian besarnya ada pada setiap diri kita sendiri. Ada pada perbaikan kemampuan diri kita sendiri. Ada dari perbaikan paradigma berpikir rakyat-rakyat negeri ini. Mereka harus dibuat berpikiran positif atas kondisi yang mereka rasakan saat ini. Untuk kemudian mereka semua tetap berjuang memperbaiki diri sendiri dari dirinya sendiri.

Ketika bangsa ini ditunjang oleh rakyat yang berpikir positif, sangat gemar berjuang dan terus berbuat, maka kondisi negeri ini akan lebih kondusif untuk perbaikan.

Tapi ketika tema konfrontasi, pertarungan antar kelas, apalagi paradigma berpikir kita itu menderita, terdzalimi dan perasaan-perasaan negatif lainnya, selalu itu yang dijadikan wajah utama kita, maka akan semakin berat menemukan perbaikan itu.

Berikut ini postingan yang bisa menggugah kita. Bagaimana sebuah negara itu menjadi besar karena diisi oleh warga negaranya yang berjuang seperti ini. Hendaknya setiap warga negara Indonesaia belajar untuk menjadi pejuang-pejuang kesejahteraan bagi dirinya dan bangsanya.

 ==== ====

Anak Kecil 6 Tahun Memungut Barang Bekas Demi Merawat Papanya Yang Lumpuh

Posted by: twinky^^

(Dajiyuan, 17 Des) Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.

Adegan yang mengharukan

Begitu sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu. Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya.

Tse Tse tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan Baoan, desa Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan kecil itulah mereka bertahan hidup.

Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan, namun Tse Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu lalang, setelah aman dia baru menyeberang. Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah sampai rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit.

Satu keluarga 3 orang menempati rumah 8 m2

Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan kamar kecil seukuran 8m2, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB (Rp. 1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21″ sudah merupakan barang mewah.

Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding, itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga.

Di samping pintu yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada “dapur” yang dibuatnya sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. “Makanan dan minyak di rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, Cuma makan malam yang agak lumayan, di rumah jarang makan daging, namun setiap minggu mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya, namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan.” Kata Xiong Chun.

Setiap hari memijat papanya 3 kali

Mama Tse Tse bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan menyisakan sedikit waktu pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah menyuapi dia segera balik ke pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya semua di bebankan ke pundak Tse Tse.

Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat papanya lagi, baru tidur.

“Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga. “Xiong Chun sangat sayang anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan mengatakan:  “Tse Tse sangat mengerti. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini.”

Boneka 5 Yuan yang paling disukainya

Mama membawa dia memungut botol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari akan main sebentar dengan mobil plastiknya itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan anak pergi memungut besi bekas, bisa dijual 20 Yuan.

Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu, itu yang paling disayanginya. Malam hari juga mengendongnya tidur. “Dia melihat boneka itu di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan, saya tidak tega terus, akhirnya saya nekat membelikannya,” Kata Xiong Chun.

Begitu Tidak Boleh Sekolah, Langsung Menangis

Untuk mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang sekolah Tse Tse akan memindahkan “Meja kecilnya” keluar, mengejar siang hari menyelesaikan PR-nya.

“Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak sanggup. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat lagi,” kata Xiong Chun. Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung menangis.

Xiong Chun berteriak, “Hidup normal saja bermasalah, masih harus kasih dia sekolah, sungguh susah, bila sudah tidak mungkin, biar dia berhenti saja.” Tse Tse yang sedang bermain boneka, begitu mendengar kata papanya, langsung menangis. Xiong Chun menarik Tse Tse ke sisinya, membujuk: “Papa akan usahakan kamu sekolah, biar kamu bisa sekolah!” Setelah dibujuk beberapa kali, Tse Tse baru berhenti menangis, dengan tangan mungilnya dia menyeka air matanya.

“Terhadap Tse Tse, saya sungguh menyesal….,” sambil menangis tersedu, Xiong Chun sudah tidak dapat berkata lagi. Xiong Chun berkata: “Saya percaya pasti akan sembuh, Tse Tse adalah harapan saya.” (dajiyuan.com/lim)

 

 

~ by VIQEN on January 6, 2009.

5 Responses to “Menjadi Warga Negara Pejuang”

  1. tetap semangat utk dapat mensejahterakan orang lain…😉

  2. semoga kita mampu menghidupi diri sendiri dulu..jangan sampai jadi beban keluarga, apalagi negara…

    semoga kita semua tetap semangat, serumit apapun kehidupan kita!

  3. Siapa pemimpin di Negri kita, kita tak dapat mengetahuinya.

    Mengapa oarang-orang selalu bertanya siapa pemimpin Negri ini?

    Mengapa mereka tidak bertanya kepada Tuhnan, bukankah Tuhan sebaik-baik yang mengetahui….

    dan pemimpin itupun yang memilihkan untuk kita adalah Tuhan…., mengapa kita tidak sibuk berdo’a agar Tuhan memberikan pemimpin yang Terbaik untuk Negri ini, baik di dalam pandangan Tuhan, bukan baik di pandangan manusia.

    Jadilah masyarakat yang mandiri, yang tidak bergantung kepada pemerintah atau kepada siapapun…bergantunglah hanya kepada Allah semata-mata, karena hanya Ia lah tempat menggantungkan segala harapan dan keinginan….

    Salam sejatera selalu

  4. cerita nya betul2 menggugah. anak kecil saja bisa seperti itu mengapa kita tidak? hidup tidaklah harus enak dan serba ada, tapi bagaimana kita menjalaninya. bgmn kita berjuang menghadapi hidup. nice post bro. :salute: jg bwat twinky^^. thx

  5. hehehhe…. i baru nongol sekarang…. wah postingan i masuk sini ya.. makasih ya… moga banyak orang yang membaca postingannya n i harap postingannya bisa memberi manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: