MERAH PUTIH

Menjelang pemilu ini perdebatan dan persaingan antara nasionalis dan religius atau partai Islam dan partai nasionalis terus mengemuka. Ada yang terus dengan warna kental Islamnya, atau warna kental nasionalisnya. Tapi ada juga yang mencoba ketengah. Menjadi partai yang nasionalis religius, atau partai Islam yang nasionalis. Atau partai nasionalis berbasis masa religius.

Ada yang terasa menyekat antara negara dan Islam. Mungkin karena mereka yang nasionalis tidak peduli dengan keislaman. Mungkin juga karena mereka yang ingin berislam dengan baik, ternyata belum lengkap keislamannya. Ya, saya katakan belum lengkap keislamannya. Keberserahan dirinya belum sempurna.

Islam yang bermakna berserah diri seharusnya melahirkan manusia yang paling mudah diterima bumi dan seluruh semesta raya ini. Termasuk diterima seluruh jenis makhluk bumi. Ya, diantaranya adalah manusia. Seorang muslim yang paripurna penyerahan dirinya, ia akan dengan sangat mudah diterima dan menerima manusia jenis apapun di muka bumi ini.

Muhammad saw adalah sosok untuk figur seperti itu. Beliau diterima oleh orang Quraiys sebagai pebisnis, sebagai tokoh masyarakat, dsb. Kemudian dia diterima di Yatsrib, bahkan oleh dua suku yang berada dalam konflik yang berdarah dan berkepanjangan.

Kemudian dalam perkembangan berikutnya, penerimaan terhadap beliau terus meluas ke seluruh jazirah Arab. Sebuah wilayah yang panas dan keras. Dengan kebiasaan dan adat istiadat yang panas dan keras dari masyarakatnya. Yang begitu mudah tersulut untuk perang dan konflik.

Kalau kehadiran seorang muslim ditengah pergaulan masyarakat ini masih lebih melahirkan perseteruan, daripada kedamaian, keharmonisan, dan kemajuan hidup, maka mari kita instospeksi diri, demikiankah figur seorang muslim yang rahmatan lil ‘alamin itu?

Momentum pemilu 2009 ini adalah saat yang tepat untuk melepas segala atribut yang menyekat masing-masing diri kita dalam berbagai perbedaan. Seorang nasionalis dan seorang religius adalah warga negara Indonesia yang mencintai negerinya yang akan membangun Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan bangsa lainnya.

Tidak ada perbedaan antara negara dan Islam, karena warna identitas keduanya adalah sama. Berikut ini kutipan tentang itu. Selamat menjadi merah putih untuk Indonesia jaya!!!

 

Sang Merah Putih Bendera Rasulullah saw

Prihandoyo Kuswanto wrote on January 31, 2009 at 7:50pm

Sang merah putih Bendera Rasulullah saw. Sebagian umat Islam sukar untuk mengerti bahwa bendera Rasulullah saw terdiri dari dua unsur warna Merah Putih. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya sistem deislamisasi dalam penulisan Sejarah Indonesia.

Dampaknya dikisahkan Merah Putih bukan warna bendera Rasulullah saw. Penulisan yang demikian itu untuk mendiskreditkan umat Islam. Padahal Sang Saka Merah Putih berasal dari bendera Rasulullah saw yang dikembangkan oleh umat Islam Indonesia, sejak abad ke-7 hingga menjadi milik bangsa dan negara Indonesia. Tentu sukar memahaminya.

Baiklah di sini kita kaji kembali penuturan Imam Muslim dalam Shahihnya Kitab al Fitan, Jilid X, hlm. 340, dari Hamisy Qasthalani yang memperoleh beritanya dari Zubair bin Harb, Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna, Ibnu Basyayar, Mu’adz bin Hisyam, Qatadah , Abu Qalabh, Abu Asma’ Ar Rahabiy, Tsauban bahwa Rasulullah saw bersabda:

Innallaha zawalliyal ardha – Sesungguhnya Allah memperlihatkan dunia kepadaku Masyariqahaa wa magharibahaa. – Aku ditunjukkan pula timur dan baratnya. Wa a’thoniil kanzaini: Dan aku dianugrahi warna yang indah Al Ahmar wal Abyadh Merah Putih.

Tentu umat Islam Indonesia mengenal ajaran Merah Putih tersebut, sejak awal masuknya agama Islam ke nusantara pada abad ke-7M. Sejak itu pula umat Islam akrab sekali dengan warna merah. Tidak tabu terhadap warna merah seperti sekarang ini. Karena Islam juga mengajarkan bahwa istri Nabi dari Nabi Adam as hingga Rasulullah saw disebut merah. Misalnya Siti Hawa ra artinya Merah. Menurut Ismail Haqqi Al Buruswi dalam Tafsir Ruhul Bayan, menjelaskan bahwa Hawa sama dengan Hautun artinya Merah. Dan Siti Aisyah ra sering dipanggil oleh Rasulullah saw dengan Humairoh artinya juga Merah.
Oleh karena itu, para ulama pendahulu di Indonesia, dalam membudayakan dan mengabadikan warna Merah Putih, antara lain melalui enam upacara:

(1)                 Setiap pembangunan rumah, pada kerangka atap suhunan dikibarkan Merah Putih, Dengan harapan memperoleh syafaat dari Rasulullah saw.

(2)                 Pada setiap Tahun Baru Islam atauTahun Hijriah diperingati dengan membuat Bubur Merah Putih.

(3)                 Pada saat pemberian nama anak, juga dengan disertai pembuatan Bubur Merah Putih. Mengapa?

Bubur Merah Putih, saat bayi dilahirkan sebagai lambang darah ibu (QS 96:2). Selama 9 bulan 10 hari dalam rahim, bayi mengonsumsi darah ibu Merah warnanya Setelah lahir masih tetap membutuhkan darah ibu, Asi( air susu ibu), selama 20 bulan 20 hari. Warnanya Putih. Dengan demikian, seorang anak bayi membutuhkan darah ibu yang berwarna Merah dan Putih selama 30 bulan (QS 46: 15).
Apakah terkait dengan pengertian di atas ini pula, maka plafon Ka’bah berwar na Merah, dan Lantai Ka’bah berwarna Putih.

(4)                 Dalam pengucapan kata pengantar disebutnya dengan lambang Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Kapur dan sirih akan menghasilkan warna merah. Dan pinang yang diiris akan menampakkan warna putih. Jadi kata Sekapur Sirih dan Seulas Pinang bermakna Merah Putih. Di masyarakat Islam Minang akrab dengan warna Merah. Demikian pula busana kebesarannya dan busana penarinya menam pilkan warna Merah atau warna emas.

(5)                 Di kalangan masyarakat Islam Sunda menyatakan rasa gembira dan syukur, dengan bahasa simbol seperti kagunturan madu -memperoleh madu dan karagragan menyan bodas -kejatuhan menyan putih. Madu sebagai lambang merah. Dan menyan putih, jelas simbol warna putih yang harum. Jadi, makna kedua hal tersebut adalah Merah Putih. Dan sebaliknya untuk melambangkan jiwa yang serakah terhadap materi atau uang, maka disebutnya bermata hijau.

(6)                 Para Walilullah menuliskan Alquran, pada penulisan Allah dan Asma Pengganti-Nya, dengan warna merah di atas lembar kertas yang putih warna nya.

 

~ by VIQEN on February 2, 2009.

One Response to “MERAH PUTIH”

  1. HHmmm …
    Menarik juga tulisan Pak Prihandoyo itu ya Kang …

    Ma kasih ya kang ..
    Ini pengetahuan baru bagi saya …

    Salam Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: