Residivis jadi Asisten Dosen

 

Jangan berpikir kriminal dulu. Residivis yang saya maksud di sini adalah definisi jadul dari residivisnya om NH18. Yaitu kelompok para mahasiswa yang tidak naik tingkat tahun lalu. Si om menyebutnya RCD (saingan Rida Sita Dewi).

Tau ngga, si om menggambarkan RCD ini dengan serem banget. Begini nih,

“Hah mati gua … Kelompok ini adalah kelompok yang … kalau bisa … akan dihindari oleh para asisten dosen.  Ini kelas ‘nightmare’ sangat.”

 Sifat anak-anak RCD … sebagaimana layaknya Residivis … banyak yang Aneh … Keras … Nyaris Frustasi … skeptis dan yang sejenisnya … (Maklum saja … dulu waktu SMA, mereka mungkin adalah murid terbaik di sekolahnya … biasa di puja-puji … para bintang yang berhasil masuk IPB tanpa test.  Namun ternyata mereka malah tidak naik tingkat justru di tahun pertama mereka kuliah di IPB …). 

Masa gitu banget sih om. Sampai-sampai om memutuskan untuk berhenti membina mereka menjadi lebih baik. Padahal semua kenal om sekarang trainer yang extraordinary (eh… ngakunya ngga begitu saudara-saudara). Sampai jeunglala merilis komen seperti ini, ”Tapi malah sekarang jadi Trainer… top trainer pula…”.

Mengerti kan om, maksud jeung lala ini?

Om, maaf banget kalau jadi sedikit emosional. Soalnya dalam postingan kali ini saya berada di posisi pelengkap penderita. Maka saya ingin tunjukkan bahwa sang pelengkap penderita akan menjadi objek yang berbahagia dan sukses. Hehehe…

Om, walaupun saya bukan mereka yang waktu itu om hadapi, tapi saya termasuk RCD itu juga om. Tahun pertama kuliah, gara-gara masih ngejar obsesi yg lain, kuliah jeblog. Menghasilkan IP dengan formula satu, hehehe…

Tapi saya terima sakit hati itu. Juga saya terima sakit hati sekarang di omongin sama postingan dan komen yang ada, hehehe… Dengan menerima segala kepedihan dan penderitaan itu, saya berusaha memperbaiki diri. huh!!! *smangat maksudnya om*

Saya berjuang mati-matian (koq kaya pura-pura mati ya om?). untuk membuat keadaan berubah.

Dan saya harus membuat tanda untuk perjuangan merubah nasib pembalap formula satu ini. Seorang pemuda berbadan gelap yang memulai kuliah dengan IPK hanya satu.

Ketika dibuka kesempatan jadi asdos yg mengelola lab dan praktikum, sy merasa pengen banget. Inilah sarana menunjukkan tanda perjuangan perubahan sang residivis.

Ternyata syaratnya IPK 2,5. Saya yg bermula dari IPK satu berusaha mencapai IPK 2,5. Ternyata bisa.

Akhirnya saya menjadi asdos yg IPKnya pas-pasan, 2,5 itu lho om. Sementara asdos yg lain, pasti mereka jadi asdos krn sudah aman ke-IPK-annya kan. Ngga  sengsara dan diambang batas kaya saya, ya hehehe…

Tapi karena jadi asdos nya dimulai dari derita seorang residivis maka perjuangan mendapatkannya juga berbeda. Sehingga ketika menjadi asdos mencurahkan totalitasnya juga dengan luar biasa juga. Sampai berani merubah kurikulum praktikum.

Bahkan efek samping lainnya, diantara asdos seangkatan (dan angkatan lainnya, kali, iya, kali?), saya termasuk yang bisa deket sama dosennya yg asli. Rasanya ada pemikiran-pemikiran idealisme yang nyambung gitu.

Inilah kisah sukses residivis menjadi asisten dosen yang sukses.

Om NH18, pis om pis. 

 

~ by VIQEN on January 16, 2009.

One Response to “Residivis jadi Asisten Dosen”

  1. Pertamax … hehehe …
    Sip…sip … kang
    Kang Trend bisa membalik situasi, sehingga RCD bisa berubah menjadi semangat yang melecut Kang Trend dikemudian hari

    Dan kang trend terbukti tahan banting …
    Bukan begitu …

    Salam saya …
    pis too … hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: