Reuni dan Eksistensi

Ketika kamu mendapatkan kabar berita kalau sebentar lagi akan diadakan reuni SMA, kuliah, atau apapun yang artinya kamu akan bertemu kembali dengan teman-teman atau komunitasmu di masa lalu, what’s the first thing in your mind?

Begitulah jeung lala memulai tulisan di blognya untuk bercerita panjang lebar dan tinggi tentang reuni yang berisi ini. Kalau membahas tentang isi kan harus panjang, lebar dan tinggi. Memang reuni itu berisi apa?

Menurut beliau kira-kira inilah isinya menurut bahasa saya, maaf kalau kurang pas ya. Maaf saya ngga bisa jamin kaya SPBU, pasti pas, hehehe:

1.      Bagaimana penampilan yang bisa menunjukkan kehebatan saya sejauh ini. Segala sesuatu yang sudah saya perjuangkan dan sudah menunjukkan hasil yang hebat sejauh ini harus tercerminkan dalam sebuah penampilan ketika nanti berkumpul.

2.      Bagaimana status terakhir kita saat ini. Lho ini kan inti yang akan dimunculkan dalam sebuah imej tampilan yang disebutkan di poin kesatu di atas. Soal kerjaan, soal kaluarga, dan soal-soal lainnya. Dan ini yang biasanya mengganggu keinginan kita untuk datang bila tidak memiliki kesiapan.

3.      Bagaimana rencana kita untuk memanfaatkan pertemuan ini dalam rangka mendukung eksistensi kita saat ini. Untuk bergembira ria dan mendapatkan manfaat tambahan; hubungan relasi semakin bertambah bahkan bisa langsung dekat. Sehingga bisa berujung dengan meraih sebuah projek atau ikatan bisnis.

Dari ketiga isi tentang semua hal berkaitan reuni ini, saya resume jadi satu kata, eksistensi. Kata ini menjadi begitu diperhitungkan untuk memuluskan keberangkatan kita memenuhi undangan sebuah reuni. Yang pertama berkaitan imej eksistensi. Yang kedua berkaitan dengan eksistensinya itu sendiri. Dan yang ketiga berkaitan dampak bagi eksistensi kita saat ini.

Artinya, eksistensi menjadi hal yang strategis ketika kita berhubungan dengan masa lalu.

Ketika kita sudah melalui sebuah masa, apalagi masa yang panjang, maka saat kita dikumpulkan kembali dengan masa lalu kita itu, yang paling mempengaruhi suasana hati kita adalah, sudah seperti apakah eksistensi kita saat ini. Apakah lebih baik dari kali terakhir kita bersama?

Kalau kemudian kita sadar, ternyata kita tidak pernah terlalu berubah saat ini, maka kita mulai menilai dan terkadang mengutuk diri sendiri;

”ngapain aza saya selama ini?”

Ya, kalau kesadaran itu baru muncul, disaat kebutuhan akan eksistensi mulai mendesak, maka selamat berada dalam penyesalan. Berada dalam pengutukan diri sendiri dan merasa dikutukin sama orang banyak. Orang-orang yang pernah tahu bagaimana keadaan kita di masa lalu, dan sekarang orang itu melihat kita dalam keadaan yang sama saja atau lebih sulit.

Begitu pulalah yang terjadi ketika kita menggambarkan hari akhir. Ketika semua manusia yang pernah hidup di dunia ini, dihidupkan kembali dan berkumpul di sebuah tempat. Saat itu eksistensi seseorang akan nampak berbeda. Segenap kebaikan akan nampak baik. Dan segenap keburukan akan muncul dengan wajah aslinya.

Maka penderitaan teramat sangat atas pedihnya hati ini melihat kelalaian yang sudah kita perbuat di masa lalu. Dia akan menjerit-jerit histeris dan mencak-mencak, mengapa saya melakukan ini, mengapa saya tidak melakukan itu. Mengapa saya menyerah kalah dengan halangan ini, padahal dengan menghadapi dan menyelesaikan masalah itu saya bisa begitu.

Dan kebahagian luar biasa atas perjuangan dan pengorbanan yang sudah kita tunaikan dimasa lalu. Padahal disaat kita menjalankannya, berisi hati-hati yang teriris dan tersayat bersendiri-sendiri. Karena sangat mungkin, saat itu kita melakukannya dengan beban perasaan yang berat, dengan beban mental yang berat, dengan kerjaan yang berat, dan dengan lingkungan yang tidak mendukung, bahkan mungkin dengan cibiran dan pandangan sinis. Dan sangat mungkin kita menjalankannya seorang diri saja. 

Masalah-masalah kita sehari-hari biasanya selalu kita anggap besar dan sulit. Sehingga kita seolah-olah menjadi sangat lemah dan menilai diri kita tidak mampu. Akhirnya berujung dengan kompromi untuk tidak harus menyelesaikan masalah itu dan mengurangi target kesuksesan kita.

Maka saat itu yang kita perlukan adalah membayangkan lagi masa-masa reuni yang akan terjadi di beberapa waktu ke depan. Bayangkan bila kita bertemu dengan teman-teman lama kita, dan kita berada pada eksistensi yang tidak berubah. Sehingga kita hanya punya cerita sebagai pecundang. Padahal kita bisa bercerita tentang kisah heroik dan fantastis.

Dalam kerangka berpikir dengan menggeser waktu ke saat-saat terjadinya reuni itu, apalagi reuni kita nanti di hari akhir, maka permasalahan itu menjadi kecil. Sebagaimana Muhammad saw sedemikian terpacu untuk dengan sukses menyelesaikan beban dakwah setelah ’reuni’ dengan para nabi sebelumnya dan membayangkan bagaimana akhidari semua ini.

Atas semangat ini, maka halangan dan rintangan hanya sekedar menjelaskan ke mana dan dengan apa kita menempuh jalan menemukan eksistensi itu.

Reuni-reuni di dunia ini menjadi pelajaran buat kita untuk selalu membuat tonggak peningkatan eksistensi. Seorang bijak pernah menyampaikan sebuah kiat untuk itu, dengan cara kita selalu meng-update curiculum vitae. Bukan untuk ngelamar kerja. Tapi untuk terus mengukur bagaimana perubahan yang sudah kita buat.

Sehingga kemudian kita punya waktu yang cukup untuk mengukur ulang eksistensi kita dan mencoba melakukan langkah-langkah untuk memacu perbaikan eksistensi yang diharapkan.

Memang, jangan terbebani acara reuni ini dengan permasahan eksistensi. Toh kita berkumpul bukan untuk saling mengadu kekuatan atau pamer otot, ya ngga jeung? Cukuplah kita hadir dengan apa adanya kita. Kalau kita hebat yang penting Tuhan tahu itu. Ya ngga?

Cukup Tuhan saja yang tahu kehebatan kita. Kalau Tuhan tahu kan Dia bisa umumkan pada dunia, bahwa kita hebat. Lho koq…??? narsisnya tetep ngga ketahan sih, hehehe..

Maksudnya reunian mah reunian saja berangkat sana, ngga usah pengen nunjukkin gwe hebat neh… atau yang parah dibuat-buat so so hebat. Atau lebih parah lagi minder over dosis sampai ngga kuat dan hilang energi untuk berangkat.

Kalau sekarang eksistensi kita lemah, ya terima saja. Dan berangkat untuk mendapatkan semangat diri kita memacu pertumbuhan eksistensi kita.

Kalau sekarang eksistensi kita luar biasa, ya bersyukur dong dan jangan takabur. Dan ngga usah berangkat deh kalau sekedar pengen pamer. Tapi berangkatlah untuk bersyukur atas kasih sayang Tuhan dan mendorong kita mempertahankan kerja-kerja berat yang sudah kita lakukan sebelumnya. Kalau kita memiliki eksistensi kemudian berasa kita belum kerja berat, itu juga artinya eksistensi kita adalah semu. Introspeksilah jalannya.

Selamat mengambil hikmah sebuah reuni di dunia untuk meningkatkan eksistensi kita. Dan selamat bertemu dengan reuni akbar di padang mahsyar dengan eksistensi yang berarti di hadapan Illahi Rabbi.

(Info reuni; jeung lala yang alumni SMPN 3 Surabaya angkatan 1995 ngajakin reunian, hayo kirim email ke dia segera katanya. Selamat reunian).

~ by VIQEN on January 12, 2009.

6 Responses to “Reuni dan Eksistensi”

  1. rasakan bedanya disaat aku cuman mampir 10 menit dan membaca postinganmu, tapi semua itu untuk menamba kebersamaan sesama blogger kawan🙂

  2. Hihihi…

    Ujung-ujungnya ada pesan sponsor, nih..😀

    Hm,
    tapi memang benar, Mas.. analoginya indah sekali. Pertemuan di hari akhir sama seperti reuni yang akan membangkitkan banyak pertanyaan: what have I done in my past? Apa yang sudah aku raih? Kesalahan apa yang telah aku lakukan…

    Kalau reuni di dunia bisa segera selesai, pulang duluan, dll..
    tapi kalau reuni di akhirat sana?
    mau pulang kemana, coba….😦

    Salam Mas…

  3. Wah..pingin ya bisa reuni…kenangan smp dan sma sangat…sangat indah….

    tapi kadang sebuah reuni malah saling berlomba untuk memperlihat apa yang telah kita perolah…baik pekerjaan, kesuksesan dan bahkan keluarga…semoga sebuah reuni benar-benar bisa untuk menjadi tolak ukur bagi kita bahwa ada yang sukses dari kita tapi ada juga yang gagal dari kita…maka bersyukurlah kita dengan apa yang kita miliki sekarang.

    Semoga sukses ya La,…acara reunimu.😀

  4. yup
    mengaktualisasikan diri adalah sebuah bagian dari hidup
    dan dengan itu eksistensi kita tetap menetap

    lama tak bersua sahabat🙂

  5. Reuni ?
    Aku ndak peduli penampilan …
    Aku ndak peduli isi kantong …

    Yang aku pedulikan adalah …
    Aku harus mengumpulkan memory saya yang terserak … agar jadi bahan cerita yang menggembirakan bagi semua …

    But poin nomer 3 … hhmmm ini boleh juga …

  6. Tergantung sikon, kalau sesuai, nomor 3 bisa mendadak berada di urutan penting/terdepan, no 1 hehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: