Tsunami Musa as dan Badai Krisis

Betul-betul saya lupa kalau hari itu tanggal 9-10 Muharam. Dimana sangat dianjurkan kita untuk berpuasa. Ya sudah, mau digimanain lagi, pagi tadi terlanjur makan sayuran berbumbu kacang dan jus wortel seperti biasa.

Sebelumnya sudah kebayang pengen banget bisa merasakan puasa yang Muhammad saw ingin jalankan dalam dua hari ini. Namun untuk puasa yang dijalankan dua hari ini beliau tidak sempat menjalankannya. Karena keburu meninggal.

Ternyata sejarahnya menarik. Puasa tanggal 10 Muharam ini sebelumnya adalah ritual puasa yang wajib. Sebelum kemudian digantikan sama puasa Ramadhan yang lebih mempunyai efek pembinaan yang lebih baik. Dan sekarang bahkan memberikan efek bisnis yang luar biasa.

Apa yang menariknya?

Ya, sebelumnya adalah ritual puasa yang wajib. Dimana puasa ini diwajibkan untuk memperingati kemenangan Musa as atas Fir’aun. Momen di mana Musa as dan para pengikutnya bisa menyeberangi lautan, sementara Fir’aun dilalap oleh laut yang airnya kembali dengan menghancurkan setelah sebelumnya surut.

Pagi itu kebetulan saya memberikan pelatihan rutin buat para leader. Saya kembali putar sebuah film ilmiah tentang kejadian laut terbelahnya Musa as ini. Lebih kurang itu menceritakan sebuah tsunami yang luar biasa.

Sayangnya pada saat film itu dibuat belum ada tsunami Aceh yang luar biasa. Jadi mereka hanya menunjukkan Tsunami di Filipina yang kejadiannya tidak terlalu luar biasa. Sehingga saya sambung dengan beberapa tayangan dokumentasi tsunami Aceh. Biar kesan dramatisnya tercipta.

*pak, mau training apa mau nakut-nakutin?*

Lho, fungsi training itu salah satunya kan nakut-nakutin ya om?

*maksudnya nanya ke om NH18*

Waktu itu saya ingin nunjukkin kepada para leader, bahwa alam semesta ini mencipta momentum. Masa itu melahirkan sebuah catatan sejarah. Waktu yang berlalu selalu ditandai sebuah millestone.

Dan dari simpul itu selalu memunculkan tokohnya. Seseorang yang kemudian memiliki eksistensi atas kejadian itu.

Seorang Musa as, telah menafkahkan sebuah sepak terjangnya yang luar biasa pada saat itu. Sepak terjang dan terpaan badai tantangan yang kemudian dihadapinya mengantarkan beliau bertemu dengan sebuah momentum alam yang dahsyat, tsunami.

Eksistensi inilah yang selalu saya sampaikan sebagai inspirasi dari momentum hijrahnya Muhammad saw. Ternyata Musa as pun mendapatkan momen pembuktian eksistensi di bulan Muharam pula. Tidak berlebihan bila kita menjadikan ini sebuah inspirasi.

Bahwa sebuah eksistensi dibangun atas sebuah proses yang dilakukan oleh individu bersangkutan. Dan kemudian proses yang telah dijalankan sedemikian luar biasa itu, akan menemukan pengejawantahannya melalui sebuah momen alam. Sehingga terbentuklah eksistensi itu.

Atau bisa juga disebutkan bahwa alam semesta akan bersama mereka yang telah melakukan proses membuat visi, meningkatkan aksi, dan melakukan aksi-aksi penetrasi untuk membukukan sebuah eksistensi. Artinya, alam semesta akan bersama-sama dengan cita-cita besar kita.

Seperti cita-cita besar Musa as untuk menaklukan segala kesalahan yang dilakukan oleh Fir’aun. Cita-cita itu beliau ciptakan, diyakinkan, dijalankan dengan kesabaran, dipelajari, dikerjakan, dengan berani dia lakukan aksi, dan menerima beban-beban pengorbanannya.

Dan cita-cita itu menemukan kohesi dengan agenda alam semesta ini. Ketika perjuangan atas cita-citanya itu mengalami puncaknya, maka alam semesta seolah-olah merespon niat baik dan keterdesakan yang ada pada saat itu.

Begitulah alam semesta yang senantiasa bertasbih melantunkan suara kebaikan dan cita-cita nan mulia.

Training hari itu saya arahkan semua peserta untuk membayangkan bagaimana eksistensi itu adalah perjuangan yang harus kita tunaikan dalam kehidupan dunia ini. Dan alam semesta akan selalu bersama dengan cita-cita mulia itu.

Sekarang, momentum yang menakutkan itu telah ada. Tsunami yang bisa dengan dahsyat meluluh lantakkan apapun yang ada dihadapannya sedang kita hadapi.

Ya, krisis ini.

Bagi mereka yang tidak pernah membangun visi, meningkatkan kapasitas dan melakukan aksi, serta tidak pernah memikirkan perbaikan eksistensi, maka tsunami krisis ini semakin membuat ketakutan dan sangat mungkin dilalap tsunami krisis ini bagai Fir’aun.

Tapi orang-orang yang tercerahkan, yang terus memupuk kemampuan, yang terus berbuat dan berkorban, maka krisis ini adalah kesempatan baginya untuk menemukan jalan membukukan eksitensi.

Disaat orang lain ragu, dia optimis.

Disaat orang lain putus asa, dia sabar untuk terus berbuat.

Disaat orang lain tidak mampu, dia bisa.

Disaat orang berhenti mencoba, dia terus melakukan dan melakukan.

Disaat orang lain takut, dia berani.

Disaat orang lain menahan dan sangat berhitung untuk memberi, dia malah selalu berkorban.

Maka kemudian ia akan menikmati kemandirian, karena ia tidak bergantung kepada pihak manapun dalam bertindak.

Maka ketidak bergantungan itu melahirkan posisi kemerdekaan. Artinya, dia berada di suatu wilayah baru yang kemudian ia kuasai. Dan itulah yang kemudian dinyatakan sebagai eksistensi barunya.

Kita sebagai individu sangat berpeluang untuk menjadi seorang yang sukses atas krisi ini. Atau sebuah perusahaan akan sangat berpeluang menjadi perusahaan yang melejit prestasinya dengan krisis ini.

Teringat apa yang pernah disampaikan pak Hermawan Kertajaya tentang sebuah perusahaan pizza. Hari itu salju begitu besar menerpa kota tersebut. Dan bisa dibayangkan bagaimana ia harus menanggung kerugian akibat pembelian yang menurun sementara pizza sudah dibuat.

Sang pimpinan akhirnya mengumpulkan berbagai ide mulia yang sudah dibuat perusahaan ini. Pertama perusahaan ini memiliki program mulia layanan antar 10 menit pizza sampai di rumah anda. Kedua, ide mulianya adalah berbagi pizza.

Maka kemudian ia merilis publikasi soal antaran pizza dalam 10 menit, bila lebih dari 10 menit, maka pizza yang diantar tidak perlu dibayar. Padahal sudah pasti, karena salju tebal, antaran pizza pasti terlambat. Ide gila kata mereka. Sehingga karena gilanya mendorong orang untuk memesan pizza dengan keinginan untuk membultikan dan sudah membayangkan dapat pizza gratis.

Akhirnya, perusahaan ini dikenal dengan pizza 10 menit sampai di rumah.

Bersama krisis ini, saya ucapkan selamat kepada Anda untuk menemukan kedahsyatan eksistensi Anda yang baru.

~ by VIQEN on January 7, 2009.

5 Responses to “Tsunami Musa as dan Badai Krisis”

  1. wow….nice posting😀

  2. salam diterima.txs kunjungannya ya

  3. kunjungan balik..
    belajar dari Nabi Ibrahim?
    mas terima kasih atas sarannya.. mari berjuang….

  4. 😀
    Pembuktian itu memang perlu dan harus!!!
    tetap berjuang

  5. […] Keyakinan yang diteruskan dengan perjuangan dan pengorbanan selalu akan diakhiri dengan pengabulan dari Tuhan. Mari kita lihat sekilas hikmah cerita Nabi Musa. KLIK > TSUNAMI MUSA DAN BADAI KRISIS […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: