Hidup Hanya Berisi Pertarungan

Ya, Kehidupan diciptakan Tuhan memang untuk sebuah pertarungan.

Tapi sungguh luar biasa rencana Tuhan atas itu. Dibalik pertarungan yang selalu bermakna kerusakan, kehancuran dan kesemena-menaan, ternyata Tuhan tengah mencari makhluk-makhluknya yang pengasih dan penyayang.

Ya, itulah rahasia yang harus kita rengkuh.

Bagaimana mungkin?

Tragedi Gaza yang kita lihat begitu luluh lantak dan hancur-hancuran, menyisakan sebuah semangat kemanusiaan yang luar biasa. Banyak pihak yang kemudian tergerak dan bergegas bahu membahu menunjukkan simpatinya.

 

Ketika saya terserang flu agak berat kemarin, terpaksa saya menahannya. Biasanya ketika terasa flu sedikit, demi menjaga badan tetap fit, saya langsung pergi ke dokter. Maklum, rasanya ga siap kalau harus ninggalin kerjaan terlalu lama.

Dokter yang biasa saya kunjungi ini memang berbeda. Saya disembuhkan Tuhan. Dan Dia menggerakkan tangan dokter ini untuk menusuk-nusuk beberapa bagian badan saya. Terasa sakit sekali memang. Tapi kemudian badan segar dan besoknya segar lagi.

Kali ini, ketika terasa flu dan pekerjaan tidak mengenal kompromi, saya ga bisa menemui pak dokter ini.

Beliau tengah berangkat ke Palestina.

Ke Palestina?

Ya!

Badan yang tengah terasa demam seperti berdesir dialiri segalon darah segar. Dan rasa pusing yang semula mendera seperti terserap keluar dari ubun-ubun.

Maha Suci Engkau Tuhan…

Konon saya dengar, keahlian pak dokter sangat diminati di sana. Karena pengobatan dengan tangannya ini memang terbukti efektif. Sekali lagi atas izin Tuhan tentunya.

Tentu saja pak dokter juga pulang membawa sebuah pelajaran berharga dari mereka. Teramat berharga.

Ketika sebuah bom meledak dekat dengan tempat pak dokter menangani pasiennya, terasa begitu mengagetkan dan membuat keadaan seperti terjadi sebuah gempa bumi.

Serta merta pak dokter mengajak pasien untuk berlari masuk ke terowongan bawah tanah. Namun dicegah sang pasien.

”Teruskan saja dokter, tenang saja. Semua bom itu sudah ada alamatnya.”

Kita sudah sering dengar soal alamat-alamatan begitu. Tapi kalau itu diucapkan bersamaan saat bom itu meledak, bagaimana rasanya ya?

Belum hilang kaget, sang pasien kembali berbicara.

”Saya kemarin berada disuatu tempat, kemudian berpindah. Sekira lima menit kemudian ditempat saya tadi berdiri meledaklah sebuah bom di situ.“

Waduh, ini lebih ngeri lagi pikir pak dokter ini. Pak dokter mulai merasa merinding. Tapi kemudian lebih merinding lagi…

”Saya menyesal sudah berpindah dari tempat itu…”

Kematian yang banyak orang merasa takut atas itu, tidak ditemui di sana. Memahami kehidupan dengan benar membuat mereka siap untuk menghadapi kematian.

Disana kerap ditemukan korban-korban yang tersenyum, menampakkan seperti cahaya dari sekitar matanya, dan wangi yang begitu semerbak. Tanda-tanda kesyahidan yang bisa membuat kita iri dan harus membuat kita takut bila tidak kebagian.

 

Tidak ada yang salah dari apapun penciptaan Tuhan. Dan itu juga bukan karena Tuhan salah mencipta. Tapi hanya sebuah sarana kita menemukan sebuah keinginan mulia dari Tuhan untuk kita. Sebuah makna kasih sayang dapat tersingkap ketika suara hati kita tersentuh. Dan muncul sebagai gerakan.

Sang pasien mendapatkan simpati dari dokter dan dunia ini. Sang dokter mendapat pelajaran tentang hidup di dunia ini.

Itu semua didapat karena kasih sayang Tuhan, hakikatnya. Namun jalannya melalui ngerinya sebuah pertarungan yang mencabik rasa kemanusiaan kita.

 

~ by VIQEN on February 13, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: