Warga Negara Pejuang Itu Telah Ada

Tuhan selalu segera menjawab pertanyaan hamba-Nya. Bahkan dengan cepat dan tidak terduga. Sebelumnya posting sebuah artikel yang mempertanyakan, bagaimana sih semangat juang warga Negara kita ini? Sebuah postingan bernada negative dan penuh pesimistis.

Tapi kemudian Tuhan segera mengirim om NH18, yang postingannya selalu rame, lucu, nakal, jorok (hehehe, inget yang slilit itu om). Tapi inspiratif dan bener menggugah deh. Tuhan mengirim beliau untuk jualan sate… ups, untuk menunjukkan seorang pejuang sate. Hehehe… tepatnya penjual sate yang telah sukses berjuang mensejahterakan dirinya dan tentunya mensejahterakan bangsanya dengan caranya.

Ternyata Negara ini juga diisi para pejuang. Mereka optimis dalam kesulitan hidupnya. Dan terus bergerak berjuang dengan keyakinan dan harga dirinya. Dengan langkah pasti tanpa kenal lelah menemukan arti kehidupan. Berjuang membangun harapan dan mendapatkan harapan yang tinggi itu sebagai buah dari sebuah proses panjang.

Diawali sebuah keyakinan dan dipupuk dengan kesabaran. Bahwa saya harus melayani orang lain (termasuk keluarganya nak kanan bu guru) dengan memberi segala kebaikan sate. Dengan sabar terus dia lakukan itu dengan kesulitan dan godaan untuk berbuat biasa-biasa saja yang pasti menghampiri.

Keyakinan dan kesabaran itu membuat pak Soleh, bu Karsinem dan yang lainnya untuk bergerak terus mencoba sesuatu. Dari mulai menemukan racikan sate, resep gudeg, atau lainnya. Sampai kepada bagaimana harus melayani pelanggan dengan luar biasa. Sehingga terasa manfaatnya. Mereka pasti mencoba sesuatu, kemudian memikirkannya, menghitung-hitung, sedikit mengkonsep, mencobanya lagi, kemudian mengevaluasi.

Terus dan terus proses itu dilakukan. Sampai mereka dikenal sebagai tukang sate dan enak. Sampai mereka dikenal tukang gudeg yang laris. Semua mengakui kemampuannya. Dan banyak orang menaruh haraoan kepuasan perutnya kepada mereka.

Tapi, tentu saja mereka harus memiliki keberanian dan siap berkorban untuk membuat kemampuan mereka soal membuat makanan enak ini menjadi berarti. Tidak sekedar omong kosong. Ya, mereka harus berani keluar. Berjualan di pinggir jalan. Mengambil resiko berusaha. Dan siap berkorban. Dengan ada masa kerugian. Dengan adanya tantangan dan persaingan bisnis.

Baru kemudian mereka eksis dalam kancah pergulatan dunia kuliner. Mereka hadir dengan manfaat. Dan yang terpenting, mereka sudah menjadi orang yang bias mensejahterakan dirinya dan mensejahterakan bangsanya.

Bagaimana dengan Anda?

Apakah eksitensi Anda saat ini?

Sudahkan menajdi warga Negara atau warga sebuah kota yang bias menunjukkan hasil perjuangannya?

Yuk, mari kita simak dua artikel tentang pak Soleh yang tukang sate dan ibu Karsinem yang tukang gudeg. Mereka sederhana namun menginspirasikan kita untuk berjuang, dan mereka berharap kita melanjutkannya.

Jadikanlah figure mereka yang saat ini hanya ada pada segelintir orang diikuti masyarakat banyak. Dan menjadi semakin banyaklah warga negara pejuang kesejahteraan di negeri ini. Sehingga negeri ini kembali sejahtera.

 

==== ====

 

PAK SOLEH

Posted by: om NH18 

Ini nama seorang pemilik Warung Sate.  Warung sate ini terletak di jalan Patal Senayan … tepat diseberang Apartemen Senayan.  Warung yang Laris manis … karena memang satenya enak sangat …

 What is so special about it … ?

Sate Pak Soleh ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah hidup keluarga Trainer.  Bapak-Ibu-Aku dan Adikku.   Dulu tahun 75-80 an … Pak Soleh dan keluarga merupakan tetangga kami.  Di kampung Juraganan, Patal Senayan.  Mereka menyewa sebuah rumah petak kecil dari papan yang sangat sederhana di dekat rumah kami.  Setiap malam Pak Soleh menjajakan sate dengan berjalan kaki mendorong rombongnya … berkeliling disekitar rumahku …  kadang anaknya pun dibawa serta. Suaranya lantang … keras dan khas.  ”Tttttteeeeeeyyy ….”

 Jika dirumahku ada keramaian … entah Arisan, Selamatan atau Pertemuan Keluarga … Ibuku selalu memesan sate dari Pak Soleh … praktis sangat … hawong dekat … tinggal jalan 10 meter saja.  Jika ada tamu banyak, dan ibuku tidak sempat masak, maka sate Pak Soleh adalah solusi jitu.  Waktu adikku akad nikah di rumah … ada suguhan sate Pak Soleh.  Ketika kami syukuran kelulusan sarjanaku, pesan satenya juga di Pak Soleh.  Ketika acara nguduh mantu, pernikahanku dulu satenya pun dari Pak Soleh … Dan karena kami tetanggaan … Pak/Mak Soleh pasti melebihkan barang 10 – 20 tusuk for bonus.  Once again … Sate Pak Soleh tidak bisa dipisahkan dari sejarah kehidupan keluarga kami.

 Usaha Pak Soleh berkah … terus berkembang … setapak demi setapak … dan dia akhirnya berhasil menyewa tempat.  Sebuah kios kecil di pinggir Jalan raya Patal Senayan … Langganannya pun kian banyak … Dan dia tidak perlu lagi berjualan keliling kampung …

 Dari hasil berjualan sate itu dia bisa menyekolahkan anaknya sampai ke Perguruan tinggi. Pak Soleh dan istripun telah menunaikan Ibadah Haji … juga dari usaha gigihnya ini.

 Pak Haji Soleh dan keluarga asli dari Madura … Bicaranya keras … straight forward … namun hatinya baik sangat … jujur dan tulus … dalam berdagang pun dia selalu menjamin kepuasan pelanggannya … Satenya masih tetap berdaging empuk, matang dan besar-besar … Bumbu kacangnya pun tetap royal … sama persis seperti dulu …

 Minggu Kemarin Trainer dan anak istrinya berkesempatan lagi makan Sate di Warung ”H Soleh”.  Dan dalam waktu sekejap, 45 tusuk sate ayam … 3 piring nasi … 2 piring lontong … plus 3 bungkus emping … habis tandas … bersih … sampai ke bumbu-bumbunya …

 Namun waktu itu Aku tidak melihat Pak Haji dan Mak Haji Soleh disana …

Ketika aku tanya pada mas-mas yang jaga disana ”Pak Haji ndak pernah kesini lagi ya mas ? Mak Soleh apa kabarnya mas ?”

Dan dia jawab …”Wah Pak Haji sekarang seringnya istirahat dirumah saja … beliau pernah kena Stroke sih … dan Mak Haji juga jarang kesini … karena menunggui bapak dirumah …”

 Trainer tertegun, Pak Haji sudah semakin tua rupanya.  Trainer pun mendoakan … Semoga Pak Haji dan Mak Haji Soleh selalu diberi kesehatan … untuk terus bisa menyediakan Sate Ayam yang enak untuk seluruh pelanggan-pelanggan setianya …

 Trainer belajar dari kegigihan dan ketangguhan Keluarga Pak Haji Soleh … seorang pedagang sate yang sederhana … seorang pekerja keras …. asli dari Madura …

 (And BTW … Pak Haji dan Mak Haji Soleh kalau memanggil kami, Aku dan adikku … ”Nak-kanaknya Bu Guru …?”.)

 

Pengusaha Gudeg Banda

Saya Tidak Mau Diperintah, Harus Bisa Usaha Sendiri

 

Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – “Jika mau menyeberangi laut jangan takut gelombang, meskipun basah itu sudah pasti”. Kalimat bijak itu keluar dari sosok seorang wanita sederhana bernama Karsinem, kelahiran Kampung Klampo, Banjarnegara, Purwokerto tahun 1954 silam.

Filosofi itu pulalah yang mendorong Karsinem untuk berjuang meningkatkan usahanya sebagai penjual gudeg. Perjuangan yang akhirnya membuahkan kesuksesan besar. Usahanya yang hanya berawal dari roda di pinggiran jalan kini sudah berganti mendiami sebuah rumah makan yang cukup diperhitungkan sebagai kuliner Bandung.

Masa kecilnya dihabiskan di Purwokerto, tanah kelahirannya. Anak ke-2 dari tiga bersaudara ini sempat mengalami hidup kekurangan saat masa kecilnya. Jaman pemberontakan Kartosuwiryo sampai jaman mengantre garam karena kondisi Indonesia masih sulit pun dia alami. Ayahnya yang berprofesi sebagai anggota TNI membuat hidup keluarga Karsinem berpindah-pindah. Hingga keluarga mereka hijrah ke Bandung setelah Karsinem menikah dengan suaminya H.S Miharjo (53) pada usia 23.

Sebelum merintis usaha gudeg, Karsinem pernah berprofesi sebagai pengasuh.Saat itu suaminya berpofesi di perusahaan bus di Bandung. Entah bagaimana awalnya usaha gudeg dirintis tapi Karsinem mengaku membiarkan semua alur hidupnya mengalir bak air.

“Saya nggak mau diperintah terus sama orang. Makanya saya harus bisa usaha sendiri.Orang lain bisa masa saya tidak bisa,” ujar ibu dari empat anak ini. Maka Karsinem pun dengan suami mulai merintis usaha gudeg. Meski lahir di Purwokerto, Karsinem mengaku buyutnya berasal dari Yogya. Sehingga bisa jadi kemampuan membuat gudeg itu diturunkan dari buyutnya di samping hobi memasak yang dimiliki Karsinem.

Tekun, itulah resep kesuksesan Karsinem. Sejak dulu hingga kini Karsinem tak melepas semangatnya untuk terus bekerja. Meskipun sekarang sudah meiliki 32 karyawan, Karsinem tetap tak merubah pola kerjanya. Dia tak enggan melayani pembeli. Tak malu harus mencuci piring padahal sudah ada karyawan yang mengerjakan semua itu.

Dari shubuh ketika mulai memasak menu sampai malam, Karsinem tetap mengikuti alur kerja karyawannya. Tak sekadar mengawasi tapi terjun bersama mereka.

Kebahagiaan pun terpancar dari wajahnya atas apa yang sudah diraihnya kini, buah dari jerih payah bersama sang suami. “Saya senang, tidak bosan dan tidak lelah untuk bekerja. Setiap hari saya bersyukur,” ujarnya berkaca-kaca.

Harapannya begitu sederhana. Usaha Gudeg Yogya yang sudah berusia 30 tahun itu akan ada yang meneruskan. “Mudah-mudahan nanti ada yang meneruskan, anak ibu atau siapa. Sebab saya tidak akan langgeng,” harapnya.

~ by VIQEN on January 6, 2009.

One Response to “Warga Negara Pejuang Itu Telah Ada”

  1. Kang Tren …
    Terima kasih telah memajang nama saya disini …
    bukan hanya nama … tapi juga tulisan saya …
    Saya tersanjung …
    Saya merasa sangat dihormati …

    Terima kasih ya Kang …

    Salam saya
    (sekarang saya mau nyisir dulu … biar ganteng …)(dduuaarr )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: