DAMAI LEBIH PENTING DARI MENANG

 

Ketika tank-tank Israel itu telah diledakkan, konon katanya orang-orang Palestina membiarkan mereka memungutinya dan membawanya kembali pulang.

Lho kenapa ngga direbut?

Dan kenapa tidak ada keinginan untuk menyerang mereka?

Menghabisi mereka?

Apakah tidak nampak keinginan merusak dari mereka?

Jawaban dari mereka cukup sederhana,

”KAMI TIDAK DIPERINTAHKAN UNTUK ITU”

Mereka cukup memiliki kesempatan untuk melakukan lebih dari itu. Dan mereka cukup punya alasan untuk melakukan itu. Namun mereka tidak melakukan itu.

Mereka tidak melakukan itu.

Kenapa tidak melakukan itu?

 

Karena Tuhan mengajarkan peperangan kepada Muhammad saw untuk membuat pemahaman tentang perdamaian.

Perang untuk perdamaian.

Bagaimana mungkin?

Hal ini dibahas pada tulisan berjudul Peran Perang Rasulullah dalam Memerangi Era Perang.

Sebuah pelajaran berharga dari pertarungan yang dilahirkan dari bau mesiu dan asap kehancuran. Menyeruak membuka sebuah pemahaman yang begitu tertutup dengan ekspos media, tertutup dengan hingar bingat dentuman bom, bahkan terjadang tertutup dengan debat di kaki-kaki argumen yang ditopang oleh berbagai kepentingan.

Pelajarannya adalah, kekuatan bukan untuk berbuat semena-mena. Kalau musuh menyerah atau ingin damai, maka damailah. Biarlah segala kerusakan yang pernah dilakukan sehancur apapun kita anggap tidak ada. Demi sebuah perdamaian.

Kita kembalikan semuanya kepada Tuhan. Kita harus ikatkan semua itu kepada kehendak Tuhan sepenuhnya. Walaupun itu berisi tipu daya. Walalupun itu merugikan kita. Walaupun itu semua menyisakan rasa sakit. Kita kembalikan kepada Tuhan yang menghendaki peperangan itu dan yang maha berkehendak atas perdamaian yang menjadi akhirnya.

Sekali lagi, walaupun merugikan.

Seperti perjanjian Hudaibiyah.

Disaat Muhammad saw akan menemukan kemenangan, tapi pihak lawan meminta damai, maka dihentikanlah peperangan.

Walaupun hampir menang.

Bahkan walaupun kemudian perjanjian itu banyak merugikan. Sampai sahabat sekelas Umar bin Khathab pun kecewa dan protes.

Bahkan kemudian perdamaian ini membuat sedikit keributan akibat beda pendapat.

Bahkan walaupun kemudian perjanjian itu dikhianati.

Tetapi peperangan harus diakhiri ketika ada permintaan damai.

Harus diakhiri.

Dengan perdamaian kebenaran menemukan caranya untuk mendapatkan kemenangan.

Kebenaran menemui kota Makkah setelah Muhammad melakukan perjanjian Hudaibiyah yang konon banyak merugikan.

Titik pentingnya adalah pada menyerahkan semua urusan kepada Tuhan. Sekalipun kejahatan ingin menipu, tetapi ketika mereka inginkan berdamai, maka tempuhlah perdamaian itu. Karena pertempuran setelah permintaan damai hanyalah sebuah hawa nafsu yang menghancurkan.

 

Saatnya bangsa ini belajar untuk memikirkan perdamaian di atas kemenangan kelompok apalagi individu. Siapa yang menemukan ini maka ia akan menjadi seseorang yang bagaikan Ibrahim menemukan ka’bah.

Bagaikan Ibrahim menemukan ka’bah.

~ by VIQEN on February 13, 2009.

3 Responses to “DAMAI LEBIH PENTING DARI MENANG”

  1. sepertinya kalau belum menemukan kedamaian di hati sendiri, manusia cenderung berusaha mencari dari hal / orang lain, walaupun sebenarnya hanya ilusi. maka terjadilah perang…

  2. blue datang di bulan penuh cinta tuk akang.LOve U
    salam hangat selalu
    maaf baru datang heheh…………
    met valentinan dach kang hoihihi……..

  3. Perdamaian perdamaian … perdamaian perdamaian [Gigi Mode ON]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: