BISNIS PALSU

  

Saya sepakat dengan pendapat seorang teman soal terlalu mudahnya kita mengakses berita. Dengan itu pikiran kita terlalu sibuk, hati kita juga bisa terinfeksi isi berita. Dan mungkin saja, titik fokus pandangan dan tindakan kita juga menjadi blur. Jauh-jauhnya bisa membuat kita menjadi orang yang fesimis.

Ditengah bersliweran berita tentang krisis, kriminalitas, dan segala berita tentang kemunduran lainnya, terasa sejuk ketika mendengar sebuah rangkaian kata bijak.

Tanadi Santoso, kembali saya dengar cerita bijaknya pagi ini. Biasanya cukup membuat saya bilang sepakat dan manggut-manggut.

Tapi ceritanya kali ini membuat saya sampai senyum-senyum agak sumringah dan beberapa kali bilang, bener kan, bener kan…

 

Sudah pernah baca posting saya tentang walarabba?

Lihat sekali lagi walarabba.

Iya walarabba.

Dan bukan waralaba.

Saya cerita tentang krisis ini yang merusak sendi-sendi bisnis. Dan hancurlah kepercayaan kita kepada bisnis-bisnis yang ada ini.

Apakah ini hanya sebuah fenomena yang datang dan akan berlalu?

Saya pikir sangat tidak mungkin Tuhan salah perhitungan.

Atau saya pikir juga, sangat tidak mungkin Tuhan bermaksud menyiksa kita.

Ini hanya sebuah sarana bagi kita berpikir dan kembali berpikir untuk menemukan hidup secara lebih benar. Ini hanya sebuah kesempatan bagi mereka yang jeli untuk menemukan pelajaran dan membuat arah perbaikan.

Apakah pelajaran itu?

Pelajaran itu adalah; bagaimana peradaban manusia kita kali ini membuat wajah bisnis ini.

 

Pelajaran ini saya temukan kebenarannya ketika mendengar cerita yang disampaikan Tanadi Santoso pagi ini.

Di you tubs dia sempat lihat iklan-iklan bir di Amerika. Sungguh menarik dan lucu-lucu katanya. Tapi dia sampaikan sebuah poin, bahwa yang tampil dalam iklan itu adalah palsu. Yang minum bir dalam tayangan iklan itu tidak minum bir beneran.

Lho kenapa begitu?

Karena di negeri Obama ini ada peraturan untuk tidak boleh minum bir ketika melakukan kegiatan. Jadi mereka yang lagi bekerja memperagakan iklan bir tidak boleh sambil minum bir.

Lucu kan?

Makanya saya sampai senyum-senyum agak sumringah dan beberapa kali bilang, bener kan, bener kan…

Gimana ngga lucu. Coba bayangkan, saat si bintang iklan ini diambil gambar peragaan lagi minum-minum terus mabok beneran. Apa itu ngga repot? Lho sangat mungkin kan dia mabok? Setidaknya pusing-pusing gitu? Gara-garanya kan bisa cukup logis, karena pengambilan gambar yang berulang-ulang, sehingga dia harus nenggak lagi dan nenggak lagi.

Jadi tidak usah ada aturan pelarangan minum bir sambil melakukan kegiatan lain juga sudah kegambar pusingnya.

 

Tapi jangan ambil pusing soal iklan minuman bir itu. Kita akan coba ambil pelajaran buat krisis yang tengah menimpa kita.

Sekali lagi, pelajaran itu adalah; bagaimana peradaban manusia kita kali ini membuat wajah bisnis ini.

Ternyata kita banyak dilingkupi bisnis palsu. Bisnis dengan dampak manfaat yang semu dan palsu. Yang kemudian dikemas menjadi bisnis yang prospek. Tentu saja kemampuan manusia dan teknologi sangat mungkin membuat itu semua terjadi.

Akhirnya lahirlah sebuah bisnis yang melayani manusia untuk sebuah aktifitas yang akhirnya dilarang juga atau setidaknya dibatasi juga. Mengemukalah sebuah bisnis yang prospektif dan berkinerja baik untuk tujuan akhir dari bisnis ini adalah pelarangan.

Kalaupun bukan pelarangan, bisa saja bentuknya adalah peringatan. Coba tengok iklan rokok.

Apa kita akan merasa tenang dengan bisnis serupa itu?

Maka krisis ini memberikan pelajaran kepada kita tentang mana bisnis palsu itu. Bagaimana rapuhnya bisnis palsu ini. Dan sedemikian mengguritanya bisnis palsu dalam peradaban kita ini. Saat inilah kita merasakan kehancuran dari keberadaan bisnis palsu ini.

 

Bagaimana mengembalikannya?

 

Kita kembali kepada yang hakiki. Bahwa kita berbisnis untuk membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik yang diinginkan Tuhan sang pemelihara. Ketika bisnis kita melayani sifat memelihara dari Tuhan, maka bisnis ini prospektif.

Ketika kenyataannya bisnis ini tidak prospektif, maka perjuangan kita membuatnya menjadi bisnis propektif adalah sebuah kebaikan yang luar biasa. Dan kita akan menjadi seorang penemu dan pelopor bisnis prospektif yang umur manfaatnya seiring dengan sifat memelihara Tuhan yang akan semakin nampak dan semakin dirasakan semua manusia.

Pilih betul bisnis yang paling sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan perjuangkan bisnis ini dengan investasi dan kerja kita untuk menjadikannya bisnis prospektif. Maka perjuangannya akan selalu menjadi kebaikan kita yang bisa menjauhkan kita dari segala keburukan krisis ini. Bahkan sebaliknya mengangkat kita kepada kemuliaan tertinggi.

Maka rubahlah paradigma berbisnis kita dari waralaba yang mengistimewakan laba, menjadi bisnis walarabba yang loyal kepada Sang Maha Memelihara.

~ by VIQEN on January 24, 2009.

6 Responses to “BISNIS PALSU”

  1. “Maka rubahlah paradigma berbisnis kita dari waralaba yang mengistimewakan laba, menjadi bisnis walarabba yang loyal kepada Sang Maha Memelihara”

    SETUJU …

  2. Mmmm setuju banget…

    Nice post🙂

    Semoga dengan tulisan ini mengingatkan kita kembali akan hakiki berbisnis🙂

  3. Walah kang, tulisan ini membuat saya kena semprot untuk yang kedua kalinya.
    Baru kemarin ada teman mengingatkan saya untuk memulai segala sesuatu dengan “bismillah”. Peringatan sepele dan sudah sedemikian seringnya terucap di bibir. Tapi rupanya kadang (bagi saya) tak sampai merasuk ke hati dan teraktualisasi dalam tindakan (aksi).

    Hatur nuhun.

  4. Ah, Mas Andri ini bener-bener deh.
    Aku suka dengan tulisan-tulisanmu yang selalu punya sesuatu yang bisa dibuat bahan pemikiran..

    Orang sering terjerumus pada materi saja dan melupakan bahwa bisnis yang memberinya materi ini tidak akan menggiringnya ke arah yang lebih baik, kelak di akhir jaman.

    Makasih buat renungannya, Mas.
    InsyaAllah ketemu di Bandung, ya..

  5. saya sih memang tidak bakat bisnis…
    bisanya hanya mengabdi hehehe
    EM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: