JIWA DAN RAGA

 

Koma, demikian penjaga kebun hikmah mendefinisikan jiwa pada proses kematian. Walau raganya itu titik, ditimbun tanah dan di cacah cacing. Tapi buat jiwa tidak demikian. Proses jiwa itu koma karena ceritanya berlanjut.

Kalau saya tambahkan penggambarannya bisa kita umpamakan bagaikan sebuah pintu dari satu ruangan ke ruangan lain. Pindah dari alam dunia ke alam kubur. Tapi di ruangan lain dia masih bisa lihat dan denger. Cuma ngga bisa ngapa-ngapain.

Mba rindu dengan cerdas mengemukakan Rasulullah sebagai contoh bahwa jiwa itu hidup. Juga bagaimana puisi Khairil Anwar meneriakkan

“aku ingin hidup seribu tahun lagu”

Yang kemudian ada yang jawab sambil nyanyi-nyanyi…

“sribu tahun tak lama, hanya sekejap saja, kita kan berjumpa pula.”

*ctrqh* radio dimatiin.

 

Kembali lagi ke soal jiwa yang masih hidup tadi. Kehidupan jiwa itu bergantung kepada keinginan seseorang untuk terus menghidupkan jiwanya. Bila kita hidupkan, ia akan hidup. Bila dimatikan maka akan mati. Bila kita berkeinginan untuk menghidupkan jiwa kita melewati umur raga kita itu pun bagaimana kita.

Eksistensi kita di dunia ini akan melebihi usia biologis kita ketika kita memperjuangkannya. Didahului oleh pembentukan visi, yang memang juga harus panjang.

Ini yang lucu. Visi kita kadang-kadang pendek sih. Yah pokoknya asal kita bisa makan saja. Asal bisa memenuhi kehidupan sehari-hari. Padahal visi yang pendek ini seolah-olah menakar umur jiwa kita hanya seumur hidup kita. Atau celakanya hanya seumur jagung.

Maka ada orang yang masih bisa jalan ke sana ke sini, hanya raganya saja. Jiwanya sudah mati, jadi lebih mirip mayat hidup. (Ini yang dimaksud mba yessy tulisan yang serem? Tuh nyebutin mayat segala, hehehe… )

 

Itulah beda antara jiwa dan raga.

Beberapa waktu yang lalu saya ketemu sama Bang Jabir ESQ. Boleh saya panggil abang yah. *sok akrab mode on*. Senang sekali ketemu sama orang yang sangat positif dan ceria seperti ini. Banyak ide dan pencerahan yang terpancar. Dunia seperti sudah beraroma surga.

Berlebihan ngga bang? Ah sudahlah yang penting kita bisa berbagi kegembiraan itu dan kemudian kita hidup lebih produktif.

Bang, saya ceritakan ulang yah kultum yang waktu itu. Biar tulisan ini lebih lengkap soal jiwa dan raga. Tapi maaf kalau ada yang kurang pas atau salah. Silakan ditegur saja.

Bang Jabir dalam perjalanan Bandung Jakarta dapat email. Diantara sekian email tentang Palestina beliau dapat sebuah pertanyaan singkat…

‘berapa lama kita di alam kubur?’

 

Tiga bulan kebelakang bang Jabir menghadiri sebuah pemakaman. Disana ada seorang anak bertanya pada bapaknya. *Bimbo mode on*

“abi, kalau tante ini sudah berapa lama di kubur?”

Demikian seorang anak yang terbayang cerdas, kritis dan polos ini bertanya sambil menunjuk sebuah nisan. Bang saya ngebayangin anak kecil ini cakep juga persis aku. *jdugh* lho koq ada yang mukul. Ooh, ngingetin, kalau lagi cerita tentang kematian jangan nunjukin narsisnya.

“Dia meninggal tahun 1954, berarti sudah 54 tahun.”

Demikian sangan bapak dengan bijak menjawab pertanyaan anaknya yang cerdas tadi yang saya bayangkan mirip… *sssssttth*

Kemudian si anak juga nanyakan ’berapa lama mereka di alam kubur’ untuk tante-tante yang lain untuk om-om dengan nisan yang lain lagi.

 

Bang Jabir yang jiwanya halus ini tertegun dengan email ini. Saya tulis yang jiwanya halus lho bang, bukan yang makhluknya halus. Hehehe…

Dulu saya mendengar pertanyaan ini dari seorang anak. Pertanyaan penuh hikmah tentang situasi yang pasti akan kita hadapi kelak. Kita bisa bayangkan si tante ini sudah 50 tahun atau lebih berada di alam kubur,

Apakah senang atau susah?

Bang Jabir, saya juga tertegun, 50 tahun itu waktu yang lama. Apalagi tanpa bisa ngapa-ngapain. Kita sedih beberapa jam saja sudah prustasi. Sudah mencak-mencak. Komen sana sini.

Jiwa tante-tante dan om-om yang nisannya tertancap di tanah itu mungkin sekarang seperti tengah berada di ruangan lain. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi ada sebuah kesenangan ketika ia mendengar atau melihat bisa membuat sesuatu yang berarti saat ia berada di ruangan sebelumnya. Dia bisa menikmati sebuah keberartian eksistensi yang sudah ia torehkan di dunia ini.

Sebaliknya, jiwanya akan menderita ketika ia tidak mampu menorehkan eksistensi apapun di dunia ini. Atau ia hanya menorehkan kerusakan bagi dunia ini.

Maka, persiapkan dunia ini, untuk kita tinggalkan dengan eksistensi yang luar biasa. Eksistensi yang luar biasa dimulai dengan visi yang jangkauannya sangat jauh ke depan.

Bang jabir saya juga akan ingat selalu pesan penting dari kultum abang ini. Apakah harus dengan tiga bulan kita barus bisa mengerti tentang nasihat Tuhan melalui pertanyaan seorang anak kecil? Mengapa kita begitu abai dengan nasihat tentang kematian? Mengapa kita begitu lalai dengan teguran Tuhan? Mengapa kita begitu saja melewatkan peringatan yang disebar?

Mari kita peka akan teguran yang ada. Untuk membuat jiwa kita, HIDUP!

~ by VIQEN on January 16, 2009.

7 Responses to “JIWA DAN RAGA”

  1. waduh…
    bikin merenung banget postingannya kang…

  2. terima kasih cinta … no future comment🙂

  3. awww.. berat topiknya.. *baca ulang*

  4. *menunggu chic selesai membaca* wakakakak

  5. duh…..harus dibaca berulang2 neh…maklum pikiran lom sampe ke situ…😀

  6. review

  7. berapa lama hidup? secukupnya
    berapa lama di alam kubur? secukupnya
    berapa lama di akhirat? selamanya
    terus ngapain aja di setiap tempat itu? menikmati peran dan perjalanan. Jalan yang panjang, berliku, indah, dan membahagiakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: