BLAJAR BRANI!!! BERSAMA IBRAHIM AS

 

Saya merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana program Muharam Salman ITB. Hari Minggu kemarin saya berkesempatan mengisi acara Dialog Tokoh di Gedung Serbagunanya. Pada saat itu saya berkesempatan mempresentasikan konsep Hijrah Road Map (HRM) yang sudah saya susun. Konsep HRM itu skemanya menjadi header dari blog ini.

Gedung Serba Guna Salman ITB ini memang didukung tata suara yang baik dan ditambah dengan tampilan layar besar di belakang panggung yang bisa menangkap gambar infocus dengan ukuran besar. Sehingga materi presentasi yang mengandalkan tampilan grafis, animasi, film dan back-sound ini menjadi tampil maksimal seperti di bioskop 21.

Tapi saya yakin, kehadiran anak-anak muda usia 20 tahunan di acara itulah yang paling membawa aura terbukanya ilmu pengetahuan. Saya bisa merasakan itu. Saya bilang di awal kesempatan berbicara, bahwa sayalah yang lebih membutuhkan pertemuan ini ketimbang mereka. Saya bisa menyerap semangat muda yang masih berlimpah terpancar dari mereka.

Sebagai balasannya mereka boleh menyerap pengalaman dari kami berdua. Saya mengisi acara ini berdua bersama dengan seorang Doktor peneliti yang usianya sama-sama menuju 40.

Ada sebuah pertanyaan yang sangat mungkin dirasakan banyak orang.

Bagaimana membuat kompak pikiran dan hati agar muncul keberanian?

Sebuah pertanyaan typical anak muda.

Ada keberanian, ada kehati-hatian dan ada keraguan.

 

Anda harus blajar brani sedini mungkin!

Saya slalu ingin teriakan itu kepada anak-anak muda yang saya temui.

Secara saya yang sudah melampaui banyak tahun dan banyak kesempatan selalu merasa perlu berpesan. Bahwa anak muda harus lebih banyak melakukan sesuatu. Terkadang tak perlu mikir panjang. Karena usia dan kesempatan mereka masih panjang.

O iya, tanpa perlu kebanyakan mikir.

Saya yakin dengan pemikiran ini.

Kalau perlu, singkirkan peribahasa pengalaman adalah guru terbaik.

Lakukan saja!

Lakukan lagi!

Lakukan terus!

Agar suasana mencekam ketika memulai sesuatu yang baru semakin sering anda alami. Kemudian urat saraf kita terbiasa menerima kejutan hal-hal baru.

Lantas, bagaimana dengan resiko yang tidak kita fahami sebelumnya?

Kita bisa belajar keberanian dari inspirator terbesar, Ibrahim as.

Apa rahasia keberanian itu?

Baik kita telusuri.

 

Ibrahim as bukan sekedar merusak patung. Tapi ia merusak tatanan nilai yang dianggap sakral pada saat itu. Demi menegakkan yang benar. Dimana hari ini banyak orang tidak peduli dengan kebenaran. Apalagi memperjuangkan dan berkorban untuknya.

Ibrahim as bukan sekedar meninggalkan anak dan istri dan pulang sore atau larut malam. Tapi beliau meninggalkan keluarganya untuk waktu yang jelas tidak pasti.

Ibrahim as bukan sekedar meninggalkan anak dan istri yang tetap ditemani televisi dan bahan makanan yang siap di masak bahkan sejumlah cemilan siap santap. Tapi beliau meninggalkannya di gurun pasir yang jelas tidak ada sumber makanan.

Ibrahim as bukan sekedar melakukan penyembelihan yang resikonya kecil saja, yakni terkurangnya uang kita seharga kambing. tapi beliau akan memeninggalkan seorang Ismail seorang anak yang didamba dan sholeh pula.

Ibrahim as bukan sekedar bersunat dan merasa yakin tidak terjadi apa-apa karena sudah terbukti di sepanjang zaman bahwa semua selamat saat bersunat.

 

Semua yang dilakukan oleh beliau adalah sesuatu yang luar biasa yang sebelumnya tidak pernah ada. Suasana mencekam pasti akan sedemikian dirasakan dan bisa menggoyahkan pendirian.

Bisa kita lihat disitu, tidak ada perhitungan apapun yang mendukung Ibrahim as melakukan semua itu. Ketika beliau akan menyembelih anaknya yang dicintai dan sholeh pula, tidak pernah terbayangkan skema penggantian dengan seekor kambing. Yang pasti dalam benaknya adalah mengorbankan anaknya.

Iya, yang pasti adalah kehilangan anaknya.

Inilah rahasia terbesar dari keberanian dan pengorbanan.

Ibrahim as menjadi berani dan siap berkorban karena untuk Tuhannya.

Tidak ada yang lebih besar dan lebih berbahaya selain itu semua dalam genggaman Tuhan. Dan segalanya siap diberikan untuk Tuhan. Ini adalah bukti cinta. Sebuah paradok yang nyata di hadapan mata.

Ibrahim as meninggalkan mereka semua untuk pergi kepada Tuhannya, untuk menemukan cinta-Nya.

Ibrahim as berani melakukan itu semua dan siap dengan pengorbanannya karena yakin akan pemeliharaan Tuhannya.

Jadi pangkal keberanian adalah iman. Keyakinan yang luar biasa kepada Tuhan akan membuat keberanian menjadi tidak terbatas besarnya. Semua menjadi tampak kecil dan tidak berarti. Sehingga keberanian sebenarnya bagian dari ujian keimanan.

Inilah visi. Dan visi terbaik kita adalah menuju Allah swt, Tuhan kita.

Tunjukkan keberanian untuk membuktikan ada iman.

Lakukan segala sesuatu dengan luar biasa untuk berjalan menemukan cinta sejati. Bukan untuk sekedar memuaskan hati. Apalagi hanya untuk sepotong rezeki yang menanti tidak pasti. Maka keberanian itu muncul dan segala halangan, rintangan dan tantangan menjadi kecil tak berarti.

~ by VIQEN on January 19, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: