IBSN: Tinggalkan Waralaba Berpindah ke Walarabba

 

Sejak tahun 1979 pemerintah mempunyai program membentuk sebuah model usaha yang dapat menyediakan lebih banyak lapangan kerja. Walaupun sampai sekarang lapangan kerja masih saja sulit. Kemudian oleh Deperindag digulrikanlah sistem waralaba.

 

Waralaba

Menurut definisinya, waralaba adalah laba yang istimewa. Atau boleh juga disebutkan mengistimewakan laba. Dalam praktiknya, segenap kemampuan dikerahkan untuk menghasilkan laba. Ruhnya berekonomi dibuat untuk mengupayakan penciptaan margin.

Badai krisis menempa dan merusak sendi kepercayaan. Dan yang terpenting adalah soal kepercayaan diri, menjadi hancur lebur. Sehingga banyak pihak mempertanyakan;

“bisnis saya ini masih prospektif ngga sih?”

Inilah sebenarnya biang krisis itu. Ternyata bisnis itu memerlukan inspirasi dari sebuah nilai terdalam dan hakiki. Ya, suatu hal yang mulia dan bernilai tinggi, itulah yang dibutuhkan dalam sebuah bisnis.

Ada mereka yang menjalankan bisnis sekedarnya, asal ada selisih margin. Biasanya mereka yang menjalankan bisnis peluang atau bisnis musiman. Sudah bisa dipastikan ngga akan bertahan lama. Ya karena memang bentuknya yang hanya musiman saja.

Tapi yang terpenting, hal itu terjadi karena tidak ada perjuangan membuat bisnis ini muncul kemanfaatannya di tengah masyarakat. Ia hanya memanfaatkan sudah terbentuknya pasar saja. Tidak ada upaya membuat repeat buying apalagi sampai kepada long-term profit.

Ada mereka yang menjalankan bisnis dengan cukup sungguh-sungguh. Ia tekuni bidang bisnisnya dari mulai produknya penetrasi pasar, mengalami pertumbuhan, sampai kepada produk itu booming dst. Mereka memperjuangkan bisnisnya sampai mengemuka di pasar dan terbentuklah pasarnya.

Bisnis yang dijalankan seperti ini tentu saja bisa terus berjalan dalam waktu yang cukup lama. Tapi ada satu hal lagi yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan sebuah bisnis, apakah bisnis ini menopang sebuah nilai kebaikan yang hakiki?

Sebagai gambaran, misalnya industri rokok. Dulu industri ini diperjuangkan oleh pebisnis-pebisnisnya. Sehingga muncullah menjadi sebuah industri yang besar dengan kontribusi yang sedemikian signifikan bagi bangsa ini. Tapi, apakah industri rokok ini akan bagus seperti begini selamanya?

Mungkin, ibu Endratna yang sempat berbicara dengan bijaksana sama putra kesayangannya soal rokok bisa menjawab dengan cerdas dan tegas.

 

Walarabba

Sebuah bisnis, apalagi yang akan diperjuangkan pembentukan pasarnya harus ditopang oleh sebuah nilai manfaat yang hakiki. Ia tidak lekang oleh waktu dan berubahnya zaman. Nilai itu begitu prinsip dan sedemikian strategis. Nilai itu sangat mendasar dibutuhkan karena selaras dengan fitrahnya manusia.

Perjuangan membentuk pasar sebuah bisnis bukanlah hal mudah. Ia bukan tanpa investasi dan pengorbanan. Ia bukan tanpa pemikiran dan kerja keras. Sehingga tidak boleh salah dalam memilih dan menentukan nilai mana yang akan kita perjuangkan menjadi sebuah pasar.

Pada posisi inilah pandangan manusia akan terbatas. Kemampuannya untuk meneropong bagaimana bentuk kehidupan di masa depan sangat dibatasi kendala fisik. Sejauh-jauhnya paling berdasarkan informasi masa lalu dan saat ini yang diolah. Paling jauh sekali berdasarkan feeling atau kecenderungan.

Tuhan, Dialah pengatur masa depan dan pemilik semua kejadian. Apa yang akan terjadi di masa depan ada dalam genggaman-Nya. Dia sudah memiliki master-plan untuk menjalankan roda waktu dari awal sampai akhirnya nanti. Dari segenap pergantian masa dan zaman, Dia sudah tentukan bagaimana bentuk rupa dunia ini.

Memang segala sesuatunya seperti dipergilirkan. Padahal yang ada adalah menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Yang benar akan selalu ada dan terus tumbuh. Bahkan terus bertambah menggantikan yang salah-salah.

Ketika kita bisa menemukan sebuah nilai yang benar dari-Nya tersebut di atas, maka kita akan mendapatkan sebuah bisnis yang prospektif. Sebuah bisnis yang mempunyai pasar sepanjang masa. Ya, sebuah produk yang dibutuhkan oleh pasar yang terus ada dan tumbuh secara sistematis bersamaan dengan semakin tercerahkannya masyarakat tentang nilai yang mulia ini.

Maka, mudahnya, berbisnislah untuk sebuah produk yang Tuhan inginkan produk itu ada. Buatlah produk yang bisa melayani keinginan-Nya. Perjuangkan itu, kalaupun saat ini belum ada pasarnya. Karena perjuangannya tetap akan bernilai, karena pasti terbentuk pasarnya pada saatnya nanti.

Inilah solusi cerdas sebagai buah pelajaran dari badai krisis ini. Saatnya memilih pilihan solusi yang konstruktif dan bukan hanya solusi-solusi tambal sulam. Mulailah kembali dan benahi industri-industri strategis, seperti pertanian, tekstil, dsb. Perjuangkan dan buka pasarnya.

Ingat! Tiga negara yang tidak akan hancur karena krisis kali ini adalah China, India dan Indonesia. Ketiga-tiganya adalah negara dengan jumlah penduduk banyak. Artinya, di dalam negerinya memang memiliki pasar. Manfaatkan peluang ini.

Rubahlah mind-set kita dari konsep waralaba, mengistimewakan laba menjadi walarabba, yakni wala atau loyal kepada rabba sang Pemelihara, Tuhan kita.

Kembali kita bisa buktikan, eksistensi membutuhkan visi.

~ by VIQEN on January 13, 2009.

7 Responses to “IBSN: Tinggalkan Waralaba Berpindah ke Walarabba”

  1. “Tuhan, pengatur masa depan dan pemilik semua kejadian. Apa yang akan terjadi di masa depan ada dalam genggaman-Nya. Dia sudah memiliki master-plan untuk menjalankan roda waktu dari awal sampai akhirnya nanti, penentu rupa dunia ini… Iya, KAdang dengan kepemilikan, kemampuan yang dimiliki kita sudah percaya diri jalan sendiri tanpa noleh pada yang sudah memudahkan dan meluruskan jalan kita. lupa diri ketika saat kaki sudah mampu berpijak sendiri. Tidak menyadari kalau semua itu semu dan ada limit waktunya. Mudah-mudahan kita tidak termasuk.Sebagai tanda bakti dan syukur, Semoga segala gerak dan hembusan nafas diniatkan semata hanya karena ibadah padaNya, amien

    “Memang segala sesuatunya seperti dipergilirkan. Padahal yang ada adalah “menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah” “… Iya bisa dipahami… Menmbimbing dam memudahkan kita untuk menetukan pilihan..Perlu menata hati, banyak mendekatkan diri agar mampu menentukan dan memilih kebenaran yang haqiqi yang diawali dengan kesungguhan niat

  2. Subhanallah, sungguh indah artikelmu sahabatku

    Waralabba, indahnya

  3. nice posting………. waralaba kehidupan……. mungkin itu filosofi yang bisa aq ambil hikmahnya……

  4. Setuju, Mas

  5. hidup kita hanya untuk mendapatkan keuntungan (BERKAH) dari-Nya, karena hidup tanpa keberkahan jelas kita merugi dunia dan akhirat

  6. […] Sudah pernah baca posting saya tentang walarabba? […]

  7. […] Sudah pernah baca posting saya tentang walarabba? […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: