BELI TAWA

 

Temen saya komplen, empat hari habis-habisan berkutat dengan angka, data dan berbagai perhitungan, ternyata hanya berujung di acara presentasi yang berjalan tidak lebih dari dua jam.

Saya memang ikuti betul, bagaimana long weekend kemarin beliau terus masuk kantor. Ngga Sabtu, ngga Minggu, ngga juga Senin yang ceritanya libur resmi. Semuanya dilalap habis sama kerjaan proposal itu.

Tragis, semuanya berakhir dengan tidak lebih dari dua jam. Ya dua jam saja. Yang membuat dia tambah kesel adalah, presentasi itu lebih banyak ketawa ketiwinya. Dibandingkan membedah hitung-hitungan yang sudah sedemikian susah disusun. Tambah kesel kan.

Sampai dia menggerutu panjang lebar dan mencoba mengatur posisi duduk yang nyaman di kursi tamu ruang kerja saya. Biasa, siang-siang gini mencari tempat untuk menghabisi makan siangnya.

Menggerutu sih menggerutu, tapi soal makan jangan sampai terganggu. Kenapa? Iya, bayangin saja, menggerutu pakai mulut, makan juga pakai mulut, iya kan? Jadi pilih salah satu. Mulut juga butuh ketegasan dalam bersikap.

Akhirnya untuk menghibur hati yang gundah saya bilang, justru perjuangan empat hari itu yang membuat suasana ceria penuh tawa dalam presentasi tadi. Mungkin karena sudah cukup percaya dengan sekilas hitungan kita, akhirnya mereka merasa bahagia. Toh mereka juga sudah mempelajari kredibiltas kita sebelumnya kan.

Maksudnya, segenap perjuangan empat hari yang mengorbankan semua kesenangan weekend itulah yang menghadirkan kegembiraan para mitra bisnis ini. Tentu saja melalui kegembiraan yang tercipta itulah mereka memutuskan sesuatu tentang investasi.

Ya, pengorbanan itu ditunaikan untuk membeli tawa dan gembira. Sehingga membuat keputusan yang berarti buat kita. Intinya bagaimana kita membeli tawa untuk sebuah suasana yang positif.

 

Saya jadi ingat, kemarin saya jemput ibu saya dari lapangan tenis. Tentu habis main tenis dong, masa maen petak umpet. Yang datangnya saja teman-teman ibu dan bapak saya koq. Hampir semuanya pensiunanan.

Ibu saya cerita, ada seorang bapak yang selalu membagi sebotol minuman untuk semua yang datang. Tidak tanggung-tanggung, yang dibagikannya juga minuman yang ada rasanya. Bukan air putih semata. Pokoknya layanan prima deh.

Saya pikir luar biasa yah.

Tapi ada yang lebih luar biasa lagi. Katanya, dia mengajak acara tenis bareng ini ditambah harinya jadi dua kali seminggu. Dan dia siap bayarin sewa lapangnya, yang indoor dengan fasilitas yang cukup lumayan ini.

Saya selidiki lagi dengan bertanya lebih lanjut ke ibu saya, ada motivasi apa dibalik keinginan si bapak ini menghambur-hamburkan uangnya. Setelah melalui beberapa tahap tanya jawab, dapat disimpulkan bahwa si bapak yang pensiunan ini merasa bahagia dengan suasana penuh canda tawa saat main tennis ini.

Ya, kembali, pengorbanan ini ditunaikan untuk membeli tawa dan gembira. Karena tawa ternyata menjadi kebutuhan primer kali yah. Ditengah suasana mencekam akibat tema krisis, tema Gaza, dll.

Apalagi ditambah dengan setting cerita kehidupan kaum pensiunan. Lengkap sudah sebuah situasi yang haus akan tawa dan ceria.

Anda membutuhkan tawa?

Silakan beli tawa, dan rasakan kembali menjadi balita.

~ by VIQEN on January 28, 2009.

8 Responses to “BELI TAWA”

  1. Sama ketika kita makan…
    Anda bayangkan berapa lama masakan yang di masak bila dibandingkan dengan berapa banyak waktu kita untuk menghabiskan masakan tersebut…!
    Tentunya butuh waktu lebih lama untuk membuat masakan ketimbang menghabiskan masakan tersebut hanya dalam beberapa menit saja…😀

  2. Tertawalah karena tertawa dapat melegahkan hati. Membuat dada terasa plong.

  3. Mahal ya Kang Tertawa itu ?

    hehehe …

  4. harga untuk sebuah tawa adalah membuat orang lain bahagia dan tersenyum…dengan begitu kita tidak perlu membeli kok karena otomatis kita akan bisa tertawa dengan lepas

  5. waduhhh mahal amat ya…🙂

    Mmmm… kalo blogwalking trus baca-baca postingan yg lucu-lucu khan jadi ketawa tuch kang, apa ya itu termasuk membeli tawa juga???
    Internetnya khan bayar juga ya? mikirsambilgarukgarukkepala.com

  6. untuk orang modern macam org jepang
    Tertawa itu benar-benar mahal. Karena kondisi membuat kita jadi individualis dan pesimis. Dulu waktu saya banyak mengajar dan bertemu orang, saya lebih banyak tertawa dibanding sekarang (lebih banyak di rumah). Dan untuk bergaul memang butuh uang. Paling sedikit transportasi. Kalau tertawa memang paling enak ada temannya. kalau tertawa sendiri itu harus hati-hati hehehhe.
    Kunjungan perdana dan salam kenal pak!
    EM

  7. berarti…saya harus banyak2 ketawa mulai sekarang

  8. bl;ue butuh tawa akang………….maaf ya kang blue baru sapa akang.
    jangan marah janji OK
    salam hangat selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: